it’s about all word’s

Izak Jenie: Tentang bisnis game

Posted on: February 22, 2008

‘Bisa raup devisa besar’

Sejak pertama kali muncul dalam bentuk yang paling sederhana, dunia game elektronik memang menarik. Anda pasti masih ingat pada masa 1980-an saat orang banyak memadati game center bermodel Arcade.

Maklum pada era itu game konsol masih terbatas macam Nintendo, Atari, Spica dan Sega. Itu pun masih dalam tampilan dua dimensi.

Dunia game makin berkembang sejak muncul game konsol canggih macam Nintendo DS, dan Play Station Portable (PSP). Di sisi lain dunia komputer juga kian berkembang dengan munculnya game multiplayer dan game online di akhir 1990-an.

Selama kurun 1999-2003 game center jaringan macam Counter Strike merebak dan dijejali penggemarnya. Namun sejak tahun lalu, game multiplayer bukan zamannya lagi. Kemudian munculah Ragnarok yang sempat merajai game online.

Itu pun cukup setahun saja sebab seiring kecepatan perkembangan jaringan GSM mulai muncul game mobile yang bisa dimainkan di ponsel dengan men-download dari penyedia jasa.

“Bikin game itu sebetulnya mirip bikin film. Artinya dari segi bisnis bisa tidak untung sama sekali atau sebaliknya untung besar,” tutur Izak Jenie, direktur PT Jati Piranti Solusindo (Jatis), perusahaan yang dikenal sebagai penyedia isi program (content provider).

Yang jelas, menurut dia, membuat game online dan game multiplayer butuh SDM dan waktu yang tidak sedikit agar tercipta alur cerita yang menarik.

Jatis sendiri lebih berkonsentrasi dalam pembuatan game mobile. Sampai saat ini sudah ada 50 game produk dalam negeri mereka yang dijual di pasar domestik maupun asing.

Biaya pembuatannya sendiri tak terlampau mahal. Izak mengkalkulasi satu game membutuhkan dana produksi tak lebih dari Rp30 juta. “Kalau online dan multiplayer tentu lebih mahal. Selain itu soal laku atau tidaknya juga jadi pertanyaan,” paparnya.

Tapi Izak merasa dukungan pemerintah masih kurang dalam melihat potensi game buatan dalam negeri. Contohnya, game pertama karya anak bangsa yang diakui oleh Museum Rekor Indonesia justru tak jelas juntrungannya.

Padahal dari industri game, devisa yang bisa diraup bisa lebih besar dibandingkan Indonesia mengirimkan tenaga kerja. “Justru Kadin yang sudah mendukung untuk dimulainya pendirian sekolah game developer [pembuat game].”

Kadin paham betul bahwa pertumbuhan dunia game secara global sudah jauh melampaui angka pendapatan industri film. Tahun ini saja industri game diperkirakan bisa meraup keuntungan US$34 miliar, sedangkan film hanya US$21,4 miliar.

Bisnis Indonesia Edisi: 16/10/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: