it’s about all word’s

Mencari pemimpin yang dibutuhkan BUMN

Posted on: February 22, 2008

Judul: Kepemimpinan BUMN
Penulis: Yoyok Widoyoko dkk
Penerbit: Gibon Group Publications
Cetakan: Oktober 2006
Tebal: 465 halaman

Judul: Menghela Roda Roda Inovasi
Penulis: Yoyok Widoyoko dkk
Penerbit: Gibon Group Publications
Cetakan: Agustus 2006
Tebal: 398 halaman

China adalah keajaiban Asia yang kini membuat dunia terperangah. Hanya dalam waktu kurang dari dua dekade sejak 1980-an, negara itu sudah menjadi Naga Asia yang makin membelit dunia.

Namun, dibalik kemajuan ekonomi negara tersebut, berdiri sistem ekonomi yang masih terpusat. China sangat serius merintis dan membangun badan usaha milik negara (BUMN) yang awalnya diproteksi, namun didorong agar kemudian melangkah secara profesional.

Sebaliknya, Indonesia yang sempat menjauhi China lebih suka menempuh langkah privatisasi yang ditempuh oleh negara-negara Barat. Meski pemerintah juga memahami bahwa menjual BUMN tidak semata mengejar setoran.

Sejak awal disadari privatisasi ditujukan untuk meningkatkan struktur permodalan dari BUMN yang bersangkutan sehingga mampu menjadi sebuah entitas bisnis yang terhindar dari kepentingan politis.

Pada kenyataannya privatisasi BUMN di negara manapun selalu menimbulkan pro dan kontra. Alasan yang menyertai biasanya soal nasionalisme dan kepentingan ekonomi sesaat.

Alasan privatisasi yang dilakukan pemerintah umumnya karena BUMN tersebut menjadi beban negara. Bukan rahasia lagi banyak perusahaan pelat merah itu merugi dan menjadi lahan korupsi. Untuk mengatasi hal demikian dibutuhkan pemimpin yang mampu memacu kinerja dan etos kerja BUMN. Sulit, namun harus dilakukan agar mampu bersaing di tengah kerasnya laju ekonomi yang makin mengglobal.

Dalam buku Kepemimpinan BUMN karya Yoyok Widoyoko dkk ini dijabarkan lima pemimpin BUMN yang mampu membuat perusahaan pelat merah yang mereka pimpin berkinerja tinggi.

Kelima pemimpin BUMN tersebut adalah Dirut PT Taspen Achmad Subianto, Dirut PT PAL Indonesia Adwin H. Suryohadiprojo, Dirut PT Industri Gelas (Iglas) Daniel S. Kuwandi, Dirut PT Perkebunan Nusantara X Duduh Sadarachmat, dan Dirut PT Indofarma Tbk M. Dani Pratomo.

Kelimanya sanggup mengubah perusahaan yang dipercayakan ke tangan mereka menjadi satu institusi yang sehat, efisien, dan menguntungkan, tak kalah jika diban-dingkan dengan institusi swasta.

Buku ini menarik karena dilengkapi perjalanan hidup para pemimpin BUMN tersebut. Jalan hidup mereka malah terkesan terjal dan keras, maklum untuk menata ‘sarang tikus’ dibutuhkan orang yang tahan banting.

Para penulis yang sebagian besar berlatar belakang wartawan tidak sekadar memasukkan kisah sukses. Sebaliknya, mereka memasukkan unsur konflik yang membuat buku ini mengasyikkan untuk dibaca.

Sebut saja kisah Dirut Iglas Daniel S. Kuwandi yang menata BUMN yang bobrok itu. Sayang dia akhirnya terpental karena tak tahan-dan tak didukung pemerintah-menghadapi tikus-tikus di perusahaan negara tersebut.

Daniel memang ditentang keras karena memberantas praktik korupsi. Akibatnya, serikat pekerja pun dijadikan senjata oknum-oknum tersebut. Demonstrasi hingga sabotase terjadi.

Konyolnya, penegak hukum dalam hal ini Polda Jatim justru turut bermain menambah kisruh Iglas yang berujung pengunduran diri Daniel.

Hal yang sama juga terjadi pada diri Dirut PT Indofarma Tbk M. Dani Pratomo yang dipercaya dan mampu melaksanakan tugas membawa perusahaan obat itu kembali sehat, tapi justru ditelikung pemerintah lewat cara yang memalukan.

Dani ditendang tanpa sebuah alasan yang jelas saat berhasil memajukan kinerja Indofarma yang sebelumnya begitu lama berkubang dalam kondisi finansial menyedihkan.

Kedua kisah tersebut tentu menarik sebab, dibalik kinerja BUMN yang mulai membaik masih ada borok di tubuh kementerian BUMN di bawah pimpinan Sugiharto. Sudah seharusnya dia menanggapi buku menarik ini.

Buku Menghela Roda-Roda Inovasi banyak berkisah tentang jatuh bangun perjalanan industri kereta api nasional.

Pemerintah masih lebih gemar mengimpor gerbong atau lokomotif dari pada memanfaatkan teknologi yang sudah mampu dibangun oleh tangan anak-anak bangsa. Padahal hasil karya anak negeri sudah diakui oleh dunia internasional.

Bisnis Indonesia Edisi: 03/12/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: