it’s about all word’s

Peran penting Semarang pada masa lalu

Posted on: February 22, 2008

Judul: Meretas Masa, Semarang Tempo Doeloe
Penulis: Edy Muspriyanto dkk
Penerbit: Terang Publishing, Agustus 2006
Tebal: 130 halaman

Masa lalu memang tak bisa dilepaskan dari masa kini. Kondisi saat ini tak akan mungkin dilepaskan dari masa lalu termasuk di antaranya arsitektur gedung atau lanskap kota.

Pelestarian terhadap hal tersebut berkaitan erat dengan wawasan identitas yang terbentuk dari sosok arsitektur dan lingkungan budaya yang beraneka ragam, seperti warisan arsitektur tradisional, peninggalan kolonial, arsitektur modern, dan pascamodern.

Untuk mengingat masa lalu, tabloid Seputar Semarang (SS) yang menjadi suplemen koran terbesar Jawa Tengah Suara Merdeka menerbitkan buku berjudul Semarang Tempo Doeloe: Meretas Masa. Artikel di dalamnya merupakan kumpulan tulisan yang pernah dimuat.

Tabloid tersebut selalu memberikan informasi khas tentang denyut nadi perkotaan hingga gedung atau kawasan tua di seputar Semarang yang ternyata mengguratkan sejarah penting bagi Indonesia.

Yang menarik dibanding dengan sejumlah buku tentang Semarang yang telah terbit sebelumnya, buku setebal 130 halaman ini menampilkan 52 bangunan, lokasi penting, dan seremoni dalam kondisi dan waktu berbeda.

Buku ini dilengkapi sekitar 400 foto lama dan baru. Fotografer buku ini, Maulana Muhammad Fahmi, cukup sabar menunggu waktu terbaik menangkap kondisi objek.

Buku ini juga menyajikan tokoh Semarang tempo dulu yang menorehkan sejarah di tingkat nasional dan dunia, seperti pencipta dan penggubah musik Jawa Ki Nartosabdo, arsitek Herman Thomas Karsten, raja gula dan candu Oei Tiong Ham dan pelukis naturalis kenamaan Raden Saleh Bustaman.

Terlalu ringan

Meski memiliki data yang cukup lengkap, banyak detail yang seharusnya bisa membuat orang mendapat informasi tentang kondisi penting Semarang di masa lampu justru tak cukup digali.

Misalnya, cerita rakyat, orisinal,dan sederhana seperti legenda perkotaan (urban legend ) yang bisa menjadi gambaran situasi Semarang tempo dulu justru kurang mendapat porsi. Hanya ada dua artikel yang terselip di buku ini yaitu Dugder dan Warak Ngedog.

Padahal hal-hal kecil ini yang dapat menambah bahan diskusi mengenai sejarah Semarang dalam sudut pandang lain. Sebut saja permainan yang biasa dimainkan rakyat, makanan, pakaian komunitas Tionghoa, penyakit, bencana alam, upacara pernikahan, perayaan-perayaan besar lengkap dengan mitos-mitos yang ada di dalamnya.

Barangkali dalam edisi mendatang, penulis dan penerbit bisa mengambil format laporan Soerabaia Tempo Doeloe yang ditulis secara bersambung di Radar Surabaya oleh Dukut Imam Widodo, penulis, novelis sekaligus karyawan PT. Smelting, Gresik.

Cetakan dobel juga menjadi ganjalan bagi sebuah buku yang ditujukan untuk sebuah terbitan yang eksklusif seharga Rp120.000.

Salah satu penulis buku ini mengatakan bakal ada edisi lanjutan. Artinya masih terbuka kesempatan untuk membenahi kekurangan yang ada. Selebihnya acungan jempol pantas diberikan bagi buku ini.

Bisnis Indonesia Edisi: 12/11/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: