it’s about all word’s

Memahami pemikiran kelompok kiri

Posted on: February 22, 2008

Judul: Belok Kiri Jalan Terus
Editor: Adhe
Penerbit: Alinea, Juni 2005
Tebal: 293 halaman

Selama masa Orde Lama buku-buku marxisme atau ideologi kiri sangat mudah ditemukan. Perbicangan dan perdebatan ideologi pun marak, namun hal itu terhenti sejak berdirinya Orde Baru.

Tak hanya dilarang, memperbincangkan mengenai wacana kiri pun sudah cukup menjadikan seseorang penghuni bui. Seiring tumbangnya Suharto, buku-buku yang berisi wacana kiri kembali populer. Diskusi tentang ini pun tampil sama mudahnya dengan gelaran yang lain.

Bagi penjaja buku, perubahan politik ini juga menghapus berbagai hambatan ini, dan distributor serta toko buku yang semula ragu-ragu mengedarkan buku-buku semacam itu menjadi lebih bersahabat.

Toko-toko buku besar seperti Gramedia atau Gunung Agung pun tidak ragu-ragu memajang buku Che Guevara atau Friedrich Engels tepat di pintu masuk toko mereka.

Sementara toko buku kecil dan koperasi mahasiswa yang lama dikenal sebagai tempat penyebaran buku-buku terlarang itu kini tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi menyimpan dagangan mereka. Pendek kata sudah bebas baca karya kiri.

Sebagian menilai maraknya penerbitan buku kiri hanya mirip demam. Sebentar panas sebentar lalu menghilang lagi. Toh itu tak terbukti. Sampai kini buku kiri tetap digemari.

Pada sisi lain terbukanya akses kepada buku-buku seperti ini dalam kurun waktu yang panjang bisa mengkhawatirkan jika orangtua tidak mengimbangi dirinya dengan referensi yang lebih maju dibandingkan yang dikonsumsi sang anak.

Buku seukuran saku yang dijejali intisari wacana kiri setebal 293 halaman ini bisa menjadi referensi bagi yang menginginkan kemudahan informasi tentang idelogi kiri.

Buku ini terbagi menjadi empat bab yang disebut oleh tim penulis sebagai sumbu pendek a.l buku, film, musik dan sumbu pendek cadangan berupa dua bonus cerita.

Pemikir kiri

Dalam sumbu pendek pertama dapat ditemukan karya-karya pentolan pemikir kiri mulai dari Das Kapital yang disebut sebagai kitab suci kaum kiri dari nabi komunis Karl Marx, Antonio Gramsci, Che Guevara, Mao Zedong, Lenin, Ho Chi Minh, Paulo Freire hingga pentolan revolusioner Indonesia Tan Malaka dan Soe Hok Gie disajikan ringkas dan ringan mengalir.

Sedangkan dalam sumbu pendek kedua, yaitu film terdapat empat film yang sangat pantas disebut sebagai referensi film-film ‘mencerahkan’ seperti The Burning Season, The Motorcycle Diaries, Breaking the Silence dan Goodbye Lenin!

Selain pemilihan tema film yang jauh dari plot komersial, mutu keempat karya sinema tersebut diakui oleh komunitas dunia perfilman tingkat dunia.

Selanjutnya pada sumbu pendek tiga atau musik diterakan grup musik (band) yang menafikan aturan, hingga perlawanan terhadap sistem yang ada di lingkungannya. Beberapa band yang disebut di antaranya merupakan band-band legendaris.

Misalnya band politik Bad Religion, Sex Pistols, Rage Againts The Machine dan grup rap Publik Enemy.

Buku ini termasuk padat dan ringkas, namun justru di sini kekurangan dari buku ini.

Sebagai contoh, pembaca tidak akan mendapatkan gambaran yang sebenar-benarnya tentang Karl Marx yang meninggal dunia pada 1883, termasuk jumlah buku, pamflet, artikel panjang maupun pendek yang telah dihasilkan, sejarah hidup maupun kegiatan politiknya.
Bisnis Indonesia Edisi: 04/12/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: