it’s about all word’s

mencari mimpi di Dreamland

Posted on: February 22, 2008

Kembalikan Kutaku

“I Hate Kuta! Too much people and garbage!” Siang itu James bertelanjang dada dan sedang termangu di atas tebing di pantai New Kuta Beach atau yang disebut juga Dreamland.

Sementara itu, kawan James, Mick, yang juga memilih bertelanjang dada, buru-buru menarik tuas gas motor trailnya menuju pantai. Papan seluncurnya yang dibungkus kain terpal tampak kukuh terikat di samping sadel motor.

Siang itu matahari tak terlampau ganas memelototi Bumi Nusa Dewata. Selembar awan hitam yang tipis malu-malu menggantung di atas langit. Justru angin yang tak bosan-bosannya bertiup kencang.

Ombak pun datang susul menyusul. Tinggi dan panjang. Ombak yang sempurna bagi peselancar. James dan Mick, mekanik bengkel asal Australia, tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Mereka tak sendiri. Ada si pirang Michele asal London yang asyik ngobrol dengan bahasa tarzan dengan Pak Ketut di bale-bale. Sedangkan Yoshi yang asli Okinawa, Jepang, sedang menyiapkan diri. Ada pula ibu Sinta yang mengajak anak-anaknya menyusuri pasir lembut di pantai selatan Bali itu.

Sejak tahun 2000-an, pantai Dreamland memang semakin semarak. Ini tak terlepas dibukanya akses ke lokasi itu oleh proyek Pecatu Indah Resort (PIR) yang digarap Bali Pecatu Graha (BPG) pada 1994.

Proyek ini kemudian malah mangkrak selama enam tahun akibat krisis. Saat itu siapapun lebih mengasosiasikan operasional proyek PIR-BPG, yang memiliki luas 650 hektare ini, lantaran pemiliknya adalah Tommy Soeharto.

Gara-gara tak terurus sejak 1998, sebagian wilayah proyek ini sempat diambil alih warga. Alhasil, total lahannya menciut, sehingga kini hanya tersisa 400 hektare. Yang jelas PIR kini kembali berkibar.

Namun, Dirut BPG Made G. Putrawan sudah memberi jaminan akan tetap membuka akses ke pantai Dreamland dan memberikan hak pengelolaannya kepada masyarakat yang selama ini berbisnis di wilayah itu.

“Bisnis kita akan berjalan seiring dengan kepetingan masyarakat. Ke depan kami akan membangun penginapan dan kafe di sepanjang sisi tebing. Pengelolaannya tetap diserahkan ke tangan mereka,” ujar Made yang juga seniman itu.

Langkah Made sudah tepat. Pasalnya, jauh sebelum BPG menyentuh wilayah pegunungan kapur ini, sebetulnya sudah banyak para peselancar yang meniti ombak di kawasan indah tersebut.

Banyak kisah soal pantai itu. Anom, kawan kuliah saya yang gemar bolos kuliah demi memburu ombak di pesisir tebing bukit Pecatu, Kuta Selatan, misalnya, bercerita bahwa ombak di pantai tersebut bisa mencapai empat meter karena langsung berhadapan dengan Samudera Hindia.

“Ci [kamu] mesti lihat. Yang main pro [profesional] semua. Kalau masih baru belajar bisa celaka. Banyak karang,” ujar bangsawan Ubud itu yang setiap kali ke lokasi praktikum lapangan bercelana surfing yang masih basah.

Sayang, nama-nama pantai Dreamland, Bingin, Balangan, Padang-Padang dan Suluban tenggelam di balik kebesaran Pura Uluwatu. Padahal, jaraknya ibarat hanya setenggak minuman teh dari Pura yang dibangun Resi.

Wisatawan domestik pun lebih memilih bermain air di Kuta dan Sanur atau bertemu monyet-monyet nakal di Uluwatu. Monyet yang gemar merebut barang-barang pengunjung dan harus ditebus dengan cara membeli sesuatu dari sang pawang.

Lalu mengapa pantai di wilayah pesisir Pecatu kurang diminati, padahal letaknya di tepi jalur Badung-Uluwatu? Jawabannya tentu saja karena letak geografisnya yang secara alami terisolir dan tak mudah dicapai layaknya Kuta, Sanur atau Seminyak.

Pada beberapa pantai, Anda malah wajib merunduk-runduk menyusuri gua-gua di bawah tebing. Justru karena lanskapnya yang unik ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengunjung dengan minat khusus.

Rindu ketenangan

Jika di Kuta, begitu metropolis maka di Dreamline sangat urban. Beberapa peselancar tua yang sudah mengunjungi Bali dari 1970-an justru mengatakan suasana Dreamline adalah gambaran Kuta masa lampau. Mereka rindu suasana sunyi ketika acungan pedang dan tukang pijit masih sedikit.

Sebaliknya, kawasan itu seolah surga bagi turis asing untuk menikmati sepuasnya berjemur. Bagi perempuan bule, tentu saja bagian penutup dada tak diperlukan lagi demi kenikmatan tropis itu.

Inilah yang membuat pengusaha ‘kaos nakal’, Joger, mengasosiasikan musim berjemur di Kuta sebagai Milk Factory. Asosiasi yang tentu saja Anda bisa langsung mengerti.

Faktor lain yang membuat daya tarik Kuta merosot tentu saja pengelolaan pantai yang terbilang terlambat. Selain makin curam, pantai Kuta kini tak bersih. Bahkan, sampah bisa terdampar menggunung di musim-musim tertentu.

Selain itu tentu saja nuansa lokal yang kini makin sulit ditemukan di Kuta. Dahulu, turis-turis bisa dengan mudah akrab berbicang dengan penduduk desa. Kini itu menjadi pemandangan langka. Hanya di pesisir Pecatu masih bisa ditemukan.

Khusus untuk di pantai Dreamline, Anda masih bisa menjumpai warung-warung kecil dan penginapan sederhana, tapi bersih. Jumlahnya tak banyak, tapi suasananya akrab. Tarifnya pun tak mahal. Bahkan jika Anda pintar, bisa atas dasar kompromi.

Para pengelola penginapan yang seluruhnya warga Desa Pecatu itu sangat mengerti arti ekonomi kebangsaan. Kepada turis asing, harga yang ditawarkan bisa berlipat dibandingkan tarif untuk turis lokal.

Contohnya, sewa kursi berjemur. Jika Anda turis asing dihargai Rp50.000, sebaliknya jika Anda warga Indonesia, cukup mengangsurkan selembar pecahan Rp10.000. Selebihnay Anda bisa berjemur sampai puas. Sampai gosong sewarna pantat kuali pun tetap Rp10.000.

Tapi yang mahal dan diburu-buru orang di pantai yang panjangnya tak lebih dari satu kilometer ini adalah privasi. Karena terisolir, beberapa orang terkenal dapat dengan nikmatnya menikmati kesendirian.

Sebut saja beberapa pesohor yang dipergunjingkan tayangan gosip sedang asyik di pantai tersebut. Bahkan pasangan Dewi Sandra dan Glenn Fredly juga dipercaya sempat berbulan madu di tempat ini usai menikah di Tirtha Uluwatu yang terletak di ujung tebing Bukit Tanjung. Ya, tempat ini begitu romantis bagi yang punya pasangan.

Untuk masa mendatang, bisa dipastikan tempat itu bakal semakin ramai jika proyek PIR yang digarap enam pengembang raksasa itu selesai dibangun dan difungsikan.

Tak hanya akan berdiri kawasan rumah tinggal dan resor eksklusif tapi juga bakal ada hotel berbintang, Intra Golflink Resorts dan tentunya lapangan golf New Kuta Golf 18 lubang.

Bisa jadi jika pantai makin dipadati eksekutif penggila selancar sekaligus golf maka pada sisi lain, eksotisme dan privasi Dreamland bakal menguap seperti yang sudah dialami Kuta. Jika ini terjadi, siap-siap saja mengucapkan selamat tinggal pada pantai Tanah Impian itu.

Sederet akomodasi

Salah satu alasan orang pergi ke pantai adalah menikmati nuansa romantis kala Batara Surya menampakkan wajahnya yang ramah saat terbit atau tenggelam di kaki langit untuk memulai dan berisitirahat seharian memandangi Marcapada.

Kalau deretan pantai Sanur hingga ke Pulau Serangan yang menghadap timur menjadi rujukan semua orang menikmati matahari terbit sambil menikmati sarapan yang nikmat.

Maka, pantai-pantai di pesisir barat mulai dari Seminyak, Kuta hingga New Kuta Beach menjadi pilihan untuk menikmati sunset (matahari tenggelam). Susahnya, usai Batara Surya berlabuh di ufuk.

Justru setelah itu, malam yang tenang ditingkahi debur ombak sayang untuk terlalu cepat dilewatkan begitu saja. Hanya ada dua pilihan untuk hal yang satu ini, tetap tinggal di sekitar pantai atau pulang ke penginapan di daerah Badung.

Jika Anda memilih pilihan pertama maka tak usah khawatir. Tersedia penginapan dari berbagai kelas alias bisa disesuaikan dengan isi kantong Anda yang letaknya tak jauh dari pantai Dreamland.

Ada beberapa tempat menginap di Dreamland. Seluruh penginapan kecil dengan bentuk rumah panggung beratap alang-alang. Tentu saja tidak ada dering telepon, deru, decit dan klakson kendaraan.

Berlibur dan bermalam di pantai-pantai berkarang itu memang bak melarikan diri dari riuh kehidupan pariwisata Bali. Justru ini romantisnya, dan diburu pasangan yang terkena pengaruh asmara Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih.

Spa mewah

Kalau ingin variasi, Anda bisa berlabuh ke beberapa kafe sekaligus penginapan yang yang terselip di antara pohon-pohon kelapa Pantai Balangan. Tempat bernaung yang jumlahnya tak lebh dari lima itu memberi tarif sekitar Rp50.000 per malam.

Sementara itu bagi yang lebih suka memanjakan diri dengan kenikmatan, bisa saja Anda ke resor atau spa mewah yang hanya berjarak 10-15 menit berkendara dari pantai.

Salah satunya Dreamland Beach Cafe yang hanya butuh 10 menit dari pantai. Makanan ringan yang jadi andalan di tempat ini pasta, roti lapis serta minuman non dan beralkohol.

Ada pula resor Tirtha Uluwatu yang letaknya di Jalan Pantai Nyang Nyang, Uluwatu. Selain menyediakan kamar mewah, resor yang terletak di atas tebing Bukit Tanjung Badung juga menyediakan paket perkawinan.

Cara mudah ke New Kuta

Untuk bisa menikmati debur ombak Dreamland, Anda bisa masuk lewat beberapa cara. Cara pertama adalah jalur normal. Dari Bandara Ngurai Rai, Anda tinggal mengarahkan kendaraan selama 30 menit ke arah Uluwatu.

Setidaknya ada dua jalur, pertama melalui jalur melalui kampus Universitas Udayana dan Politeknik Bali yang lebih tenang karena tak harus sering berpapasan dengan truk-truk pengangkut batu kapur.

Jalur lain adalah melalui jalur By Pass Ngurah Rai-Kedonganan yang memiliki jalur relatif lebih sempit namun lebih ramai.

Pintu masuk ke Dreamland sendiri adalah gerbang BPG atau Kuta Golf Link yang ditandai patung Hanoman dan Garuda Wisnu Kencana yang jaraknya hanya 10-15 menit dari mega proyek tak pernah selesai Garuda Wisnu Kencana.

Setelah melapor ke petugas keamanan BPG dan membayar restribusi sebesar Rp5.000. Anda tinggal memacu kendaraan Anda menyusuri jalanan mega proyek yang tahun depan bakal menggelar turnamen golf internasional.

Agar bisa mencumbui bibir pantai Anda harus menuruni puluhan anak tangga yang dibangun mengiris tebing terjal. Begitu juga dengan pulangnya. Meniti anak tangga, hitung-hitung pemanasan dan pelemasan usai bermain ombak.

Sementara cara kedua lebih asyik. Jika Anda bosan bermain ombak di Pantai Balangan dan ingin ke pantai Dreamland, Anda bisa menyusuri sisi pantai yang langsung dinaungi dinding karang. Pada beberapa tempat kadang Anda harus menceburkan diri ke laut setinggi lutut atau sepinggang.

Ada pula cara yang lebih menantang dan lebih baik tidak Anda coba. Yaitu dengan cara menghanyutkan diri Anda dengan cara meniti papan melalui Pantai Balangan, tentu saja tidak mudah karena harus melawan ombak.

Cara terakhir juga bisa ditempuh namun lebih jauh yaitu dari Pura Uluwatu. Dari pura yang dibangun untuk menandai kedatangan Empu Kuturan itu Anda harus menempun jalan aspal berkelok-kelok.

Sebelum bertemu jalan tanah menuju pantai, pada jalan utama Denpasar-Uluwatu Anda harus berbelok kanan sebelum sampai di lokasi Pura. Dari sini Anda tinggal menyusuri bukit-bukit kecil dengan pepohonan yang lebat.

Meski sepi Anda tak perlu khawatir, di jalur ini terdapat beberapa resor dan hunian menjadi ‘teman’ di sepanjang perjalanan menuju pantai New Kuta.

Bisnis Indonesia Edisi: 12/11/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: