it’s about all word’s

Mengintip perang film Indonesia di JiFFest

Posted on: February 22, 2008

Untuk pertama kalinya ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) menghadirkan kompetisi Film Cerita Panjang Indonesia. Film yang terpilih adalah karya anak bangsa yang dirilis dari November 2005 sampai Oktober 2006.

Sedikitnya terdapat 29 film yang bakal berebut hadiah uang sebesar US$5.000 untuk Sutradara Terbaik dan Film Terbaik. Kecil memang tapi gengsi di ajang ini dipertaruhkan.

Bisnis mencoba mengintip film-film yang berpeluang menjadi yang terbaik dalam ajang tahunan film-film independen ini.

Tema cinta masih mendominasi a.l Apa Artinya Cinta, Berbagi Suami, Belahan Jiwa, Gue Kapok Jatuh Cinta, Heart, I Love You Om, Jomblo, Foto Kotak dan Jendela, Ruang, dan Jatuh Cinta Lagi.

Dari tema horor muncul Dunia Lain: The Movie, Lentera Merah, Rantai Bumi, dan Rumah Pondok Indah. Tema setan itu disaingi oleh tema-tema remaja a.l d’Girlz Begins, Realita Cinta dan Rock’N Roll, dan Cewe Matrepolis.

Di luar itu terdapat film bertema di luar dua tema besar tersebut a.l. Betina, Eskul, 9 Naga, Ekspedisi Madewa, Opera Jawa, Koper, dan Maskot.

Film anak-anak diwakili Denias Senandung di Atas Awan dan Serambi. Sedangkan musik berlatar musik diwakili Garasi dan Mendadak Dangdut.

Beberapa penghargaan yang sudah pernah diberikan pada beberapa film rasanya juga pantas menjadi pertimbangan dan memperbesar peluang kemenangan.

Sebut saja Berbagi Suami yang meraup berbagai penghargaan. Dari ajang Festival Film Bandung (FFB) 2006 film karya Nia Dinata ini dinobatkan sebagai Film Terpuji.

Kisah poligami

Film yang menceritakan kisah poligami dari sudut pandang perempuan ini mengantongi 10 dari 11 kategori yang diunggulkan.

Nia sendiri meraih penghargaan sebagai sutradara dan penulis skenario terpuji. Sedangkan Ira Maya Sopha merebut penghargaan pemeran pembantu wanita terpuji dan Dominique pemeran utama wanita terpuji dalam film yang sama.

Film laga 9 Naga meraih kategori pemeran utama pria terpuji yang diberikan pada Lukman Sardi sementara film Realita Cinta dan Rock and Roll meraih pemeran pembantu pria terpuji untuk aktor laga Barry Prima.

Lalu dari ajang MTV Indonesia Movie Awards 2006, lagi-lagi Berbagi Suami kembali mendominasi dengan membawa pulang tiga piala Popcorn untuk Most Favorite Supportive Actress, Supportive Actor dan Movie of The Year.

Untuk Most Favorite Actress diraih Ria Irawan, sedangkan Most Favorite Actor menjadi milik aktor pemeran pria hidung belang, Tio Pakusadewo.

Yang unik film jantan 9 Naga karya Rudi Sudjarwo gagal meraup penghargaan, justru film Mendadak Dangdut berhasil menyabet Most Favourite Actress untuk Titi Kamal.

Piala Popcorn yang mengejutkan tentu saja saat dipilihnya film Heart pada kategori Most Favourite Heart Melting Moment untuk Nirina Zubir dan Irwansyah, Most Favourite Movie dan Best Song in The Movie untuk duet lagu berjudul sama yang dinyanyikan Irwansyah dan Acha.

Dari ajang luar negeri, secara mengejutkan film anak-anak Serambi yang diproduseri Christine Hakim dan disutradarai empat sutradara yaitu Garin Nugroho, Lianto, Toni, Westi berhasil terpilih untuk diputar dalam sesi Un Certain Regard Cannes Flm Festival 2006.

Serambi dipilih bersama 25 film lainnya setelah diseleksi dari ribuan film. Karya tentang Aceh pasca tsunami ini unik karena menggunakan pendekatan dokudrama yang menggunakan bahan video.

Sesi Un Certain Regard sangat bergengsi karena disejajarkan dengan Forum Des Jungens Film (Forum New Cinema) Berlin Film Festival.

Kejutan terbaru tentu saja berasal dari Nantes International Film Festival 2006, akhir November lalu yang memilih Artika Sari Dewi sebagai artis terbaik untuk perannya dalam Opera Jawa.

Selain itu, festival tertua di dunia tiga benua (Asia-Amerika-Eropa) juga mengganjar Opera Jawa dengan penghargaan musik latar terbaik untuk karya berjudul Rahaya Supanggah.

Karya Garin Nugroho ini sebelum dirilis memang sudah hebah berkat aksi protes World Hindu Youth Organization (WHYO) alias Organisasi Pemuda Hindu Sedunia.

Alasannya Garin Nugroho dinilai telah melencengkan kesucian dan kesakralan ajaran Hindu yang termaktub dalam kitab Ramayana. Tuntutan mereka a.l stop produksi film itu dan jangan kaitkan dengan Ramayana, Rama, Sinta, Hanoman, dan semacamnya.

Meski demikian film-film lain yang belum meraih predikat terbaik atau terfavorit tidak bisa memberi kejutan dalam JiFFFest. Sebut saja 9 Naga yang sebetulnya dari sisi penggarapan cerita sangat baik.

Selain itu bisa juga film karya Teddy Soeriaatmadja yang menampilkan keindahan alam Indonesia bisa sama bersaingnya dengan Denias Senandung di Atas Awan yang memamerkan keelokan alam Papua.

Film bertema cinta dan remaja pun bukan tak berpeluang. Sebut saja Jomblo yang cukup mendapat perhatian berkat kemampuan Hanung Bramantyo mengadopsi novel karya Adhitya Mulya.

Film musik Garasi yang di garap Agung Sentausa pun tak kalah bisa mengejutkan jika melihat nuansa independen, sebuah tema yang tak umum untuk film remaja Indonesia.

Satu tema yang Bisnis yakini akan tertutup peluangnya adalah tema horor-klenik dan remaja yang sekadar mengumbar tampang cantik dan setan-setan lucu tapi kedodoran dalam hal cerita dan kekuatan akting pemerannya.

Bisnis Indonesia Edisi: 14/12/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: