it’s about all word’s

Chris Lowney: Jesuit management

Posted on: February 22, 2008

Sukses dengan manajemen kepemimpinan ala Jesuit

Sejauh ini manajemen masih berkutat dan mengacu pada teori manajemen modern yang berasal dari Barat (Eropa dan Amerika) yang cenderung mengasingkan manusia dari manusia di sekitarnya. Lalu, manajemen apa yang cukup manusiawi?

“Jika Anda teliti, tiap kali kita pergi ke toko buku maka ada kesan terjadi monopoli nilai-nilai manajemen ala Amerika begitu perkasa, selalu benar dan patut ditiru,” ujar Chris Lowney dalam seminar nasional yang bertajuk The Power of Heroic Leadership; To Break The Impossible and Do It beberapa waktu yang lalu di Hotel Grand Hyatt.

Lowney, sejak keluar dari seminari-yang dijalani selama tujuh tahun-langsung bekerja pada JP Morgan dan pernah menjadi Direktur Pelaksana JP Morgan & Co dan menduduki jabatan senior di New York, Tokyo, Singapura, dan London. JP Morgan adalah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang bank investasi, dan berdasarkan peringkat yang disusun oleh majalah Fortune, JP Morgan berhasil berada di urutan pertama sebagai perusahaan mengagumkan di AS.

Lowney mengatakan manajemen modern pada umumnya cenderung menganggap tenaga kerja merupakan faktor produksi belaka sehingga menciptakan manusia yang semakin hari terasing dari kodratnya sebagai makhluk sosial.

Hasilnya adalah manusia-manusia yang bekerja sampai larut malam tanpa ada lagi kesempatan untuk melaksanakan kehidupan sosial dengan lingkungan di sekitarnya. Akibatnya angka stres begitu tinggi hingga berujung pada kejadian bunuh diri.

Memasuki milenium ini, ungkap Lowney, ada kecenderungan untuk kembali ke teori manajemen berdasarkan nilai yang terkandung dalam sumber agama, sebut saja manajemen Islam dan kini manajemen Katolik.

Meski begitu, kedua gaya manajemen tersebut ternyata memiliki hal terpenting yaitu jiwa kepemimpinan. Di dalam Islam disebut sifat ri’ayah. Dalam Katolik pun demikian.

Lowney tak segan-segan untuk mengajak peserta belajar pada manajamen Islam yang sukses mengelola lembaga keuangan dengan cara syariah selama bertahun-tahun.

“Sedang dalam Katolik, Serikat Jesuit terbukti sukses dan bisa bertahan selama 465 tahun. Tidak seorang pun bisa membantah hal itu.”

Dalam seminar yang dimoderatori oleh Kris Biantoro itu menghadirkan Jakob Oetama, Nur Kuntjoro, Jaya Suprana dan tentu saja Lowney, pengarang buku Heroic Leadership: Best Practices from a 450-Yer-Old Company That Changed the World.

Dia mengajak peserta untuk menyelami sukses kepemimpinan Jesuit sebagai hal yang sangat bermanfaat hingga sekarang bagi lembaga bisnis saat ini sekaligus menunjukkan kelemahan yang dimiliki manajemen kepemimpinan masa kini.

Dikatakan sukses, sebab Jesuit berhasil bertahan sampai saat ini dengan 21.000 personel di 2.000 lembaga-utamanya pendidikan-di lebih dari 112 negara di semua benua.

Alumnusnya pun diperhitungkan a.l. mantan Presiden AS Bill Clinton, aktor Denzel Washington, Presiden Meksiko Vicente Fox, Fidel Castro, Francois Mitterand, hingga Chairman Sony Corporation Robert C. Wright.

Pada awalnya kelompok ini berdiri tanpa modal dan perencanaan bisnis (business plan), namun memiliki kultur perusahaan (corporate culture) yang disebut modo de proceder (cara melakukan banyak hal).

Selain itu, menurut Lowney, ada empat sikap yang mendasari individu di lembaga Jesuit yaitu self-awareness (kesadaran pada diri sendiri), ingenuity (kreatif), love, dan heroisme.

Budaya perusahaan

Penelitian modern membuktikan jika lembaga mampu mempertahankan budaya korporasi yang khas, akan sulit pihak lain menandingi lembaga tersebut. “Kalau Anda tidak percaya kultur yang kuat akan membuat perusahaan maju, Anda bisa melihatnya di Ayam Goreng Suharti,” ujarnya sambil disambut tawa peserta seminar.

Dalam Jesuit ditekankan pendapat organisasi berjalan bukan berdasarkan pada komando. Sebab sistem komando terpusat justru memiliki kelemahan kekakuan pengontrolan cabang.

Sejatinya kepemimpinan ada pada individu di setiap lini, di bagian mana pun, yang memegang empat sikap yang mendasari individu Jesuit.

“Teori kepemimpinan baku, yang lebih kurang merujuk pada keberadaan seorang pemimpin puncak untuk mempengaruhi orang lain agar melakukan sesuatu, justru harus dibuang jauh-jauh,” papar Lowney yang meraih predikat summa cum laude dari Fordham University, New York.

Jika dijabarkan, keempat sikap pribadi adalah kesadaran diri, memahami kekuatan dan kelemahan diri, memahami nilai, dan mempunyai pandangan mendunia. Sedangkan kecerdikan berarti kemampuan untuk melihat situasi riil yang berkembang, melakukan inovasi dan beradaptasi di mana pun berada

Sedangkan love (cinta) sama artinya dengan kesediaan untuk terlibat dengan pihak lain dengan didasari sikap positif dan heroisme (kepahlawanan) kemampuan untuk berpikir besar dan kesediaan untuk berkorban, membangkitkan semangat diri dan orang lain.

Jesuit beranggapan cinta lebih hebat ketimbang ketakutan. Atau harapan ditempatkan pada bakat setiap orang dan menegaskan bahwa sukses berasal dari komitmen banyak orang, bukan dari seorang pemimpin tertinggi semata.

Sementara itu, Preskom Kelompok Jamu Jago, Jaya Suprana dan COO Tupperware Indonesia, Nur Kuntjoro mengakui kelemahan dari kepemimpinan di

Indonesia adalah ketika seorang pengikut tidak memiliki keberanian untuk mengatakan hal yang sesungguhnya kepada pemimpin. Padahal, belum tentu hal yang dilakukan oleh seorang pemimpin itu benar.

Menurut Jaya Suprana, hal itu sebenarnya bermuara dari budaya bangsa Indonesia yang individunya diajarkan untuk ‘terlalu baik’ untuk membuat orang lain merasa nyaman sesaat.

“Ajaran di Indonesia yang umum yakni seperti menunjukkan senyuman, kebaikan dan pertolongan. Namun tak berdaya ketika harus mengatakan kepada pimpinan bahwa pemimpin itu berbuat kesalahan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Nur Kuntjoro berpendapat sebelum mengubah suatu perusahaan, kita harus tahu dulu bagaimana mengubah diri sendiri. “Untuk itu pemimpin harus mengetahui strategi untuk mengerahkan pengikutnya sekaligus membuat para pengikut [karyawan] taat melakukan petunjuk yang diberikan.”

Bahkan, lanjut Kuntjoro, yang tidak kalah pentingnya seorang pemimpin didengar oleh pengikutnya. Pertanyaan akan banyak timbul ke permukaan kendatipun banyak pengikut yang tidak berani menyampaikan aspirasinya.

Sebagai jalan termudah setiap pemimpin dapat memberitahukan kepada para pengikut organisasi atau perusahaan mengenai posisi sementara dalam upaya dan alasan menjalankan suatu rencana.

Selain itu, memahami keadaan apakah para pengikut mengerti apa yang dimaksudkan oleh pemimpinnya. “Ada banyak cara untuk membangun orang lain,” sambung Jaya Suprana.

Bisnis Indonesia Edisi: 05/06/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: