it’s about all word’s

Roy Suryo: Gila Referensi

Posted on: February 22, 2008

Roy, begitu orang dekatnya biasa memanggil pria berkumis tipis bernama lengkap KRMT Roy Suryo Notodiprojo. Dosen teknologi komunikasi dan konsultan multimedia asal Yogyakarta ini pernah menggegerkan karena turut membongkar berbagai kasus kelas tinggi.

Sebut saja, penangkapan anak kesayangan Soeharto, Tommy, skandal Mahkamah Agung (Habibie-Andi Ghalib) hingga skandal informasi teknologi KPU yang menyebabkan dia bentrok dengan pakar telematika Onno W. Purbo.

Rupa-rupanya selain gila fotografi, telematika (telekomunikasi, media dan informatika), multimedia, dan koleksi mobil kuno, Roy juga gila baca buku.

“Tetapi saya lebih suka disebut gila referensi,” ujarnya disela-sela Dialog Publik yang bertajuk Restrukturisasi Frekuensi untuk meningkatkan perkembangan Industri Telekomunikasi di Indonesia, di Wisma Bisnis Indonesia, 17 Mei lalu.

Maklum, selain mengajar Roy kerap menulis di berbagai media cetak nasional dan daerah, memberi ceramah di berbagai seminar tentang komputer, fotografi, TV dan multimedia.

Untuk mendukung kegiatan intelektualnya itu dia mengaku tidak pernah secara khusus menganggarkan dana beli buku. Baginya anggaran referensi pengetahuan tidak pernah terbatas.

Dimana ada kesempatan, jika ada buku yang membahas hal seperti telekomunikasi, telematika, otomotif biasanya akan langsung dibeli. “Harga buku itu sangat tidak sebanding dengan ilmu yang didapat.”

Tidak tanggung-tanggung, untuk memenuhi hasrat haus referensi itu, Roy sampai pernah mengeluarkan dana hingga Rp10 juta-Rp15 juta saat belanja buku setiap bulannya.

Penulis idola

Penganalisa rekaman rapat skandal Bank Bali dan nara sumber Teknologi Sidik Suara Pusident Mabes Polri itu mengaku tidak memiliki idola penulis buku-buku telematika tertentu.

Alasannya sederhana. Seringkali kecepatan perkembangan teknologi menyebabkan topik yang baru saja diperbincangkan sangat canggih dan bagus ternyata dalam hitungan bulan sudah menjadi usang.

“Bagi saya yang terpen-ting adalah isu apa yang diangkat. Siapa pun itu harus kita baca dan simak. Termasuk di dalamnya adalah media massa,” lanjut suami dari Ririen Suryo itu sembari tersenyum.

Termasuk, lanjutnya, penulis luar dan dalam. Dua-duanya harus dilihat terpisah sebab penulis luar sering berpikir dengan cara mereka, dan tidak semuanya dapat diterapkan di Indonesia.

Sebagai contoh di sektor Indonesia yang mengadopsi teknologi Eropa atau Amerika. Padahal kedua sistem itu tidak selalu pas jika diterapkan, sehingga harus di gabung untuk mendapatkan tingkat efektifitas yang tinggi.

Berbicara soal gila referensi di kalangan generasi muda, Roy berpendapat salah satu program yang bisa membantu generasi muda untuk gemar mengonsumsi referensi adalah program IGOS (Internet Goes To School) atau Internet masuk sekolah.

Tetapi untuk dapat menyukseskan program ini semua pihak, pemerintah atau swasta dituntut peduli. Dia mencontohkan perhatian pemerintah Malaysia yang besar untuk hal itu. Wah, Mas Roy, ujung-ujungnya telematika juga.

Bisnis Indonesia Edisi: 29/05/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: