it’s about all word’s

Belajar dari media besar AS

Posted on: February 22, 2008

Judul: The New York Times
Menulis Berita Tanpa Takut atau Memihak
Penulis: Ignatius Haryanto
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Juli 2006
Tebal: 120 halaman

Ada rasa penyesalan di hati saya saat tidak bisa memenuhi undangan peluncuran dan diskusi buku karya Ignatius Haryanto ini. Pasalnya, judul buku karya mantan wartawan Tempo ini mencantumkan nama sebuah koran besar yang jadi panutan banyak pekerja pers.

Saat saya menerima buku setebal 120 halaman ini rasa menyesal itu tidak lagi mengelayuti. Bagaimana bisa? Sepintas dari fisiknya saja buku ini jauh dari meyakinkan untuk sebuah karya yang membahas koran tertua di AS.

Selain tipis dan bersampulkan foto keremangan nan megah Big Apple masa lalu, penempatan gambar menara kembar WTC yang sudah tumbang dihajar pesawat semakin membuat buku tersebut menjadi bagian dari masa lalu.

Apalagi pikiran saya sudah telanjur teracuni buku The Kingdom and The Power karya Gay Talese, mantan wartawan New York Times, yang akrab berkisah tentang sejarah, prestasi, dan kehidupan orang-orang di koran yang didirikan Adolph Ochs itu.

Namun, dengan gaya penulisan sastrawi yang lancar, mengalir membuat buku tipis ini asyik untuk dinikmati meski sekapur sirih penulis, menurut saya, terlalu panjang.

Susunan buku ini cukup menarik perhatian. Haryanto tidak menempatkan kisah sejarah Times yang sudah habis diganyang buku-buku lain. Dia justru menyuguhkan kasus berita palsu wartawan muda Jayson Blair pada April 2003.

Kebetulan industri pers Tanah Air sedang diramaikan oleh kasus berita fiktif Lapindo di Rakyat Merdeka (RM) Juni 2006 dan wawancara imajiner dengan istri teroris Doktor Azahari di Jawa Pos (JP) pada akhir 2005.

Kasus berita fiktif di Times, RM dan JP langsung memberikan benang merah yang jelas yaitu integritas dan kebesaran hati mengakui kekeliruan adalah tuntutan mutlak bagi industri yang bergerak di bidang informasi.

Bahkan karena kasus ini Times sampai harus merombak struktur keredaksian dan beberapa kode etik hingga mendirikan public editor yang akan menampung keluhan dan kritik dari pembaca terhadap berita yang mereka muat.

Selain integritas yang dijunjung tinggi, Adolph Ochs sebagai pendiri Times sejak awal menekankan kepentingan publik tanpa ada keinginan untuk memihak atau takut terhadap konsekuensi yang harus ditanggung dari kebenaran yang disebarkan.

Dengan slogan “… to give the news impartiality, without fear or favor, regardless of party, sect or interests involved.” Jelas Times sejak awal Oktober 1896 memang dimaksudkan untuk menggebrak dominasi surat kabar kuning.

Sayangnya, setelah memeloti buku ini, saya tidak menemukan satu pun keberanian Times untuk berhadapan dengan lobi jahat Yahudi di AS, yang kebetulan merupakan etnis keluarga Ochs-Sulzberger. Jadi untuk siapa slogan tersebut?

Bisnis Indonesia Edisi: 13/08/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: