it’s about all word’s

Potret keperkasaan UKM

Posted on: February 22, 2008

Judul: Access for All
Building Inclusive Financial Systems
Penulis: Brigit Helms
Penerbit: CGAP, Juni 2006
Tebal: 170 halaman

Peranan keuangan mikro (microfinance) sebagai ujung tombak dalam pengentasan kemiskinan mendapat pengakuan secara internasional dan dituangkan dalam keputusan Sidang Majelis Umum PBB ke-53 pada 1998 yang menetapkan 2005 sebagai Tahun Kredit Mikro Internasional (TKMI).

Dicanangkannya TKMI tersebut diharapkan dapat mendorong program pemberdayaan keuangan mikro dan usaha mikro yang berkelanjutan. Geliat pemberdayaan keuangan mikro di Indonesia bisa dilihat dari pesatnya keberadaan lembaga keuangan mikro (LKM) sebagai mitra usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Peranan UMKM jelas terlihat sejak krisis moneter pada 1998 bahkan dipandang sebagai penyelamat proses pemulihan ekonomi nasional dalam hal mendorong laju pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan besaran Produk Domestik Bruto yang diciptakan UMKM untuk 2003 saja sudah mencapai Rp101 triliun (56,7 % dari PDB).

Sementara jumlah unit usaha UMKM pada 2003 mencapai 42,4 juta dengan 79 juta pekerja. Sedangkan pertumbuhan PDB UMKM periode 2000 – 2003 lebih tinggi daripada total PDB dengan sumbangan pertumbuhan lebih besar dibandingkan usaha besar.

Tantangan & hambatan

Buku yang diterbitkan Consultative Group to Assist the Poor (CGAP) menawarkan visi baru dari bidang keuangan mikro yang ditulis berdasarkan pengalaman selama 10 tahun di bidang ini.

Brigit Helms secara sistematis mampu menggambarkan bagaimana keuangan mikro dapat membantu kelompok miskin menjadi bagian dari aliran pendanaan lembaga keuangan dalam pustaka setebal 170 halaman ini.

Dari penjabaran Helms bisa didapatkan gambaran bagaimana dunia ekonomi kerakyatan pada 2006, termasuk kesempatan dan tantangan yang dihadapi.

Termasuk menelisik seluruh elemen sistem keuangan dan menjawab pertanyaan tentang pengguna jasa keuangan mikro.

Hal hal yang selama ini menjadi pertanyaan seperti dampak layanan tersebut bagi kehidupan mereka, layanan bagaimana yang diinginkan hingga kesulitan apa yang dihadapi untuk memperoleh kredit keuangan tersebut.

Sangat menarik mencermati bagaimana tips-tips menjangkau masyarakat sangat miskin dan mereka yang tinggal di wilayah pedalaman dan potensi penggunaan teknologi untuk mengurangi biaya.

Ada pula langkah alternatif yang diharapkan bisa membuka mata bagi bank komersial untuk dapat melayani klien dari kelompok miskin.

Salah satu cara menjawab itu tentu saja dengan mengambil pelajaran dari pengalaman Asia, Afrika, Amerika Selatan sebagai wilayah dana keuangan mikro berputar.

Salah satu contoh adalah Kamboja yang di masa silam tidak bisa menggairahkan keuangan mikro karena perang saudara, kini sudah memiliki 17 bank (asing, domestik, swasta dan BUMN) termasuk bank yang bergerak di sektor keuangan mikro.

Sementara di India terdapat ICICI Bank yang lahir dari kemitraan antara institusi-institusi keuangan dan organisasi-organisasi non-pemerintah kini telah menambah 1,2 juta masyarakat pengguna jasa keuangan mikro hanya dalam waktu tiga tahun sejak dibuka.

Kondisi ini memperlihatkan uletnya ekonomi kerakyatan karena ketahanannya tiap kali badai krisis ekonomi menerpa.

Bisnis Indonesia Edisi: 06/08/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: