it’s about all word’s

Mendirikan usaha, menebar manfaat

Posted on: February 22, 2008

Judul : River Company : Apa yang Membedakan CNI dengan MLM Kubangan
Pengarang : Rhenald Kasali dan Mahendra Gautama
Penerbit : Primamedia Pustaka, November 2006
Tebal Buku : 294 halaman.

Tahun 1970-an, Jepang dilirik seluruh dunia karena pertumbuhan ekonominya yang luar biasa. Selain etos kerja masyarakat Matahari Terbit yang kental dengan prinsip Makoto, korporasi Jepang dibangun dengan loyalitas atau rasa memiliki.

Alhasil perusahaan di Jepang tak hanya berdiri karena memiliki motif ekonomi, tetapi tumbuh dan memberi naungan bagi banyak orang alias telah menjelma menjadi lebih dari sekadar entitas ekonomi (economic entity), juga entitas kultural (cultural entity).

Padahal seratus tahun sebelumnya, hal ini sudah dirintis oleh korporasi barat yaitu NV Philips di Eindhoven sejak 1891 yang mengembangkan gerakan Geestelijke Weerbaarheid (Ketahanan Rohani).

Kali ini Rhenald Kasali dan Mahendra Gautama mencoba menelusuri konsep river company yaitu perusahaan yang didirikan bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, melainkan untuk memperbarui dan menyejahterakan kehidupan.

Kebalikan dari konsep ini adalah perusahaan kubangan (puddle company) yang mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan berbagai cara, tanpa memikirkan konsekuensi yang dapat merugikan lingkungan dan masyarakat.

Menurut Rhenald, beberapa perusahaan yang masuk dalam kriteria river company antara lain Ford (perusahaan otomotif dari Amerika Serikat), Nokia (perusahaan telekomunikasi dari Finlandia) dan DuPont (perusahaan berbasiskan science-chemical dari Amerika Serikat).

Ketiga perusahaan raksasa tersebut mampu bertahan hingga sekarang selama hampir dua abad, ibarat mata air sungai yang terus mengalir, memiliki siklus kehidupan dan memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Rhenald menemukan sebuah river company di Tanah Air yaitu PT Citra Nusa Insan Cemerlang atau lebih dikenal sebagai CNI.

Seperti prinsip kearifan sungai, filosofi bisnis ini yang menandaskan bisnis bukanlah sekadar economic activity, melainkan juga sebuah cultural activity, sekaligus menyandang prinsip-prinsip ekologi.

Orang-orang yang memandang perusahaannya sebagai economic firm akan cenderung mengabaikan keseimbangan lingkungan. Economic firm adalah cerminan dari man ego yang hanya menyisakan kubangan.

Kubangan tidak memiliki mata air, tidak mengalir, dan terbentuk oleh adanya opportunity berupa hujan semusim, yang airnya melimpah sesaat, lalu akan menyusahkan banyak orang dari alam yang kusam, dangkal, menyimpan penyakit, dan menyisakan harapan-harapan kosong.

Itulah yang sebenarnya terjadi saat kita menyaksikan MLM money game yang menyisakan banyak korban dan harapan semu. Mulai dari YKAM, Pundi Emas, QiSar, sampai pada Probest yang heboh pada 2003.

Prinsip-prinsip kesungaian yang digagas dalam buku ini niscaya merupakan kunci sukses yang sangat penting untuk membangun masyarakat sekaligus memberi kesejahteraan secara merata, mulai dari komunitas karyawan, pelanggan, sampai pemilik perusahaan.

Dalam buku setebal 294 halaman ini Rhenald mengajak kaum muda yang sedang merintis usaha agar jangan lagi membangun kubangan, melainkan membangun dengan prinsip-prinsip kesungaian.

Bisnis Indonesia Edisi: 07/01/2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: