it’s about all word’s

Lesbian, apa perlu di-declare?

Posted on: February 22, 2008

Jika seks diandaikan sebagai makanan pokok, maka akan ada banyak pilihan di dalamnya. Begitu pula dengan lesbian, mereka adalah sosok perempuan yang menetapkan pilihan dari beragam pilihan yang ada di masyarakat.

Malam itu seiring dengan derasnya gempuran hujan deras dan angin kencang, berpuluh-puluh pengendara motor dan pejalan kaki berlarian merapatkan diri ke sisi-sisi gedung itu untuk menghindari curahan air. Tak pelak kemacetan makin menjadi-jadi.

Sementara itu di dalam sebuah bangunan, tepatnya di food court Mal Ambassador yang terletak di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, pengunjung seakan tidak perduli tetap ramai hilir mudik.

Tak terasa sudah hampir empat puluh lima menit menunggu akhirnya kedua sosok perempuan yang memilih jati diri sebagai lesbian itu akhirnya menampakkan diri. Yang berbaju putih melambaikan tangan menyapa ramah memanggil Bisnis mendekat.

Meski begitu suasana kaku masih melingkupi pertemuan ini. Tak mudah memang untuk meyakinkan mereka bahwa pertemuan kali ini tidak akan membuat posisi mereka semakin terpojok diantara tudingan norma dan agama yang seringkali menafikan sisi manusia mereka.

Laiknya butch-lesbian yang mengambil peran maskulin-kedua perempuan yang mengaku bernama Sinta dan Putri itu sama-sama berambut cepak, berbaju kasual dan terkesan sangat kelaki-lakian.

“Saya sadar sebagai lesbian pada umur 12 tahun, namun kondisi sosial yang permisif membuat saya menahan diri hingga umur 28 tahun untuk menetapkan diri sebagai lesbian,” ujar Sinta sambil mengepulkan asap rokok putihnya.

Hanya saja pilihannya tersebut hingga kini sebatas diketahui oleh kawan-kawan sesama lesbian dan bos di kantornya sedang keluarga dan kawan-kawan kantornya belum mengetahui.

Menurut dia hal itu tak lain pada umumnya sampai saat ini termasuk kaum perempuan yang memilih peran sebagai heteroseksual memandang lesbian sebagai hal yang terlalu menjijikan. Alih-alih ingin jujur agar nyaman sebaliknya sering terjadi lesbian justru akan dijauhi.

Senada dengan itu, sambil menyantap kwee tiau pesanannya, Putri menjelaskan bentuk pengasingan itu kadang berujung pada kehilangan pekerjaan yang selama ini mereka jalani.

Putri sendiri mengaku sudah menetapkan diri sebagai lesbian sejak masih berumur sembilan tahun. Sejak saat itu dia mengaku sudah jatuh cinta dengan kawan perempuan sebayanya.

“Aku tidak pernah mengatakan secara langsung kepada keluarga, tetapi harusnya mereka tahu. Sebab aku sering membawa pacarku ke rumah,” ujar lulusan sekolah desain di Boston, AS, itu dengan santai.

Berbeda dengan persepsi kebanyakan orang bahwa lesbian adalah orang-orang berdosa, kedua mengaku tetap menjalankan ritual dan aturan-aturan agama yang mereka anut secara teratur termasuk mendoakan kelanggengan hubungan kasih dengan pasangannya masing-masing.

“Jangan salah, lesbian juga ada yang memakai jilbab lho. Cinta dan kasih sayang di antara pasangan lesbian kan tulus,” sambung Sinta sambil tersenyum.

Dia melanjutkan karena secara fisik dan perilaku lesbian tidak terlalu mencolok dibanding gay atau waria, masyarakat sering tidak sadar bahwa lesbian ada di antara interaksi masyarakat secara normal.

Dia menuturkan seorang femme-lesbian yang mengambil peran feminim dan butch tidak akan dapat dianggap sebagai lesbian selama mereka tidak mendeklarasikan bahwa dirinya adalah lesbian.

“Padahal lesbian yang menjadi publik figur cukup banyak. Presenter, penyiar, aktivis hingga artis yang sering muncul di televisi tetap mendapat status bukan lesbian sebab mereka memang secara fisik dan perilaku tetap sebagai perempuan biasa,” ujar Putri sambil mengatur rambut cepaknya.

Sinta membenarkan ketidak terbukaan tersebut menjadikan komunitas lesbian menjadi terkesan sangat ekslusif. Hubungan antarindividu pun dilakukan melalui chatting di situs-situs seperti yahoo messenger.

Atau bisa saja mereka masuk ke dalam forum virtual yang dibuka oleh komunitas lesbian di Indonesia, salah satunya Swara Srikandi Indonesia. Sedangkan untuk hubungan internasional ada cukup banyak jaringan yang dibuka oleh aktivis lesbian dan gay.

Bisnis sendiri saat berada di Australia mendengar adanya wakil lesbian dari Indonesia yang ikut berpartisipasi mengirimkan wakilnya ke olimpiade gay dan lesbian 2001 di Melbourne, yang dibuka secara langsung oleh pejabat penting Australia.

Kode khusus

Kembali soal kegiatan chatting, tentu saja ada kode khusus yang membuat mereka bisa membedakan antara lesbian senior dan perempuan yang masih bertanya-tanya tentang orientasi seksual mereka. Biasanya adalah golongan ABG alias anak baru gede.

“Hanya saja banyak lelaki yang mencoba masuk dalam komunikasi ini, sebab pada dasarnya mereka memiliki keingintahuan yang besar terhadap aspek seksual perempuan yang misterius bagi mereka,” tukas Putri sambil tertawa lepas.

Biasanya dari hubungan chatting lalu berlanjut pada pertemuan lalu hubungan pertemanan fisik hingga hubungan asmara. Jika ada binar-binar cinta dan dicapai kesepakatan antara pasangan itu akan berlanjut pada hubungan sehidup semati.

Sistem interaksi yang unik ini tentu saja terisolasi dan berjarak dengan lingkungan sekitarnya. Namun, dirinya menolak asumsi yang menyatakan lesbian tidak memberikan kontribusi terhadap masyarakat di sekitarnya.

Putri menuturkan saat bencana banjir besar di Jakarta pada 2002, komunitas lesbian turun langsung memberikan pelayanan kesehatan dan logistik bagi korban banjir.

Namun entah mengapa tidak cukup mata dan telinga yang merasakan partisipasi nyata dari kelompok tersebut.

“Tetapi yang namanya menolong kan seharusnya memang tulus dan ikhlas, bukan untuk tujuan mencari popularitas semata,” jelasnya santai.

Berbeda dengan komunitas gay dan waria yang sudah dengan solid membentuk organisasi sebesar Gaya Nusantara. Komunitas lesbian tidak terlalu solid untuk membesarkan Swara Srikadi atau Koalisi Perempuan sebagai satu organisasi yang menyuarakan suara lesbian.

“terlalu serius, mungkin gambaran kedua organisasi tersebut. Tidak asyik dan nyaman,” tukas Putri dan Sinta kompak.

Tetapi keduanya tidak membantah kalangan lesbian sebenarnya sangat mendukung terbentuknya sebuah organisasi yang menyuarakan aspirasi lesbian di Indonesia.

Tidak terlalu berbeda, pada kesempatan berbeda hal itu diungkapkan juga diungkapkan oleh lesbian lain seperti Bonnie dan Agustine.

Komunitas lesbian

Meski punya kesamaan yakni menyandang status lesbian, namun Bonnie, tidak mau membatasi kumpulannya hanya sebatas dalam satu komunitas. Tengok saja kegiatannya, dari mulai aktivitasnya dia mengaku enggan ikut-ikutan. “Bukan berarti satu komunitas kegiatannya sama kan, interest pastinya disesuaikan,” katanya ringan.

Seperti dirinya, yang memilih hobi diving. Baginya, tiap orang punya jalurnya sendiri dalam menyalurkan bakat. Buktinya, disini dia bisa enjoy, walau anggota yang tergabung bersama klub tidak ada yang punya kesamaan status dengannya. Meski begitu, ia tetap yakin dalam menempuh jalan hidup yang dipilihnya kini.

Begitu pula dengan Agustine, dia pun sepakat dengan Bonnie. Namun, kata dia, sekarang ini komunitas lesbian terlihat jarang tampil di muka publik. “malah terkesan lebih surut, ketimbang tahun kemarin,” imbuhnya kepada Bisnis.

Malah sampai dengan 2004, pesta untuk komunitas lesbian masih kerap dilakukan. Tapi sekarang, ulas dia, bisa dibilang amat jarang.

“Paling-paling kami ngumpul untuk shairing di satu tempat atau main biliard bareng,” sahutnya singkat.

Tidak seperti kaum gay yang secara terang-terangan punya basecamp atau tempat ngumpul semacam hangout bareng seperti di Jalan-Jalan Cafe yang terletak di bilangan Kuningan, ataupun Cafe 45. Lesbian, ungkapnya, tidak memiliki tempat spesifik yang dapat mencirikan itulah area mereka.

Senada dengan Agustine, Putri menuturkan selain di bilangan Kuningan, ada tempat lain yang menjadi rendevous komunitas lesbian yaitu di bilangan Taman Ria dan Dharma Wangsa.

Agustine melanjutkan walau begitu, komunitas gay seringkali mengundang mereka untuk gabung bersama tapi itu pun tak berlangsung lama. Satu per satu nomaden atau berpindah lokasi, mencari tempat yang lebih nyaman bagi para lesbian.

Salah satu kendala yang sering dihadapi adalah keterusikan mereka karena publik belum dapat menerima kehadiran mereka secara terbuka.

Mereka merasa nggak nyaman, dicemooh oleh orang, apalagi legalitas secara hukum juga belum berlaku di Tanah Air, inilah yang kerap mereka terima.

Meski begitu, the show must go on, jalan hidup yang telah di tempuh Agustine, Bonnie, serta teman-teman mereka yang lain, tetap jadi bagian dari suatu pilihan.

Tak heran, bila Agustine, yang juga concern terhadap masalah sosial ini, tampak ikut menyuarakan hati dalam pertentangan peraturan yang hendak mengaitkan kriminalitas dengan perilaku lesbian.

Pilihan orientasi seks perempuan

Sinta, Putri, Bonnie dan Agustine adalah contoh perempuan-perempuan yang akhirnya memiliki keteguhan hati untuk menentukan pilihan orientasi seksualnya dan tidak menerima pilihan orientasi seksual yang diamini mayoritas perempuan lain.

Tak heran mereka dianggap aneh sebab meski seksualitas sampai saat ini masih dianggap sebagai urusan pribadi, namun dalam kenyataannya seks saat ini terlihat mulai masuk pada ruang publik.

Alhasil, ketika seksualitas menjadi isu publik, seks menjadi objek yang mudah dipengaruhi pihak lain mulai dari struktur sosial, norma budaya, agama hingga negara.

Persoalan ini makin rumit, tak lain karena masyarakat menganggap hal ini tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Justru karena alasan inilah berbagai persoalan terkait seksualitas justru kian tersembunyi dengan berbagai kepentingan di dalamnya.

Untuk di Indonesia seksualitas begitu ditabukan sebagai bahan wacana publik bukan semata-mata karena dia membicarakan hal-hal yang sangat pribadi, tetapi terutama karena pembicaraan mengenai seksualitas dapat menyadarkan orang tentang tatanan sosial seksualitas yang diskriminatif dan eksploitatif kepada perempuan.

Pada beberapa kasus seksualitas dan gender malah bisa menjadi isu yang dibalut pasal-pasal agama untuk menjatuhkan seseorang dari panggung politik, contoh kasus paling konyol adalah isu haram presiden perempuan yang berhembus kencang saat Megawati tertatih-tatih menggantikan Abdurahman Wahid alias Gus Dur.

Sampai saat ini seksualitas hanya dipahami sebagai isu biologis dan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan (heteroseksual). Padahal, seksualitas jauh lebih luas dari sekadar persoalan biologis, apalagi hanya urusan hubungan badan.

Seksualitas mencakup seluruh kompleksitas emosi, perasaan, kepribadian, sikap dan bahkan watak sosial, berkaitan dengan perilaku dan orientasi atau preferensi seksual.

Akibat tabu itulah, pemahaman seksualitas mengalami reduksi bahkan distorsi. Bisa dipahami jika wacana seksualitas selama ini tidak paralel dengan perkembangan seksualitas sendiri yang terus berkembang.

Usaha-usaha sekelompok feminis dan aktivis kesehatan seksual yang peduli akan pentingnya pemahaman seksualitas pada golongan remaja pun sampai saat ini masih terhambat oleh kuatnya persepsi tradisional di masyarakat.

Tidak aneh sebab dalam setiap budaya, seksualitas manusia diarahkan dan bahkan kadang diberi struktur yang sangat kaku. Kultus keperawanan, konsep aurat, perkawinan, paham-paham kepantasan pergaulan lelaki dan perempuan, larangan terhadap seks di luar nikah, incest dan homoseksualitas semuanya merupakan regulasi seksualitas.

Julia I. Suryakusuma membagi seksualitas dalam pendekatan esensialis dan non-esensialis. Pendekatan esensialis, menurut dia mereduksi seksualitas sekadar dorongan alamiah-biologis yang hadir sebelum adanya kehidupan sosial, cenderung maskulin dan heteroseksual.

Sedangkan pendekatan non-esensialis beranggapan seksualitas dipengaruhi oleh suatu proses pembentukan sosial budaya yang melampaui aspek-aspek pembentukan lain dari perilaku manusia. Pendekatan ini beranggapan bahwa seksualitas adalah hasil bentukan (konstruksi) sosial budaya.

Alhasil dari sini timbul definisi normal dan abnormal, seperti halnya homoseksual, banci, wadam. Batasan ini setara dengan definisi nakal, berdosa, pezinah, gila, sakit, patologis, yang diatur dan dihukum menurut norma sosial yang berlaku dan menurut siapa yang berkuasa pada suatu kurun waktu.

Apalagi perihal isu homoseksualitas, tidak hanya di Indonesia, di negara-negara yang kental dipengaruhi agama Semit (Islam, Kristen, dan Katolik) kaum ini selalu dianggap sebagai kaum pendosa.

Contoh aktual yang dapat ditarik sebagai pelajaran adalah kembalinya George W. Bush ke tampuk presiden menggusur pesaing terkuatnya John Kerry. Salah satu isu penting yang dia bawa selama kampanye adalah penolakan dirinya terhadap kaum homoseksual.

Dalam tatanan masyarakat partiarkis, konstruksi sosial budaya atas seksualitas digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan dominasi laki-laki atas perempuan.

Dominasi ini terlihat dari sikap masyarakat yang menempatkan seksualitas perempuan tak lebih sebagai objek pemuas hasrat seksual kaum laki- laki dan alat melanjutkan keturunan.

Media massa (cetak dan elektronik) sedikit banyak memberikan ruang bagi eksploitasi seksualitas perempuan. Hal ini membawa dampak yang serius bagi meluasnya objektifikasi perempuan, perempuan hanya menjadi objek. Padahal, seharusnya ditempatkan sebagai subjek yang bermartabat.

Maka saat perempuan seperti Sinta, Putri, Bonnie atau Agustine menentukan pilihan orientasi seksnya sebagai lesbian, perempuan-perempuan ini sebenarnya boleh dikatakan sudah menempatkan pemenuhan seks pribadi mereka menjadi lebih bermartabat.

Bisnis Indonesia Edisi: 20/02/2005

1 Response to "Lesbian, apa perlu di-declare?"

Blog bagus.. Tapi aku lebih suka videonya yang hot.. Lain tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: