it’s about all word’s

Djoenaedi Joesoef

Posted on: February 22, 2008

Kakek yang emoh dititipi cucu

Tak salah jika para sahabat Djoenaedi Joesoef, seperti Kwik Kian Gie, Harry Tjan Silalahi mengatakan Djoen-nama akrabnya, adalah lelaki ramah dan bisa membuat orang yang baru bertemu merasa sebagai sahabat lama.

Saya pun merasakan demikian, saat kaki baru saja melangkah ke dalam ruang kerjanya Djoen langsung menyapa dengan lugas dan kencang, “Halo apa kabar?” sambil bangkit berdiri meninggakan meja kerja yang mampu mengakomodasi enam orang itu.

Ruangan berukuran empat kali lima meter di lantai dua tersebut terkesan sederhana, di dinding putihnya hanya ada dua lukisan besar yaitu lukisan gerombolan kuda berlari dan tulisan dalam aksara China sebagai hadiah ulang tahun Djoen dari seorang sahabatnya.

Pria yang dilahirkan dengan nama Joe Djioe Liang ini baru saja menerima sakramen baptis dari Gereja Katolik -mendapatkan tambahan nama Fransiskus Asisi-meski usia telah mencapai 72 tahun. Sisa-sisa kebugarannya sebagai atlet tenis meja ini masih tergambar jelas.

Ingatannya pun masih kuat untuk lelaki seusia dia. Tak jarang dengan lancar Djoen masih mampu menggambarkan dan mengingat detil perjalanan hidupnya sebagai pedagang keliling.

“Dulu kalau jarum penunjuk jarak sudah mencapai 2.000 km, meski di jalan mobil harus berhenti dan ganti oli,” cetusnya saat menuturkan perjalanan kelilingnya menjajakan dagangannya hingga pelosok Jabar, Jateng dan Jatim.

Rupa-rupanya hingga saat ini Djoen masih tetap bolak-balik Jakarta-Solo-Surabaya. Selain berdagang dan menjadi komisaris di beberapa tempat, jalan-jalan juga dilakukan untuk menyapa sahabat lama.

Selain itu, Djoen mengaku masih sering mengunjungi pameran teknologi farmasi di luar negeri. Sebagai contoh pada Maret lalu, Djoen mengaku baru saja mengunjungi pameran teknologi packing di Jerman dan beberapa bulan mendatang akan ke China.

“Tapi paling seneng lihat pameran mobil. Mobil ditata seperti di dalam lemari. Dan yang jaga ayu-ayu,” ujarnya sambil tertawa keras.

Malas dititipi cucu

Meski suka jalan-jalan lelaki yang teratur masuk kantor pukul 8.00, hobi jalan kaki dan menghisap cerutu ini mengaku tidak terbiasa jajan. Bahkan untuk makan siang pun, Djoen memilih untuk pulang ke kediamannya. Aktivitasnya pun jika sudah di rumah cenderung teratur.

Selebihnya nonton televisi dan ngobrol dengan sang istri, Juniati Joesoef (Sie Jauw Nio) yang tak lain adalah adik kelasnya di sekolah Warga yang dinikahinya di gedung Perkumpulan Masyarakat Surakarta di Sorogenen, Solo, 49 tahun silam.

“Tapi kalau dititipi cucu, wah emoh [tidak mau]. Repot, nanti dia lari-lari, saya kan sudah tua. Cucu kan urusan anak. Saya kan membesarkan anak, kok cucu masih dititipin ke saya,” ujarnya sambil tertawa lebar.

Uniknya, baru 25 tahun kemudian pernikahan tersebut disahkan di catatan sipil. Dalam fotobiografi Djoenadi Joesoef. Djoen dalam nada bercanda, “Selama 25 tahun kami kumpul kebo, he… he…he….anak-anak yang lahir kami adopsi,” Hingga kini kedua pasangan tersebut telah dikaruniai empat anak dan 11 cucu.

Selain itu, Djoen sangat mempercayai nilai-nilai kebajikan yang ada di lingkungan Jawa. Alasannya karena dia lahir dan besar di Jawa. “Tapi herannya, masih banyak orang mengatakan saya, China. Padahal, bahasa China saja sudah jarang saya gunakan.”

Gambaran kecintaanya pada budaya setempat tergambar jelas pada dua tulisan Djoen di Buku Etika Bisnis Cina. Dia berpendapat bahwa teori yang diajukan akademisi sebagian ada benarnya dan sebagian lagi mitos belaka.

Yang disebutnya sebagai mitos antara lain adalah anggapan bahwa sukses etnis China di Indonesia karena ajaran konfusianisme. Padahal kerja keras, telaten, disiplin, efisien, hemat waktu, tepat janji, dan bisa dipercaya, bisa ditemui dalam berbagai budaya, termasuk Jawa.

Ajaran sentral konfusianisme tentang Chi So Pu I Se I Ren (kalau tak mau diperlakukan demikian terhadapmu, jangan pula memperlakukan hal itu terhadap orang lain) identik dengan ajaran tepa selira ala Jawa.

Nilai mengutamakan jumlah pelanggan, meski untung dari mereka kecil, sejalan dengan ajaran Jawa tuna satak, bathi sanak (berkorban sedikit, tetapi mendapat banyak relasi).

Begitu juga praktik ekonomi nakal dan curang bukan pula monopoli etnis, melainkan tergantung pada kualitas mental seseorang.

Edisi: 15/05/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: