it’s about all word’s

Sebuah ‘seni’ bernama mudik

Posted on: February 22, 2008

Ibarat tradisi yang sulit untuk tidak dilakoni, mudik Lebaran agaknya telah mendarah daging pada setiap umat muslim di Indonesia.

Meskipun berdesak-desakan menjadi pemandangan yang umum dijumpai di jalan, stasiun kereta api, pelabuhan, atau bandara, toh mereka tetap menikmatinya. Agaknya, mudik sudah menjadi ‘seni’ tersendiri dan pemudik merasa tidak keberatan untuk antre di mana-mana.

Suatu siang di Stasiun Senen, Jakarta, yang terasa gerah, sambil berdesak-desakan dan keringat mengucur, sebut saja Fahmi seorang pegawai kelas menengah di Bank Indonesia, dengan girang menunjukkan tiket kereta kelas bisnis tujuan Surabaya yang berhasil didapatkannya.

“Kalau lihat pengumuman resmi sih, tiket eksekutif seharusnya masih banyak. Akibatnya saya beli tiket kelas bisnis, tapi nyatanya cari tiket ini saja tetap susah,” ujarnya sambil menyeka keringat.

Sementara Imam, kawan sekantor Fahmi, masih terus sabar mengantri untuk loket tujuan ke Yogyakarta. “Yah, sudah biasa begini mas, soalnya kalau tidak nyari tiket sekarang kapan lagi. Jam kantor yang paling lega kan sekarang,” paparnya.

Hampir seminggu ini, banyak fahmi dan Imam lain yang berjubelan di loket-loket pemesanan tiket di stasiun kereta, terminal bis ataupun penerbangan pesawat murah. Tentu saja dengan tujuan yang sama, yakni agar dapat bersama-sama keluarga merayakan Idul Fitri di kampung halaman.

Islam tidak mengharuskan umatnya untuk merayakan atau menjalankan Salat Ied di kampung halaman. Bagi kaum muslim, berkah yang dijanjikan sama saja di mana pun kaum muslim menjalankan salat Idul Fitrinya.

Meski begitu, bagi mayoritas pemeluk agama Islam, hari Idul Fitri tak ubahnya sebuah magnet raksasa yang dapat menyedot banyak orang untuk bersama-sama dalam waktu yang relatif sama pulang kampung.

Gejala itu tidak bisa lagi dijelaskan hanya sebagai gejala keagamaan. Misalnya, keharusan sakral untuk berlebaran atau merayakan Idul Fitri di kampung halaman atau daerah asal pemudik.

Budaya mudik sendiri mulai marak dan muncul di Indonesia sejak 1970-an ketika urbanisasi ke Jakarta berlangsung sangat cepat akibat ketimpangan ekonomi sehingga saat Lebaran masyarakat urban itu pulang kampung yang kemudian dikenal dengan istilah mudik.

Tetapi hal ini perlu dijelaskan sebagai kesadaran sosial yang kemudian berkembang menjadi ritus sosial. Yang mengisi kualitas moral dan spiritual yang dianggap khusus ketika muncul semacam kesamaan pandangan untuk merayakan Idul Fitri di daerah asal.

Sehingga orang pun mau berepot-repot memobilisasi diri untuk pulang kampung bersama-sama. Tercatat jumlah orang yang akan pulang kampung (mudik) untuk berlebaran pada 2004 diperkirakan mencapai 17,6 juta. Angka ini naik 11% dibandingkan 2003 yang mencapai 15,9 juta orang. Mudik, agaknya memang telah menjadi ‘seni’ tersendiri yang banyak dinikmati orang.

Akibatnya, kecenderungan yang setiap tahun selalu muncul seperti kemacetan di jalan raya di berbagai wilayah di Tanah Air meskipun pemerintah sudah mengerahkan kendaraan umum untuk mengangkut orang yang akan pulang kampung

Pandangan eksekutif

Budaya pulang kampung sendiri bagi para eksekutif yang relatif jarang mengalami kerepotan akibat mudik rupa-rupanya telah timbul pemikiran alternatif yang berbeda tentang keharusan pulang kampung untuk merayakan Lebaran.

Menurut Presiden Direktur Bank Syariah Indonesia, Budi Wisakseno, Idul Fitri yang biasanya dimanfaatkan sebagian orang untuk pulang ke kampung halaman, bagi dirinya yang lahir dan besar di Jakarta menjadi hari yang biasa-biasa saja.

“Selain itu orang tua dan sebagian besar saudara berada, akibatnya, ketika orang lain bermacet-macetan saat Lebaran, saya cenderung tidak ke mana-mana, hingga saya bisa menikmati sepinya Jakarta,” ujarnya.

Budi menuturkan keheranannya terhadap pengertian mudik telah menjadi semacam kewajiban bagi sebagian orang yang masih punya keluarga di luar kota tempat mereka bekerja sekarang.

Sebab seakan-akan mereka tidak peduli sepenuh apa pun penumpang bus, kereta atau pesawat, tidak peduli semacet apa pun jalur pantai utara Jawa, mudik tetap dilakoni.

Beruntung jika kemudian ternyata lebih banyak cerita suka yang dialami selama mudik, semisal kalau perjalanan lancar tidak ada halangan macet atau kecelakaan.

Namun jika sebaliknya, cerita duka yang sering terjadi seperti masalah kecelakaan di jalan atau kehilangan uang tunai atau harta benda di jalan tentu itu akan menjadi masalah yang sangat tidak menyenangkan.

“Jika yang menjadi alasan adalah keharusan melakukan silahturahmi, dalam Islam silahturahmi bisa dilakukan setiap ada kesempatan dan nilai pahalanya pun sama,” papar Budi.

Padahal kemajuan teknologi telah memberikan banyak kemudahan untuk melakukan silahturahmi secara non fisik seperti teknologi SMS (short message service), telpon rumah maupun genggam, MMS (multimedia messaging service) hingga cara lama surat menyurat atau telegram.

Menurut Budi Wisakseno, seharusnya Lebaran adalah saat dimana umat Islam bersyukur karena telah kembali kepada fitrah-nya, bukan kemudian harus bersenang-senang secara berlebihan.

Kalau dilihat, lanjutnya, di Indonesia perayaan Idul Fitri malah lebih meriah dari pada Idul Adha yang di negara-negara Islam lain justru sebaliknya.

Selain itu, sampai saat ini kecenderungan budaya pamer kesuksesan masih belum bisa dilepaskan dari tradisi mudik. Hal yang justru mereduksi makna dari sebulan menahan nafsu-nafsu duniawi.

Bahkan setelah Idul Fitri berlalu, festival kesalehan (formal) selama satu bulan penuh juga turut berlalu, dan masing-masing kembali pada ritme kehidupan biasanya, tanpa bekas.

Budi menuturkan sering kali masyarakat memperlakukan Idul Fitri sebagai mudik adalah momentum nostalgia mengingat potensi keilahian dalam diri manusia untuk kemudian menanggalkannya setelah perayaan itu usai.

“Acapkali orang yang mudik sekadar meromantisasi masa lalunya untuk kemudian kembali pada hiruk-pikuk “dekadensi” kehidupan kota,” uajrnya.

Budaya warga kota

Sebaliknya, Pemimpin Unit Syariah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Rizqullah mengatakan budaya mudik tetap diperlukan selain sebagai langkah silahturahmi secara fisik juga sebuah langkah untuk bercermin.

“Dengan pulang, saya menjadi ingat masa-masa lalu saya sehingga kesuksesan yang telah berhasil diraih dapat lebih saya syukuri,” ujarnya.

Hal ini dalam konsep antropologi dikenal dengan sebutan close coorporate community. Pemudik merindukan nilai-nilai kebersamaan alamiah yang jarang lagi mereka temui di kota, karena ketatnya persaingan memburu ‘status’.

Kemajuan teknologi komunikasi yang memudahkan hubungan antar manusia, menurut Rizqullah tidak akan bisa menggantikan budaya timur yang mengharuskan pertemuan fisik antara individu-individu yang terlibat secara emosional.

Selain itu, lanjutnya, dalam silahturami-secara fisik-terbukti lebih mampu mempererat ikatan emosional dan jalinan persaudaraan.

“Makanya budaya mudik dan halal bihalal hanya ada di negara kita dan tidak akan ditemukan di jazirah Arab tempat Islam berkembang ataupun di negara-negara mayoritas Islam yang lain,” paparnya.

Terkait dengan masih melekatnya budaya pamer dalam setiap tradisi mudik, hal itu tidak akan mungkin dipisahkan. Alasannya selama ini dalam tahap tertentu masyarakat masih melihat materi sebagai lambang dari keberhasilan.

Padahal, lanjutnya, dalam kehidupan yang sesungguhnya keberhasilan materi tidak memiliki kaitan penting dengan makna keberhasilan sesungguhnya.

Sehingga lepas dari ekses negatif yang kemudian tertempel dalam tradisi mudik itu, budaya ini tetap perlu untuk dipertahankan karena merupakan salah satu modal sosial bangsa Indonesia. Menurutnya, tradisi ini bisa menjadi perekat sosial.

Sebab mudik sangat dibutuhkan karena masyarakat kota jenuh dengan kehidupan yang keras dan sumpek. Tidak ada kekerabatan yang kuat di kota sehingga walaupun memerlukan proses yang sangat melelahkan, masyarakat tetap antusias untuk mudik.

Selain itu, lanjut Rizqullah, walaupun memiliki korelasi waktu dengan Idul Fitri yang nota bene ritual Islam, mudik ternyata juga melibatkan masyarakat nonmuslim.

Menurut dia, kemungkinan besar adalah hanya pada momentum Idul Fitri-lah kawan-kawan yang berbeda agama bisa bertemu kembali di tempat asal mereka.

Bisnis Indonesia Edisi: 21/11/2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: