it’s about all word’s

Ngabuburit memburu buku agama

Posted on: February 22, 2008

Pada bulan Ramandhan banyak toko buku kebanjiran pembeli. Buku agama Islam mendominasi penjualan. Selain untuk menambah pengetahuan mengenai Islam mereka juga menghabiskan waktu menunggu buka di toko buku.

Bulan Ramadhan baru memasuki hari keempat awal pekan ini. Udara Jakarta seperti tersengat panas yang luar biasa. Manusia seperti begitu saja menyingkir dari jalanan yang dijilat panas matahari menjelang pk.14.00. Namun, di satu sudut di lantai tiga Tendean Plaza di Jl. Kapten Tendean, Jakarta Selatan, tepatnya di Toko Buku Gunung Agung, sekelompok orang seperti tak menghiraukan panas di luar. Mereka asyik membaca buku agama diiringi suara nasyid dari sebuah tape recorder yang dioperasikan sang operator dan menggema di seluruh ruangan yang berpendingin.

“Hampir setiap hari sepulang kuliah saya ke sini [Gunung Agung], sambil menunggu buka. Pas buka di sini banyak restoran, tinggal pilih mau makan apa,” ujar Risnawati, seorang mahasiswi jurusan humas Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Interstudi

Menurut Risna, begitu gadis ini disapa, mengunjungi toko buku untuk membaca buku-buku agama sudah ditekuninya sejak dua Ramadhan terakhir. “Kalau ada yang bagus saya beli, tapi kalau tidak ada ya lihat-lihat saja,” katanya.

Kalau bukan Toko Buku Gunung Agung, Risna biasanya bergegas menuju Toko Buku Gramedia di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. “Membaca buku-buku Islam di saat Ramadhan berbeda dengan hari-hari biasa, sepertinya kita lebih kusuk.”

Selain memang untuk memperdalam pemahaman mengenai Islam, membaca buku di toko-toko buku juga menjadi semacam kegiatan untuk menunggu buka (ngabuburit).

Iqro, bismi robbikalladzii kholaq (Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan), demikian petikan wahyu pertama yang diturunkan. Iqro, bacalah, adalah seruan Tuhan bagi umat muslim. Sehingga tidak mengherankan jika pada minggu-minggu ini terdapat kecenderungan umat muslim untuk memborong buku-buku yang bertema Islami, baik dengan topik yang berat hingga hal-hal yang bersifat ringan.

Umat Islam pun setiap kali menjelang bulan Ramadhan selalu membutuhkan buku-buku panduan bagaimana puasa dengan baik dan khusuk, manfaat puasa bagi kesehatan baik fisik maupun psikis.terhadap panduan soal ibadah puasa, untuk mempersiapkan mental menyambut Ramadhan karena bulan Ramadhan bukan sembarang bulan.

Menurut chief executive officer Mizan Learning Centre Hernowo, umat muslim yang sadar bahwa agama adalah kebutuhan dasar manusia sehingga sejak awal bulan mendekati bulan Ramadhan secara otomatis akan meningkatkan apresiasinya terhadap buku-buku agama.

“Selain itu, telah terbukti dengan membaca buku-buku agama [Islam] akan membantu pembentukan kecerdasan spriritual,” ujarnya.

Tentu saja di balik tingginya atusias keinginan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengasah kecerdasan spiritual tersebut dengan alasan kepentingan bisnis menjadi momen yang tepat bagi produsen buku untuk mendongkrak penjualan buku-buku produksinya.

Akibatnya setiap mendekati bulan Ramadhan pasti selalu saja ada buku-buku baru yang berisi panduan tentang puasa ditawarkan bagi umat Islam yang ingin mempelajarinya.

Hernowo membenarkan tersebut, sebab hampir bisa dipastikan dalam kurun dua minggu sebelum dan dua minggu sesudah masa Ramadhan adalah masa tertinggi buku-buku Islami.

Karena permintaan yang tinggi, maka untuk penulis dan produsen buku, lanjutnya, mengeluarkan karya buku-buku muslim di bulan Ramadhan tersebut, sama saja jika diibaratkan produk itu akan laris mirip kacang goreng.

“Namun, justru di antara pertengahan bulan Ramadhan kebanyakan konsentrasi konsumen malah beralih pada kebutuhan sandang,” lanjutnya.

Sehingga pada masa-masa awal dan akhir Ramadhan itu kemudian dimanfaatkan oleh banyak toko buku memberikan program diskon khusus terhadap buku-buku Islam bagi pengunjungnya.

Selain itu ada juga hal yang disadari atau tidak turut memancing antusiasi khalayak ramai kepada buku adalah ditawarkannya buku-buku tersebut seusai kegiatan masjid. Semisal penyelenggaraan acara seperti pesantren kilat untuk berbagai kalangan, bimbingan baca dan tulis Al Qur’an, dan pengajian malam.

Tayangan televisi

Faktor lain yang juga turut menciptakan ketertarikan kepada buku menurut Hernowo adalah tayangan keagamaan di televisi. Namun bagi sebagian pemirsanya yang cukup kritis, tayangan-tayangan tersebut ada yang masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan dan belum terjawab.

Orang-orang inilah yang kemudian beralih kepada buku-buku sebagai tempat mencari informasi. Selain itu berkembangnya pencarian masyarakat terhadap persoalan-persoalan Islam ke buku-buku bebas di satu sisi memberikan alternatif lain dalam hal pandangan terhadap persoalan yang terjadi. Sehingga suatu masalah ke-Islam-an tidak dipandang lagi dalam satu sisi semata.

Hanya saja, lanjut Hernowo, cukup banyak dai yang memberikan materi ceramah di televisi atau di acara-acara keagamaan kurang menunjukkan bahwa yang bersangkutan memiliki pandangan yang baru.

“Saya melihat ada kesan kurangnya bacaan yang dikonsumsi oleh pada dai, padahal penontonnya sudah membaca buku-buku yang sudah jauh melampaui pemikiran tersebut,” paparnya.

Selain itu, lanjutnya, untuk saat ini jarang pemikir-pemikir Islam senior yang sanggup menuangkan gagasannya dalam bentuk satu tulisan yang berbobot.

Hernowo memberikan harapannya agar dalam kondisi seperti ini akan memacu pemikir-pemikir muda untuk terpacu menuangkan pemikirannya ke dalam bentuk buku.

Meskipun begitu sebenarnya prinsip-prinsip puasa sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru. Puasa sudah menjadi tradisi sejak dulu karena puasa sudah menjadi naluri manusia. Hanya saja dalam buku-buku yang disediakan oleh produsen dapat ditemukan informasi tentang hikmah-hikmah yang baru dan belum banyak disinggung dalam keseharian.

Buku fiksi

Ngabuburit dengan memilih kegiatan membaca buku-buku Islami pun semakin marak seiring dengan pesat pertumbuhan penerbitan buku bacaan keagaaman. Jenisnya pun beragam dari yang bersifat serius tentang fenomena keagamaan hingga yang bersifat naratif seperti fiksi.

Bahkan yang disebut terakhir ini tampaknya menjadi perhatian tersendiri khususnya kalangan remaja. Mendiknas dari kabinet gotong royong, A. Malik Fadjar pada suatu kesempatan mengatakan bahwa belakangan ini penerbit-penerbit buku baik fiksi maupun non fiksi termasuk yang bersifat keagamaan semakin menjamur. Tentu fenomena seperti itu sangat menggembirakan.

Apalagi sudah sekian tahun Indonesia menyandang predikat minat baca masyarakatnya masih memprihatinkan. Karena itu, kata Mentri, tradisi buku dan membaca ini perlu mendapat dukungan masyarakat luas.

Peminat bacaan fiksi Islam juga diakui Sandra Dewi dari penerbit Asy Syamil. Sepertinya perekembangan pembaca buku-buku Islami ini seiring dengan meningkatnya kesadaran keagamaan di kalangan masyarakat. Karena itu tak heran bila konsumen buku Islami ini bukan hanya terbatas komunitas sekolah-sekolah menengah Islam, pesantren tetapi juga masyarakat luas di perkotaan.

Bahkan buku fiksi Islam yang mengisahkan wanita-wanita berjilbab boleh dikatakan laris bak kacang goreng. Bayangkan saja jika tahun-tahun sebelumnya frekuensi kemunculan fiksi Islami hanya sekitar enam sampai 10 judul, belakangan sudah lebih dari 12 judul.

Buku-buku eksklusif religius Islam juga menjadi unggulan dari PT Toko Gunung Agung Tbk. Sebagaimana disampaikan Edison Manalu, division head PT Gunung Agung, buku bacaan umum agama Islam, sholawat dan dzikir terbitan Gunung Agung ini tergolong buku best seller.

Bahkan untuk bacaan murni menduduki urutan pertama dibanding penjualan buku-buku yang lain. “Begitu juga dengan buku religius berisi kompilasi ayat-ayat dan salawat Nabi karya (Alm) Agus Wirahadikusuma sangat mendominasi penjualan di toko Gunung Agung,” paparnya..

Sementara untuk fiksi Islam masuk lima besar. Edison mengatakan Gunung Agung bukan hanya menerbitkan buku rokhani Islam untuk kalangan dewasa tetapi juga bacaan Islami untuk remaja dan anak-anak

Laris manisnya buku Islami juga terlihat di Kinokuniya Book Stores baik yang di Sogo Plaza Senayan maupun Plaza Indonesia. Hengky Souisa, bagian pembelian PT Kinokunia Bukindo mengatakan meski belum terekap seluruhnya karena bulan puasa baru berjalan hampir dua minggu namun secara kasat mata hampir setiap hari terjadi transaksi. Bahkan tidak jarang beberapa judul buku cepat habis.

“Pada event Ramadhan ini kami sengaja menata buku-buku Islami di tempat strategis [hight light] sehingga begitu pengunjung masuk sudah bisa langsung melihatnya,” kata dia.

Memang, untuk sementara ini yang terlihat laris adalah buku Islami terbitan lokal khususnya seperti DAR Mizan. Tapi bukan berarti buku Islam terbitan asing tidak laku.

Buku tentang Islam seperti karya Karen Amstrong juga diminati. Apalagi buku tersebut tidak hanya hadir dalam bahasa Inggris tapi sudah ada yang terjemahan dalam bahasa Indonesia. “Buku terjemahannya inilah yang kini banyak dicari pembeli,” tambah Hengky.

Tak kalah menarik adalah kitab suci Alqur’an sendiri yang kini juga terlihat banyak peminat. Kiokuniya sendiri menyediakan kitab tersebut dalam lima ukuran mulai dari yang kecil (saku) hingga besar. “Banyak dari mereka yang membeli buku Islami dan Alqur’an untuk melengkapai parcel lebaran,” ujar Hengky.

Meningkatkan minat baca

Benarkah selama bulan puasa selalu berhubungan dengan meningkatnya minat baca buku-buku Islam, jawabannya bisa ya bisa juga tidak.

Ya jika kita menghubungkan dengan jumlah penjualan buku, namun bisa juga jawabannya tidak jika kita menghubungkan dengan kualitas buku yang dibaca.

Secara umum buku-buku yang laku dan ramai di baca di bulan Ramadhan masih seputar buku-buku yang topiknya ringan. Masih sedikit jumlah khalayak ramai antusias terhadap buku-buku Islami bertema berat, misalnya buku tentang Fiqih (ilmu yang mengatur tentang hukum tata peribadatan Islam).

Hal tersebut tidak aneh, sebagai referensi tidak berlebihan rasanya jika kita menengok dan mencari perbandingan dengan negara yang telah memiliki budaya membaca yang cukup tinggi.

Malaysia, misalnya, merupakan salah satu negara di kawasan Asean yang memiliki SDM berkualitas karena tingginya animo untuk membaca.

Secara substansial dan visual, minat baca masyarakat Malaysia tinggi karena kepedulian penuh pemerintah Malaysia dalam meningkatkan SDM. Ada lima prinsip yang diterapkan Malaysia untuk meningkatkan minat baca, yaitu knowledge minded (cinta pengetahuan), inovating minded (cinta perubahan), reflektif, kreatif, dan proaktif. Tidaklah aneh jika produksi buku di Malaysia meningkat dari tahun ke tahun.

Namun berlebihan jika lalu kita memvonis bahwa masyarakat Indonesia berbudaya baca rendah tanpa melihat realitas kehidupan masyarakat serta implementasi kebijakan pemerintah yang telah digariskan. Sebab kebiasaaan dan kecintaan membaca merupakan keharusan untuk membentuk masyarakat belajar (learning society).

Sampai saat ini pemerintah sebagai pemegang kebijakan untuk mewujudkan masyarakat pembaca masih saja menerapkan kebijakan yang semu dan akan terus menyebabkan semakin merosotnya kualitas bangsa.

Apalagi sikap apatis dari sebagian masyarakat terhadap budaya ke arah masyarakat pembaca ini, perlu dirombak secara bertahap dan berkesinambungan.

Selain itu selama sektor pendidikan masih belum mendapat proporsi yang ideal maka tujuan itu tidak akan tercapai. Padahal, sektor ini memegang tugas berat yang banyak menentukan berkualitas tidaknya sumber daya manusia (SDM) bangsa Indonesia.

Sehari-haripun perpustakaan yang ada di sekolah yang seharusnya menjadi pilar utama membangun dan mengasah minat anak untuk mencintai buku belum banyak bisa diharapkan.

Tidak sedikit orang mengandaikan perpustakaan sekolah bagai kerakap tumbuh di atas batu, hidup segan mati pun tak mau. Ungkapan ini cukup beralasan karena jumlah koleksi perpustakaan sekolah menoton dari tahun ke tahun.

Dalam kondisi seperti itu terlalu sulit untuk menjaring siswa datang dan membaca di perpustakaan. Padahal, anak/remaja usia 9-15 tahun merupakan usia produktif untuk membentuk kebiasaan membaca dan mencintai bahan-bahan bacaan.

Demikian pula, guru yang menjadi tangan kanan pemerintah dalam upaya mencerdaskan bangsa belum bisa berbuat optimal. Hal ini disebabkan oleh kecilnya nafkah yang diterima untuk dapat disebut hidup layak. Kalau hal ini tidak segera ditangani, akan berdampak pada segala aspek pembangunan.

Animo membaca

Sebagai referensi, tidak berlebihan menengok dan mencari perbandingan dengan negara yang telah memiliki budaya membaca yang cukup tinggi.

Malaysia, misalnya, merupakan salah satu negara di kawasan Asean yang memiliki SDM berkualitas karena tingginya animo untuk membaca.

Pada sisi lain, Malaysia berani memproklamasikan diri sebagai salah satu negara Asean yang memiliki SDM paling berkualitas di kawasan ini.

Selain itu terdapat beberapa unsur yang menggerakkan siswa di Malaysia untuk gemar membaca a.l. mengampanyekan bahwa kualitas suatu bangsa banyak ditentukan dari kegemaran membaca warga negaranya melalui media televisi, radio, surat kabar, majalah, leaflet, buletin, dan brosur yang relevan.

Tidak aneh kalau kemudian hampir setiap saat di Malaysia banyak diselenggarakan kuis dan sayembara. Hadiahnya pun mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah bagi setiap pemenang untuk merangsang minat baca.

Dari segi penerbitan dan pencetakan buku, kriteria utamanya adalah buku yang mampu menggugah dan meningkatkan kegemaran membaca. Menurut versi pemerintah Malaysia, topiknya harus selalu aktual termasuk untuk buku-buku pelajaran.

Buku yang diterbitkan tidak hanya berkualitas secara substansial keilmuan, tetapi juga menarik secara visual. Profesionalisme penulis buku pelajaran amat ditekankan.

Profesionalisasi yang dicanangkan sebagai langkah antisipasi pasar kesejagatan (globalisasi).

Dalam bidang perpustakaan ada hal-hal menarik yang bisa dipetik a.l. manajerial dan pengembangan perpustakaan dilakukan secara profesional, penambahan judul buku terus-menerus untuk memenuhi segala kebutuhan peminjam, memiliki infrastruktur penunjang seperti internet, intranet, dan katalog yang lengkap, serta sarana pendukung lain.

Dengan geliat yang aktual, inovatif, dan variatif, tidaklah mengherankan jika Malaysia benar-benar berjaya dalam pengembangan sumber daya manusia.

Padahal potensi SDM Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan negara Malaysia. Bahkan, tidak kalah juga dengan negara-negara maju yang menjadi pusat peradaban dunia.

Bisnis Indonesia Edisi: 24/10/2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: