it’s about all word’s

JiFFest ogah gulung layar

Posted on: February 22, 2008

Seusai Jakarta dipuaskan bermacam pertunjukan musik, menjelang tutup tahun, Jakarta International Film Festival (JiFFest) hadir kembali selama dua pekan.

Pada usia penyelenggaraan yang mencapai sewindu, JiFFest memberikan suguhan film yang makin beragam. Bahkan kini-seiring makin bergairahnya perfilman nasional-film layar lebar Indonesia makin mendapat tempat.

Sebut saja film baru Jakarta Undercover (Lance) dan Opera Jawa (Garin Nugroho) yang memanfatkan JiFFest sebagai tempat pemutaran perdananya.

Hal ini tak lepas dari jumlah film dan pengunjung yang selalu meningkat. Selama 1999-2005, film yang diputar selalu bertambah. Mulai dari 62 film lalu menjadi 201 film sementara tahun ini diputar 230 film dari 35 negara.

Jumlah penonton pun membiak. Mulai dari 18.688 orang pada 1999 melonjak menjadi 47.000 penonton pada 2005, sedangkan tahun ini diharapkan mencapai 50.000 penonton.

Jumlah penonton tahun lalu tentu sangat jauh dibandingkan jumlah penonton lima tahun lalu yang hanya 7.360 orang. Untung kegagalan ini bisa ditebus setahun berikutnya dengan 26.282 penonton

Semua itu dilakukan tanpa bantuan dari pemerintah daerah atau pusat yang diuntungkan dengan ajang internasional ini. Bahkan tahun ini Pemda DKI tak menyokong pendanaan JiFFest.

Selama sewindu, hanya tahun lalu saja DKI mengucurkan Rp1,2 miliar untuk menambal dana penyelenggaraan yang mencapai Rp4,2 miliar.

Padahal untuk tahun ini anggaran JiFFest mencapai Rp5 miliar. “Tahun ini, kurangnya masih 10% dari total biaya tersebut. Terus terang, kami masih mengalami kesulitan menarik dana dari para sponsor yang ada,” kata Direktur JiFFest Orlow Seunke.

Dia menyesalkan sikap pemerintah pusat dan daerah yang tidak begitu serius menghadapi peristiwa budaya seperti JiFFest. Mestinya, biaya ajang tersebut ditanggung dua pemerintahan, sedangkan sisanya, kata Orlow, ditutup dari perolehan dana dari sponsor dan hasil penjualan tiket.

Karena tidak ada dana dari dalam negeri yang cukup, lagi-lagi JiFFest mengandalkan kucuran dana dari beberapa LSM luar negeri dan LSM lokal.

Menurut Festival Manager JiFFest, Sari Mochtan, LSM tersebut a.l Hivos-NCDO Culture Fund, Ford Foundation, Stichtingdoen, Jan Vrijman Fund, Amnesty International, dan Hubert Bals Fund.

Satu-satunya LSM lokal yang menyokong kegiatan yang digelar Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia ini adalah Yayasan Putra Jethmal yang didirikan oleh pentolan sinema, Ram J Punjabi.

Tembok pelarangan

Selain seret kucuran dana, seperti tahun lalu JiFFest masih mendapat ‘gangguan’ dari Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia. Tahun ini empat film dilarang diputar yakni The Black Road, Tales of Crocodiles, Passabe, dan film animasi berdurasi 12 menit Timor Loro Sae.

The Black Road adalah dokumenter karya William Nessen, wartawan lepas asal AS yang sempat terkurung di markas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tiga tahun lalu.

Tales of Crocodiles, Passabe, dan Timor Loro Sae berkisah tentang Timor Leste saat masih menjadi bagian dari Indonesia.

Ketua LSF Indonesia Titie Said mengaku pelarangan tersebut atas rekomendasi tim yang terdiri TNI, Polri, Kehakiman dan Badan Intelijen Nasional.

Tahun lalu tim ini selain merekomendasikan pelarangan tiga film tentang Timor Timur, mereka juga melarang Garuda’s Deadly Upgrade dan film Australia kontroversial seperti Rabbit-Proof Fence.

Garuda’s Deadly Upgrade adalah dokumenter investigasi tentang kasus pembunuhan Munir karya jurnalis David O’Shea (Program Televisi DATELINE – SBS TV, Australia) dan Lexy Junior Rambadeta (Offstream Production, Komunitas Media dan Dokumenter).

Sementara, Rabbit-Proof Fence diangkat dari buku Doris Pilkington oleh sutradara Phillip Noyce, berkisah tentang nasib anak-anak Aborigin yang dipaksa hidup dalam budaya kulit putih.

Gara-gara film Australia ini, Orlow didatangi oknum Australia Indonesia Institute (AII) yang mengajak jalan damai. Opsinya bantuan dana tetap diberikan namun film-film kontroversial itu tak ditayangkan.

“Mereka datang mirip penyuap. Saya memilih untuk tetap memutar film itu tapi akibatnya mereka lalu menarik dana sebesar AUS$18.000 yang telah disepakati. Tapi tidak apa-apa, kasus ini wajah Australia yang sebenarnya,” tutur Orlow kesal.

Meski dilarang, dia tetap akan menjadwalkan untuk diputar tahun depan. “Begitu seterusnya sampai para pejabat Indonesia itu siap.”

Tetap independen

Meski selalu didera beragam masalah, diakui atau tidak, JiFFest tetap menarik banyak pihak untuk berbondong-bondong ke festival tersebut dengan beragam alasan.

Sebut saja artis Alex Abad, yang berangggapan JiFFest bisa memuaskan dahaganya tentang seni film murni. Suatu hal yang tak bisa ditemukan pada film yang biasa disuguhkan di bioskop konvensional dan layar kaca..

“Di ajang ini kita bisa melihat hal yang berbeda, bukan sekadar apa yang kita inginkan. Ini bisa jadi pilihan lain bagi pencinta film yang sudah bosan dengan jenis film yang sering ditayangkan di bioskop,” ujar dia.

Sementara, bagi artis kawakan Henidar Amroe, karena film yang ditayangkan berkualitas dalam hal komponen akting, cerita, penggarapan, dan sudut pandang yang diambil. Maka penonton akan mendapatkan kualitas terbaik.

“Tidak ada unsur ekonomis. Bahkan, ada di antaranya film-film yang biaya produksinya tidak terlalu besar, tetapi di situ istimewanya sebab JiFFest sarat unsur mendidik terutama bagi para penikmat dan pemerhati film layar lebar,” ujar dia.

Demi menonton JiFFest, penggilanya bahkan rela mengeluarkan duit yang tidak sedikit. Salah satunya VP Citibank Ditta Amahorsea yang selalu memborong karcis JiFFest sejak jauh-jauh hari.

“Dari dulu saya biasa memborong tiket jauh-jauh hari. Jadi nanti tidak perlu khawatir batal menonton film yang sangat bagus. Soalnya kesibukan kerja saya tidak memungkinkan lagi untuk berburu tiket seperti penonton pada umumnya,” ujar penggila buku sastra itu.

Maklum seperti tahun sebelumnya, panitia JiFFest tetap menentukan sistem unik dalam hal pemutaran film-filmnya. Artinya penonton mendapatkan hak menonton berdasarkan tiket dan kapasitas ruangan.

Artinya penonton memiliki kesempatan lebih besar menonton jika memiliki kartu keanggotan Gold, Silver dan White. Sementara pembeli tiket dadakan tidak mendapat jaminan tanda masuk dan tergantung pada kapasitas bioskop yang bersangkutan.

Sistem ini selalu menciptakan antrean panjang dan kehebohan setiap kali diputar film-film favorit, sekaligus menjadi ritual tersendiri dalam sepanjang JiFFest digelar.

Orlow Seunke
Tak bisa berkata harga

JiFFest boleh saja bergulir tiap tahun dengan berbagai persoalannya. Tapi pria berambut putih denga nama Orlow Seunke ini baru menjadi bahan pembicaraan saat mengancam bakal mundur dari penyelenggaraan festival film ini karena sulitnya mencari pendanaan.

“Saya jatuh cinta dengan negara ini. Karena saya orang film, saya percaya negara ini bisa maju melalui film. Meskipun untuk itu sulit. Setiap kali penyelenggaraan [JiFFest] selalu kesulitan uang,” ujarnya kepada Bisnis.

Dia memang tak asing dengan festival film yang digelar Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia ini. Bahkan pada 2004 dia langsung mengambil alih posisi direktur JiFFest dari tangan Santy Harmayn.

Saat itu JiFFest mendapat kenyataan pahit pukulan berat dengan gagalnya festival film yang digelar itu menggaet penonton.

Orlow pun turun tangan membenahi strategi penyelenggaraan termasuk mendekati media agar mendukung pemberitaan.

Hasilnya, JiFFest berhasil bangkit. Dari hanya 7.360 penonton pada 2003, meningkat 300% menjadi 26.282 orang pada tahun berikutnya. Dan terus melesat hingga mencapai 47.000 penonton tahun lalu.

“Anehnya sampai saat ini baik pemerintah dan swasta masih menilai ajang seperti JiFFest dengan nilai uang semata. Sampai sekarang pun saya tidak bisa mengatakan harga acara ini bagi mereka,” ujarnya.

Karena itu Orlow selalu membandingkan ‘hajatannya’ dengan festival film di berbagai belahan dunia yang didukung penuh pemerintah negara masing-masing. Mereka membantu sepertiga dari seluruh pembiayaan festival yang bisa lima hingga 10 kali lipat JiFFest.

“Tahun ini JiFFest mengalami kemunduran. Pemda DKI yang tahun lalu mau membantu kini tidak lagi mengucurkan bantuan. Jadi kini kami kembali mengandalkan lembaga donor asing, sejumlah kedutaan besar dan pusat kebudayaan negara asing,” tutur dia.

Tangan dingin

Ditilik dari namanya, Orlow Seunke, tentu bakal sulit ditebak dari mana dia berasal. Padahal pengajar Institut Kesenian Jakarta ini adalah Belanda tulen.

“Ah itu karena ibu saya hobi nama-nama unik. Saudara yang lain pun senasib dengan saya. Nama mereka berbau luar Belanda,” ujarnya berkelakar.

Dalam dunia sinema artistik, namanya cukup dikenal bertangan dingin. Film yang pernah lahir berkat sentuhannya cukup banyak. Sebut saja Jaakko Morttala, Kaas, Gordel van smaragd, Frans en Duits, Oh Boy!, Pervola, Tracks in the Snow, dan The Taste of Water. Lainnya Met voorbedachten rade, Prettig weekend, meneer Meijer, Every Day a Party serta Ellendige Nietsnut, Een.

Meski jago mengarahkan sineas-sineas muda, Orlow mengaku agak kesulitan meyakinkan petinggi-petinggi pemerintah untuk.

“Saya pernah hampir satu jam menjelaskan tentang JiFFest, tapi giliran selesai pejabat penting pemda itu malah ketiduran,” ujar Orlow sembari geleng-geleng kepala.

Agak sulit menjelaskan soal dana, lanjut dia, dana bagaimana pun tetap dibutuhkan untuk pengiriman film dan barang-barang pendukung. Biayanya tak sedikit. Bahkan sebagian dana tersedot ke sana.

Untung saja untuk tenaga pendukung, JiFFest banyak dibantu relawan yang berasal dari anak-anak muda gila film. Banyak pula artis, sutradara, penulis naskah terkenal yang rela bekerja tanpa pamrih demi digelarnya acara ini.

Lelahkah Orlow? “Saya bekerja habis-habisan untuk JiFFest tanpa gaji. Tapi bagaimana pun kami butuh dukungan yang lebih tegas dari pemerintah. Bukan terus-menerus sekadar memberikan janji-janji.”

Bisnis Indonesia Edisi: 10/12/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: