it’s about all word’s

Dari rumah sampai Israel

Posted on: February 22, 2008

Natal dirayakan dengan berbagai kegiatan oleh umat Kristiani, tidak terkecuali kalangan eksekutif yang merayakannya sambil berlibur.

Bagi umat Kristiani Natal dirayakan dengan meriah sebagai ungkapan syukur lahirnya Yesus Kristus sang penebus dosa umat manusia.

Meski hingga detik ini tanggal pasti Natal masih terus menyimpan misteri dan kontroversi (ada gereja yang merayakannya 25 Desember, ada pula yang meyakini 6 Januari), toh, apapun perdebatan yang dihadirkan dengan beragam teori, Natal tetap hadir dengan segala keriangannya. Ada pohon terang, Sinterklas, kado, pesta, misa syukur dan tawa untuk keluarga.

Tentu banyak uang yang lalu dimanfaatkan para pebisnis untuk mengambil untung dari keriangan Natal. Mulai dari hadiah, paket merayakan Natal di hotel, perjalanan di dalam atau ke luar negeri.

Salah seorang yang rajin memanfaatkan Natal sekaligus sebagai waktu berlibur bersama keluarga adalah Ryan Kiryanto, ekonom PT Bank BNI (Persero) Tbk yang tiap akhir tahun bersama istri dan ketiga putra-putrinya selalu mengambil paket berlibur ke Bali.

“Tapi tahun ini beda. Mereka [anak-anak] minta ke Singapura atau Sydney. Tapi tahun ini kami pasti ke Singapura,” ujarnya.

Ada pula yang ingin merasakan nuansa berbeda. Sebut saja Lans Brahmantyo, bos Afterhour Group, yang mengaku ketagihan dengan suasana Natal di Timur Tengah.

Tahun ini giliran anak bungsunya yang tengah berusia sembilan tahun, Luigi yang akan mengunjungi Timur Tengah, Israel, dan Yordania bersama nenek dan tantenya.

Diyakininya ziarah ke tempat suci akan mempertebal iman anak bungsunya. “Selain dia suka travelling, ziarahnya juga penting.”

Menurut Lans, biaya US$2.500 per orang untuk ziarah ke Timur Tengah sebanding dengan pengalaman batinnya dalam merayakan Natal.

Ada juga yang justru lebih suka merayakan Natal bersama keluarga di rumah. Sebut saja bos penerbitan Atmo Group, Arswendo Atmowiloto yang mengaku sebagai orang kolot.

“Saya selalu beranggapan Natal harus dirayakan malam hari bersama keluarga besar di rumah, tempat saya bersama istri bisa berkumpul bersama anak dan cucu,” tuturnya.

Bicara soal Natal, Wendo punya pengalaman yang sangat berkesan dan akan selalu dikenang seumur hidup, yaitu saat merayakan Natal di penjara Cipinang 15 tahun silam. Alumnus program penulisan kreatif di Iowa University, AS, ini sempat lima tahun masuk bui.

Natal di tahun pertamanya dihabiskan dalam keheningan karena dia menempati sel isolir. Baru pada 1992 dia bersama rekan-rekannya boleh merayakan malam Natal di ujung malam.

“Aturan penjara jam 18:00 semua tahanan sudah masuk ruangan. Untuk jaminan ada kesepakatan pada penjaga kalau ada yang kabur silakan langsung ditembak mati saja.”

Hal yang sama dilakukan konsultan manajemen Th Wiryawan yang memilih Natal sebagai saat untuk meningkatkan kadar spiritual ketiga anaknya. “Karena ketiganya bersekolah di Singapura, Vietnam dan Prancis, maka Natal adalah waktu yang tepat untuk mengumpulkan mereka.”

Paket tur

Di satu sisi naiknya harga tiket pesawat akibat meroketnya harga bahan bakar berimbas pada sepinya peminat paket Natal dan tahun baru ke Bali.

“Trennya lagi sepi. Turunnya mencapai 50%. Tetapi ini juga akibat kebiasaan orang Indonesia yang suka punya rencana mendadak. Selain itu harus diakui saat ini paket ke Bali cukup mahal,” tutur Direktur Sales Marketing Wita Tour Rudiana.

Tak heran jika kemudian Wita Tour bersikap realistis dengan memasang target tidak setinggi tahun lalu. Itu pun disertai dengan beragam tawaran servis yang menarik.

Singapura–yang tahun ini membidik sedikitnya 3.000 turis Indonesia-juga ketiban apes, dengan lesunya kunjungan wisatawan Natal asal Indonesia ke Negeri Singa ini.

Data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Batam menyebutkan tingkat hunian hotel di dalam kota yang biasanya pada saat normal bisa mencapai 90% kini sudah melorot pada kisaran 60%-70%. Sedangkan okupansi di resor hotel pun anjlok drastis tinggal 30%.

Tak heran segudang cara dilancarkan, salah satunya dengan membuka program menyeberang Batam-Singapura gratis yang berlaku 17 Oktober 2005 hingga 1 Januari 2006.

Agar makin mulus, Singapore Tourism Board lalu menggandeng biro perjalanan wisata di 10 kota a.l Pekanbaru, Palembang, Jambi, Pontianak, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Bandung.

Juga sedikitnya 55 biro perjalanan wisata dan empat penerbangan nasional seperti Merpati Nusantara Airlines, Lion Air, Batavia Air, dan Riau Airlines.

Sebaliknya, liburan ziarah ke Eropa hingga Timur Tengah justru laris manis diserbu peminatnya. Salah satu pemain besar di jasa perjalanan ziarah ini, Ritz Tour bahkan sampai harus menolak pesanan.

“Sudah penuh! Kebetulan momennya Natal dan tahun baru. Bahkan sampai harus menolak peminat,” ujar Vina, petugas reservasi Ritz Tour.

Menurut dia, tahun ini paket yang ditawarkan sama larisnya dengan tahun lalu. Untuk menampung peziarah itu, Ritz Tour sampai menggandakan jumlah peserta per grup.

Padahal untuk ikut perjalanan tak murah. Tercatat yang paling murah adalah kunjungan ke Mesir-Jerusalem seharga US$1.499 hingga US$1.799 per orang untuk kunjungan delapan hingga 11 hari.

Sementara paket termahal adalah kunjungan Fatima Lourdes-Medjurgorje selama 16 hari seharga US$2.879 per orang.

Tapi berapa pun besarnya uang yang dikucurkan untuk Natal semuanya kembali pada makna Natal yang ingin diraih.

Tatang Widjaja
Waktu yang tepat untuk kontemplasi

Bagi Tatang Widjaja, Presdir & CEO PT Asuransi Jiwa Sequis Life, Natal merupakan saat yang selalu ditunggu. Setiap memasuki Desember, indahnya Natal sudah terasa. Bukan karena adanya liburan, lagu merdu syahdu, ataupun hiasan pohon terang.

“Tapi karena Natal identik dengan kedamaian. Damai karena kasih Allah yang sempurna bagi umat manusia,” tutur jebolan University of Nebraska dan San Diego University ini.

Namun, lanjutnya, Natal tak jauh berbeda dengan hari raya besar agama lain yang dirayakan setiap tahun. Idealnya perayaan Natal bukan hanya sekadar rutinitas tahunan biasa karena perayaan Natal ini mempunyai makna dan hikmat yang sangat mendalam.

Tidak pula sekadar hanya untuk bersenang-senang tetapi menjadi waktu yang tepat untuk melakukan kontemplasi atau perenungan perjalanan hidup.

Pengalaman

Secara langsung Natal merupakan saat yang tepat untuk ‘menutup dan membuka’, mengintropeksi dan menyusun resolusi untuk tahun baru. Sekaligus mengambil hikmah dari kejadian yang telah dialami, baik dan buruk, belajar dari pengalaman tersebut dan bertekad untuk menjadi lebih baik.

Tetapi Natal kali ini bagi Tatang terasa berbeda. Sebab hadir dalam segala gemuruh badai hidup baik dari sisi profesi, keluarga, dan terlebih setelah mengalami masalah kesehatan yang, menurut dia, membuat lebih matang memandang kehidupan.

“Dalam segala kesuksesan hidup dan diberkati di puncak karier. Seringkali orang merasa kesepian. Kita tidak bisa lagi berbuat seenak saat posisi kita masih ada di bawah. Sebagai umat Kristiani, ya Natal-lah waktu kita untuk bersyukur,” tandasnya.

Karier pria ini memang relatif cukup cepat dan mulus. Sebelum dipercaya menangani Sequis Life-semula bernama Sewu New York Life-dia sempat bekerja di salah satu perusahaan di AS, lalu ke Singapura tak lama lalu pindah bekerja di ABN Amro Jakarta dan bergabung dengan BNP Paribas sebagai Deputy Corporate Banking Head.

Tidak heran jika kemudian Tatang lebih memilih menghabiskan malam Natal bersama istri, Linda Susanti Setiawan, serta kedua anaknya Christie Caryn Widjaja dan George Gabriel Widjaja.

“Kurang pantas jika dalam kondisi ekonomi bangsa yang masih kesusahan ini kita lalu sibuk jalan-jalan ke luar negeri dengan mengatasnamakan Natal. Bukan tidak boleh, tapi rasanya kurang pas,” cetusnya.

Natal begitu juga hari raya agama lain saat ini mendapatkan ancaman yang begitu deras, yaitu budaya konsumerisme yang luar biasa, karena masyarakat akan mengeluarkan semakin banyak biaya untuk diri sendiri.

Akhirnya, Natal hanya menjadi pesta belanja yang sekaligus juga berarti bahwa orang miskin kurang diberi perhatian, karena anggaran yang dikeluarkan begitu besar.

Padahal, kisah Natal membawa umat agar berserah diri, percaya, kasih dan mau merendahkan diri di hadapan Tuhan dan masyarakat yang semakin tidak peduli dengan sekitarnya.

Edisi: 25/12/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: