it’s about all word’s

Quraish Shihab: Rela hibahkan ribuan buku

Posted on: February 22, 2008

Sangat jarang pembaca buku kelas berat rela untuk menyerahkan buku koleksinya yang sudah dianggap seperti anak kandungnya. Tetapi hal itu justru dilakukan oleh Quraish Shihab.

Sekitar 2.000 buku yang seluruhnya berbahasa Arab miliknya diserahkannya ke Pusat Studi Al-Quran (PSQ) yang didirikannya. Paling tidak sudah ada sekitar 7.700 judul buku yang mengisi rak-rak perpustakaan PSQ hingga saat ini.

Buku-buku tersebut sebagian besar mengenai kajian Al-Quran dan tafsir Al-Quran, yang merupakan karya penulis kontemporer maupun penulis pada abad ketujuh belas hingga kedelapan belas.

“Mengapa saya hibahkan? Sebab banyak ulama punya banyak buku, namun setelah meninggal, karena keturunannya tidak berkecimpung dalam syiar agama, justru menjual buku-buku tersebut,” tuturnya usai menjadi pembicara buka bersama yang diadakan Bisnis, pekan lalu.

Menurut pria kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan itu, tidak satu pun anak-anaknya yang belajar agama. Dua di antaranya psikolog, sedangkan tiga lainnya bergerak pada berbagai bidang seperti hukum, kedokteran dan bisnis.

Mantan rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini memang tergolong intelektual Islam yang produktif. Dari tangannya lahir beragam buku-buku Islam a.l. Dia di mana-mana, Jilbab, Membumikan Al-Quran, Lentera Hati dan Surat Al Mizbah.

Sedangkan bukunya yang terakhir berjudul Logika Agama semacam bantahan bagi jalan pikiran aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal). Dalam buku itu, Quraish berusaha menjelaskan tempat akal dan wahyu.

“Karena kita tidak boleh mengabaikan akal dan mengabaikan wahyu masing-masing ada wilayah kerjanya. Kalau kita mengabaikan wahyu itu artinya kita tidak perlu Rasul,” tuturnya.

Melawan pikiran

Doktor dalam ilmu-ilmu Al-Quran dari Universitas Al-Azhar ini termasuk orang yang tidak mendukung upaya membreidel pemikiran apa pun. Menurut dia, pikiran yang tidak disetujui harus dilawan dengan pikiran pula.

Hanya memang, menurut Quraish, langkah itu masih lemah karena kurang tenaga, dana dan media massa seperti siaran televisi yang mendidik.

Penulis yang sangat dipengaruhi pemikiran guru di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah, Malang, dan Syeh Abdul Halim Mahmod dari Al-Azhar, Mesir, ini melihat perkembangan buku-buku Islam di Indonesia cukup bagus.

“Minat baca pun juga sudah bagus, meski masih jauh dari ideal. Yang kurang adalah minat menulis buku khusus Islam. Bayangkan saja, sampai saat ini penulis hanya menerima 10% dari keuntungan dari buku yang terjual,” tukas Quraish.

Seharusnya, menurut dia, ada langkah dari pemerintah dan penerbit buku agar ada jalan keluar supaya orang giat menulis. Jika itu tidak dilakukan maka kondisi buku-buku Islam yang terbit sulit berkembang.

Dia menilai sebagian besar dari buku-buku Islam yang terbit merupakan hasil dari kumpulan makalah-makalah. “Hasilnya tentu saja terlalu berat untuk dinikmati oleh orang awam. Bisa juga keseriusan menulis dan batas dari uraian buku tersebut sedikit karena untuk konsumsi seminar,” kata Quraish.

Bisnis Indonesia Edisi: 30/10/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: