it’s about all word’s

Dwiki Dharmawan: Can’t sleep before read

Posted on: February 22, 2008

“Sekolah saya salah satunya adalah buku. Saya tidak selesai sarjana. Tapi bacaan saya sampai bacaan profesor,” ujar Dwiki Dharmawan saat ditemui di sela-sela jumpa pers konser ulang tahun harian Kompas, Megalitikum Kuantum, di Bentara Budaya pekan lalu.

Toh meski tak lulus sarjana, semua tahu prestasi yang ditorehkan suami dari penyanyi Ita Purnamasari ini. Selain menyabet penghargaan The Best Keyboard Performance Yamaha Light Music Contest 1985 di Tokyo Jepang, dia juga menggondol Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia 1991 untuk Film Cinta Dalam Sepotong Roti.

Pengajar di sekolah musik Farabi ini mengaku, meski dirinya adalah seorang musisi namun dia tidak pernah membatasi bacaan hanya di bidang yang digelutinya. Bacaan Dwiki meliputi mulai dari seni, politik, arkeologi, tata boga, pariwisata, perhotelan.

Justru soal film terbaru Dwiki mengaku sering ketinggalan. Sebaliknya kalau buku, dia seringkali tidak bisa tidur sebelum membaca. “Misalnya Al Gazali, kalau karya sastra saya menyukai Sapardi Djoko Dharmono, atau tulisan-tulisan mengenai musik,” paparnya.

Pemusik yang pernah mengikuti ke mana pun Elfa Seccioria manggung ini menuturkan selain buku, seringkali dia mencari bahan bacaan dari web, misalnya tulisan non berita. Sebagai contoh artikel tentang kritik kebudayaan atau kritik musik dari New York Times.

Meski begitu Dwiki memiliki kesan yang begitu mendalam terhadap The World of Music, sebuah jurnal musik karangan delapan profesor etnomusikologi di AS. Pasalnya dalam jurnal itu tercantum salah satu karyanya bersama Krakatau.

Seperti kita tahu usai mengikuti Elfa Seccioria, pada 1984 Dwiki membentuk Krakatau Band, bersama Pra Budidarma, Dony Suherman, dan Budi haryono.

Krakatau Band yang berjaya pada era 1984-1992 itu sudah menghasilkan empat album. Walaupun hanya kadang-kadang saja tampil dalam misi kesenian dan kebudayaan di luar negeri, Krakatau Band sebetulnya masih eksis sampai sekarang.

Tahun 1992 Krakatau Band banting setir, mencoba berkolaborasi dengan musik etnik. Buah dari hasil kolaborasi Krakatau Band dengan musik etnik adalah mendapatkan kesempatan mengadakan tour ke mancanegara, Eropa, Perancis, Bulgaria, Veneszuellla, Australia, dan lain lain. Serta melakukan misi kebudayaan ke AS.

Soal gila baca dan belanja buku ini ternyata pernah membuat sang istri heran bukan main. Pasalnya saat Dwiki ke Chicago, dia sampai harus mengirimkan belasan kilogram buku.

“Kok bisa beli buku segitu banyak? Mengirimnya saja sudah menghabiskan sekitar US$100,” Dwiki menceritakan keluhan sang istri saat itu. Meski begitu sang istri tak pernah protes terhadap koleksi buku Dwiki yang sudah mencapai sekitar 1.000 buku.

Hobi gila buku itu tentu saja membutuhkan banyak uang. Dwiki menuturkan untuk sekali belanja buku di luar negeri bisa sampai Rp5 juta, sedangkan untuk belanja buku di Indonesia dalam sebulan tak kurang dari Rp1 juta.

Bisnis Indonesia Edisi: 26/06/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: