it’s about all word’s

Dr. Bambang Eka

Posted on: February 22, 2008

Biaya yang dikeluarkan tak semahal kanker

Pandemi HIV/AIDS sudah merambah ke mana-mana. “Kita tidak bisa menutup mata. Ada kawan saya, tentara, yang bertugas jauh dari keluarga lalu melakukan hubungan seksual tak aman. Juga ada polisi yang harus masuk ke jaringan narkoba lalu tertular [HIV] lewat jarum suntik. Ini sudah terjadi,” ujar Bambang Eka.

Menurut Staf Teknis Nasional Harm Reduction and IDU Indonesia HIV/AIDS Prevention and Care Project Phase (IHPCP) tersebut, masalah HIV/AIDS sudah menjadi masalah semua pihak dan harus diselesaikan secara menyeluruh. Saat ini harapan tersebut berada di pundak Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang dipimpin Nafsiah Mboi.

Selain program pertukaran jarum suntik dan subtitusi methadone bagi pengguna obat terlarang, gerakan penanggulangan HIV/AIDS juga menyentuh kepedulian di tempat kerja dan penghapusan penyakit itu dalam tabel mortalitas perusahaan asuransi.

“Depkes sudah setuju, tinggal Depkeu yang belum. Padahal tidak ada alasan mereka bakal rugi jika peserta polis mengidap HIV/AIDS. Pada kenyataannya biaya kesehatan yang dikeluarkan tak semahal penyakit kanker atau yang lain,” tuturnya.

Sebab, lanjut Bambang, masalah HIV/AIDS adalah infeksi oportunistik yang terjadi mulai dari yang ringan seperti flu, mencret hingga yang berat seperti radang selaput otak. Penyakit tersebut tak perlu timbul jika terjadi penguatan di tingkat pelayanan kesehatan seperti Puskesmas sebagai penyalur obat anti retroviral (ARV) hingga TBC bersubsidi.

“Dari Belgia saya dapat informasi kalau obat cotrimotrasol yang per butir dihargai Rp1.000 bisa untuk menekan infeksi oportunistik yang sering timbul,” ujar dia.

Digebuki polisi

Perkenalannya pada masalah HIV/AIDS terjadi saat dia bekerja pada perusahaan pengeboran minyak lepas pantai Mc Dermont usai lulus dari FK UKI. Di tempat itu dia berjumpa pria-pria kesepian penderita HIV/AIDS.

Setelah itu dia kembali ke Jakarta dan menjadi kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Tanah Abang. “Saya punya pasien kok penyakitnya nggak sembuh-sembuh.”

Rupanya sang pasien berasal dari Kampung Bali, yang punya nama besar dalam hal peredaran dan penggunaan obat-obatan terlarang. “Setelah itu saya baru sadar kalau penderita terkena HIV/AIDS karena pengguna jarum suntik. Saya masuk ke komunitas mereka sampai pernah ditangkap polisi dan digebuki,” ujarnya mengenang.

Bambang berkenalan dengan Yayasan Pelita Ilmu (YPI) yang menawarkan program penanggulangan narkoba dan HIV/AIDS pada 2000. Lepas dari YPI, dia bergabung dengan IHPCP, LSM asal Australia, meneruskan program yang sudah dilakoninya selama ini.

Bisnis Indonesia Edisi: 26/11/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: