it’s about all word’s

Phil Perry: Ingin main bareng Syaharani

Posted on: February 22, 2008

Ungkapan itu diucapkan Phil Perry, vokalis jazz asal AS, yang bakal jadi salah satu bintang pada pergelaran festival Dji Sam Soe Super Premium Jak Jazz 2006 yang bertempat di Istora Senayan Jakarta mulai hari ini hingga akhir pekan ini.

Menurut Phil, penyanyi asal Malang itu memiliki karakter vokal yang unik. Hal itu sudah dibuktikannya saat manggung bareng dalam konser Bali for The World empat tahun silam.

“Saya sangat senang dengan karakter vokalnya yang sangat unik dan bisa saling mengisi. Dia pemusik jazz yang paling ingin saya ajak kolaborasi di atas panggung,” ujar Phil kepada Bisnis.

Sayang keinginan itu harus dipendam Phil. Pasalnya Syaharani absen di panggung Jak Jazz. Selain Syaharani, pemain drum terkenal Gilang Ramadhan beserta bandnya, Nera, juga batal manggung.

Meski begitu, Phil berjanji tetap tampil maksimal untuk memuaskan para penggemarnya di Indonesia. Fans itulah yang menjadi alasan Phil untuk menyempatkan waktu datang ke Indonesia.

“Saya sangat suka main di negara ini. Penonton di sini selalu ingat dengan artis yang tampil baik. Jiwanya sangat berbeda dengan penonton di Amerika. Mereka sekadar nonton lalu pulang begitu saja,” lanjut pria yang lahir di Saint Louis itu.

Phil termasuk artis yang juga tampil di Jak Jazz 1988. Saat itu dalam pergelaran di Taman Impian Jaya Ancol, Phil satu aksi bersama gitaris top Lee Ritenour.

Menurut rencana, di panggung Jak Jazz 2006 nanti, Phil bakal manggung bersama Ireng Maulana. “Tentu saja nanti bakal banyak improvisasi. Justru ini yang mengasyikkan dan tak akan bisa ditemukan di dalam studio.”

Tidak ada keinginan kolaborasi dengan pemain jazz muda Indonesia? Phil hanya tertawa. Dia mengaku sampai saat belum terlalu banyak mendengar musisi-musisi jazz muda Indonesia.

“Tapi sebagai musisi, saya selalu menonton dan mendengar sesama musisi jazz baik dari yang tua atau yang muda. Sayangnya saya tiap kali ke sini selalu dalam status bekerja,” ujar suami dari musisi jazz Lillian ‘Tang’ Tynes.

Nama penyanyi ini di Indonesia sudah tidak asing lagi. Ciri vokalnya jernih, mampu menembus beberapa oktaf dan tidak jarang dia menggunakan teknik falsetto.

Dia pernah populer ketika menampilkan kembali tembang terkenal ciptaan David Foster After The Love Has Gone. Akibatnya Phil juga dikenal sebagai penyanyi R and B.

Pada 1990-an, citra sebagai penyanyi R and B makin menguat setelah dia sering terlibat dalam berbagai proyek smooth jazz bersama Lee Ritenour, The Rippingtons, Anita Baker, Boz Scaggs, Rod Stewart, Peabo Bryson dan George Duke.

Penyanyi latar

Hal itu tak lepas dari awal karier Phil yang lebih dikenal sebagai penyanyi latar. Namun, dia juga pernah menjadi penyanyi utama dari band soul Montclair pada 1972.

Album solonya The Heart Of Man keluar pada 1991. Dalam album itu muncul hit yang dulu pernah terkenal dibawakan Aretha Franklin Call Me.

Sukses Phil dicapainya saat album Pure Pleasure keluar pada 1994. Beberapa hits di album itu a.l After The Love Has Gone, If Only You Knew atau Love Don’t Love Nobody.

Pada 1997, Phil menandatangani kontrak dengan label rekaman Private Music, anak cabang dari label Windhall Hill. Di sana beberapa artis seperti Peabo Bryson dan Barry White juga ditangani. Private Music mengeluarkan dua albumnya: One Heart, One Love (1998) dan My Book Of Love (2000).

Kedua album tersebut direspons pasar dengan baik dan masuk ke dalam posisi puncak nomor dua dan tiga versi Top Contemporary Jazz Albums dari Billboard Charts.

Dari pengalaman ini juga, Phil mendapat kesempatan untuk memanfaatkan bakatnya untuk menulis lagu dan memproduksi proyek musik. Album Magic pada 2001 mencoba merepresentasikan karya-karyanya sendiri.

Setelah sementara waktu namanya tidak muncul dalam dunia industri musik, pada awal 2006 ini Phil kembali mengeluarkan album barunya dengan judul The Classic Love Songs yang dikeluarkan di bawah label Shanachie.

Kelembutan suara penampilannya dalam album ini serasa menyatu dengan pilihan tembang-tembang cinta abadi seperti Just My Imagination (The Temptations), Hello (Lionel Richie), atau All This Love (El Debarge).

Saat ini, namanya bisa disejajarkan dengan para pelantun tembang-tembang cinta terkemuka lainnya sekelas Luther Vandross atau Peabo Bryson.

Gaya menyanyinya mirip dengan vokalis Earth Wind And Fire Philip Bailey. Olah vokalnya cenderung akrobatik, namun dengan artikulasi yang jelas dan terkendali.

Selain berbicara tentang penampilan nostalgianya di Jak Jazz, Phil sangat serius saat berbincang tentang kondisi pembajakan karya cipta musisi di Tanah Air yang tak kunjung diatasi secara serius oleh Pemerintah Indonesia.

“Ini bukan cuma masalah Indonesia. Semua negara di Asia adalah sarang pembajakan. Ini bisa mematikan musisi dalam berkarya. Buat apa mereka mencipta musik kalau kemudian mereka tidak mendapat apapun,” tutur Phil.

Menurut dia, pembajakan di Indonesia masih akan terus berjalan selama penikmat musik belum memiliki kesadaran untuk menghargai karya cipta.

“Saya tahu lagu saya banyak digunakan oleh televisi, radio hingga hotel namun hanya sedikit yang sadar untuk membayar hak royalti tersebut. Secara pribadi saya bisa memaklumi tapi entah dengan artis lain,” lanjut dia.

Bisnis Indonesia Edisi: 24/11/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: