it’s about all word’s

James Smith Gray: Higlander milkman

Posted on: February 22, 2008

Ini teh susu…. Bukan, susu kok dibilang teh…!

Anda tentu pasti ingat dengan penggalan iklan susu kental manis (SKM) Bendera versi ini teh susu tersebut. Selain lucu juga mudah dicerna dan dekat dengan budaya Indonesia.

Tak heran jika kemudian iklan ini lalu terpilih sebagai salah satu pariwara terbaik tahun lalu berdasarkan data TV Ad Monitor MRI.

Ya, siapapun pasti tahu tentang SKM Bendera. Boleh dibilang dari buyut hingga cucunya pasti mengenal merek susu kental ini. Tetapi justru jarang di antara kita yang mengenal dengan jelas siapa pemain di balik produk susu itu.

Nah, pada tahun ini pemain di balik susu Bendera ini akhirnya muncul ke permukaan. Sebab mulai Juli ini PT Frisian Flag Indonesia (FFI) sebagai unit usaha dari Friesland Coberco Dairy Foods di Indonesia akan mulai menyeruak ke permukaan.

“Tahun ini Friesland Coberco Dairy Foods berubah nama dan logo menjadi Royal Friesland Foods. Langkah memperkenalkan diri ini dilakukan kepada seluruh mitra bisnis di seluruh Indonesia,” papar James Smith Gray, Presiden Direktur FFI, sambil tersenyum.

Menurut lelaki kelahiran Lanark, Skotlandia, 60 tahun silam itu, bukan hanya di Indonesia nama Friesland Coberco yang kurang dikenal di Indonesia bahkan di negeri asalnya, Belanda, pun nama Friesland Coberco kurang dikenal.

Justru orang lebih mengenal produk Friesche Vlag atau Frisian Flag atau susu bendera. Yang di negeri asalnya dan di banyak negara merek ini sudah digunakan sejak tahun 1919.

“Hampir selama 125 tahun berdirinya perusahaan Friesland Coberco Dairy Foods, tak banyak orang mengenal perusahaan ini. Meskipun produk-produk kami sudah sangat dikenal konsumen. Ini tantangan bagi kami,” paparnya

Namun bak ilmu padi, Friesland Coberco lebih memilih untuk terus merunduk dan makin berisi. Hingga akhirnya datang pengakuan tertinggi pada Juni tahun lalu saat Ratu Beatrix dari Belanda memberikan gelar Royal kepada Friesland, sesuatu yang tak mudah didapatkan.

Perusahaan ini telah memiliki jaringan pemasaran dan distribusi yang kuat di Eropa, Afrika dan Asia. Omzetnya pun besar tak kurang 4,6 miliar euro dimana dua per tiganya dihasilkan di luar Belanda.

“Untuk itu kami kemudian mengubah nama menjadi Royal Friesland Foods. Gelar Royal sendiri merupakan penghargaan tertinggi terhadap sebuah produk. Kami ingin mitra bisnis kami ikut bangga dengan hal yang sudah mereka lakukan kepada kami,”

Pantas saja penggemar buku sejarah dan olah raga golf ini bersemangat. Pasalnya memperkenalkan dengan agresif baru dilakukan saat ini. Pendek kata, langkah krusial ini terjadi sejak 20 tahun bergabungnya dia dengan perusahaan ini.

James menuturkan perjalanan kariernya dimulai sejak dirinya berpindah dari perusahaan kue Nabisco dan pindah ke Friesland sebagai Marketing Director di Timur Jauh.

Tak kurang Thailand, Jepang, Nigeria, Polandia, Vietnam disinggahi oleh jebolan Business School Strathcyde University, Skotlandia itu sebelum berlabuh di Indonesia di akhir 2001.

Optimistis melangkah

Soal perubahan nama Friesland, pria ramah ini optimistis selain akan semakin meningkatkan komitmen mitra bisnis untuk menjaga mutu dan kualitas juga merupakan dorongan moral bagi pekerja FFI.

Di Indonesia sendiri FFI hadir sejak 1971 dengan produk unggulan susu kental manis. Sampai saat ini FFI telah memiliki dua pabrik di Pasar Rebo dan Ciracas dengan 1.500 orang karyawan di 27 provinsi di Indonesia.

Untuk memproduksi, FFI setiap harinya menampung 320 ton susu segar dari 12 koperasi peternak di Pulau Jawa yang menaungi sekitar 30.000 peternak.

Sentra-sentra produksi tersebut a.l. Pengalengan, Lembang, dan Garut di Jawa Barat, Boyolali di Jateng dan Blitar di Jatim.

“Butuh waktu sekitar 20 tahun untuk bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas susu sapi di Indonesia. Bandingkan saja sejak 1985 kami [FFI] baru menampung 50 ton susu/hari,” ujarnya kepada Bisnis.

Tidak hanya pelatihan, lanjutnya, tetapi juga mencakup pengadaan alat-alat yang lebih modern bagi para petani tersebut. Dengan kedua langkah tersebut hasilnya sejak 2004 bisa tercapai angka produksi susu saat ini.

Dia menuturkan dari sejarah berdirinya Friesland sendiri sudah menunjukkan sebuah sejarah yang mantap. Perusahaan ini diawali dengan terbentuknya Arnhem Dairy (Arnhemsche Melkinricting) pada 7 Juli 1978.

Sedangkan nama Friesland berdiri setelah melalui berbagai merger dan akuisisi puluhan perusahaan susu di Belanda hingga luar Belanda dari tahun 1920 hingga 2001.

Hingga kini perusahaan ini telah menampung 18.000 orang staf dimana 12.500 orang diantaranya bekerja di luar Belanda.

“Jadi apa yang harus kita takutkan dengan perubahan ini. Justru tahun ini FFI akan meluncurkan produk terbaru. Dari segi bisnis jelas tak terpengaruh,” ujar lelaki yang sudah tiga setengah tahun ini berlabuh di Jakarta.

James sendiri cukup yakin kampanye nama dan logo baru ini akan sukses dengan hanya menyediakan waktu sekitar enam bulan saja. “Tentu saja semua jalur informasi kami gunakan untuk ini,”paparnya sembari mencondongkan badan.

Selain itu dia menjamin komitmen FFI kepada petani susu akan tetap berjalan sebaik sekarang bahkan akan terus meningkat dimasa yang akan datang.

“Kami pun tetap berkomitmen dalam program kerjasama dengan institusi terkait untuk meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat. Misalnya baru saja kami bekerjas sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Seperti diketahui FFI mengadakan kerja sama dengan IDAI untuk mmeberikan pelatihan bagi tenaga kesehatan di 16 Puskesmas di Jakarta dan simposium ilmiah bagi dokter spesialis anak pada Konika 2005.

Selain itu, lanjut James, FFI juga ikut aktif mendonasikan susu kepada korban bencana tsunami di Aceh. Tak hanya itu FFI juga sudah siap untuk mendonasikan bantuan susu bagi anak-anak korban gizi buruk.

“Karena langkah langsung tidak memungkinkan, kami menunggu permintaan dari pemerintah Indonesia melalui lembaga yang berwenang untuk mengatasi gizi buruk,” tuturnya.

Sebab apapun langkah yang ditempuh FFI untuk berubah ujung-ujungnya tetap bersandar pada komitmen perusahaan ini bagi peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia.

Bisnis Indonesia Edisi: 25/07/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: