it’s about all word’s

Semarang:Kekunoan yang religius

Posted on: February 22, 2008

Kegiatan berwisata di Indonesia tak dimungkiri masih terjebak pada orientasi kesenangan, komersial, serta ekonomi semata. Padahal di negara-negara lain, perhatian dan perhitungan bisnis sudah serius menggarap wisata religi.

Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi untuk pengembangan wisata religius adalah Semarang. Ibu kota provinsi Jawa Tengah ini memiliki banyak bangunan kuno bernilai historis dan arsitektur tinggi yang layak dikunjungi.

Sebagai wilayah pesisir, akulturasi menjadikan Semarang melting pot budaya dan agama paling kondusif sejak zaman penjajahan Belanda. Sejak pertengahan tahun ini mulai menggarap serius wisata religi.

Objek yang kini dijual Pemda Semarang a.l. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJ) di Jl. Gajahraya, Pagoda Agung di Watugong, Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Vihara Agung Marina, serta Gereja Blenduk Semarang.

Selain itu masih ada banyak objek wisata lain yang bisa Anda kunjungi. Pekan lalu, Bisnis menelusuri situs-situs tua kota Lumpia itu yang ternyata menyimpan keunikan dari sisi sejarah dan agama.

Perjalanan dimulai dari Masjid Kauman. Masjid yang terletak di wilayah hiruk-pikuk pasar Johar ini didirikan oleh ulama besar Semarang berdarah Arab bernama Maulana Ibnu Abdul Salim alias Kiai Pandan Aran.

Kisah berbalut mitos sejak awal menyelimuti masjid ini. Misalnya, gara-gara dibangun lebih tinggi daripada Masjid Agung Demak, akhirnya masjid ini terbakar pada 1885 dan harus dibangun ulang.

Pembanguan itu atas bantuan Asisten Residen Semarang GI Blume dan Bupati Semarang Raden Tumenggung Cokrodipuro, sementara arsiteknya adalah GA Gambier. Dari tangannya lahir masjid berasitektur atap tiga susun dengan puncak berhiaskan mustaka yang selesai pada 1889.

Sayangnya, ketidaktegasan pemda membuat lingkungan sekitar Masjid Kauman terkesan kumuh. Bahkan didepan masjid banyak pedagang membuka dasaran, sementara truk dan angkutan kota banyak yang parkir.

Tak jauh dari wilayah Kota Lama dan Masjid Kauman, jika Anda menyusuri kampung Pecinan, pada gang yang terletak di ujung Gang Besen akan ditemukan Masjid Menyanan. Masjid tua ini konon dipergunakan oleh Pangeran Diponegoro.

Masjid yang terletak di gang kumuh ini ditemukan pertama kali oleh Kyai Maskur Hamzah 30 tahun lalu. Usai dipugar dengan dana swakarsa, kini masjid tua menjadi lebih representatif.

Masjid ini sudah direnovasi tiga kali masing-masing pada 1970, 1980, dan terakhir 2000. Bentuknya sudah berubah total termasuk penambahan tinggi lantai hingga 1,5 meter agar tak tenggelam saat banjir melanda.

Satu-satunya bagian asli bangunan yang masih disisakan oleh pengurus masjid adalah keenam sokoguru (empat di antaranya tertera tulisan Arab) dan rangka atap masjid asli ini.

Jika Anda masuk ke gang Sekayu, tepat di tengah perkampungan akan ditemukan Masjid Sekayu yang lebih tua dibanding Masjid Besar Kiai Terboyo yang berusia 182 tahun.

Bahkan, oleh banyak pihak, masjid ini dipercaya lebih tua dibanding Masjid Wali Songo di Demak. Pasalnya, tempat berdiri masjid ini di tepi Sungai Semarang yang menjadi jalur distribusi kayu-kayu pembangunan Masjid Kasultanan Demak Bintoro.

Kepercayaan ini masuk akal sebab para para kyai dan ulama dari Cirebon yang membangun Masjid Demak mengambil kayu dari daerah Surakarta, Wonogiri, dan Ungaran.

Aboebakar dalam bukunya Sedjarah Masdjid dan Amal Ibadah menyebutkan masjid ini didirikan pada 1413 atau tujuh tahun lebih tua dari Masjid Agung Demak yang berdiri pada 1420.

Sayangnya, kini bentuk asli Masjid Sekayu sudah berubah dari aslinya. Satu-satunya yang tersisa adalah keempat tiang sokoguru, cupu atap tempat imam, dan mahkota masjid.

Di Kota Lama

Tak jauh dari Masjid Kauman, di kawasan Kota Lama (dulu disebut Oude Stad) berdiri Gereja Blenduk yang dulu disebut Hoogendorpstraat. Gereja ini dibangun pada 1753 oleh Portugis.

Ketika pertama kali dibangun, bentuk gereja ini seperti rumah panggung Jawa yang atapnya joglo. Pada 1787 bentuk bangunan dirombak total dan pada 1894, HPA de Wilde dan W. Westmaas mengubahnya menjadi bentuk kubah dan ditambah dua menara.

Yang menarik dari bangunan yang menjadi lokasi syuting film Gie ini adalah banyaknya perlengkapan tua yang masih terawat seperti organ kuno buatan P. Furtwanler dan Hannover, lonceng buatan J.W. Steegler, dan jam kuno.

Jika belum lelah melangkah, Anda bisa terus berjalan melawan arus kendaraan. Pada ujung jalan kawasan Kota Lama terdapat Susteran Gedangan yang merupakan Panti Asuhan Katolik pertama di Semarang.

Sejatinya, susteran itu adalah rumah sakit berasitektur gothic yang dibangun oleh penggede Belanda bernama Frederik Julius pada 1732. Namun, oleh Pastur J.H. Scholten bangunan itu dibeli dan diubah jadi rumah yatim piatu pada 1809.

Jika dari Masjid Sekayu Anda menyusuri Jl. Pemuda maka Anda bisa menemukan Katedral Randusari. Gereja Katolik ini dibangun di perkantoran Dinas Kesehatan Residen Semarang, lantas dirombak oleh J. Th Van Oyen dibantu konstruktor Kleiverde pada 1926.

Gedung ini kembali dipugar atas perintah Keuskupan Batavia hanya berselang bulan setelah peresmian Gereja Santo Fransiskus Xaverius di Kebon Dalem. Tempat ini akhirnya menjadi Keuskupan Jateng setelah diresmikan sebagai vikarist apostolic.

Bangunan berbentuk segi empat ini dibangun tanpa kolom, sebagian dinding dilapisi batu alam pipih setinggi satu meter. Atapnya berbentuk limas majemuk dan pada puncaknya terdapat menara berlapis pelat logam.

Sebetulnya Anda bisa saja melanjutkan perjalanan ke arah Candi Baru, tapi ada baiknya Anda memutar sedikit ke arah Pecinan. Di Kebon Dalem ada Gereja Santo Fransiskus Xaverius.

Lahan tempat gereja berdiri ini dulunya adalah rumah pembakaran mayat milik Be Biauw Tjwan, seorang Mayor dari kesatuan Tionghoa. Tempat itu lalu dibeli pastor Beekman SJ pada 1936 dan diresmikan oleh Mgr. P.J Willekens pada 1937.

Kalau sudah puas memutari Pecinan, Anda bisa mengarah ke Candi Baru. Tepat setelah RS dr. Kariadi, Anda akan menemukan Gereja Gereformeerd yang juga biasa disebut Gereja Ngaglik.

Tempat ini dibangun oleh Pendeta Smith pada dan perancangannya dipercayakan pada Oyen Van j. Th. Desainnya sangat unik, selain dirancang dalam skala besar juga menggunakan atap pelana dan sirap.

Seperti halnya Katedral Randusari, Gereja Gereformeerd juga dibangun dengan desain dinding batu alam setinggi satu meter tanpa kolom di tengah ruangan.

Selain tempat-tempat ibadah yang sempat Bisnis kunjungi, masih ada situs lain yang menarik untuk dikunjungi seperti Langgar Albarokah Kampung Beduk, Langgar Kampung Gandekan, dan Masjid Kampung Melayu.

Semua tempat tersebut letaknya relatif berdekatan dengan bandara Ahmad Yani atau stasiun Tawang. Hanya Vihara Buddhagaya Watugong dan Masjid Agung Jawa Tengah di Jalan Gajahraya yang letaknya agak jauh, tapi itu pun hanya butuh waktu sekitar setengah jam perjalanan.

Sebetulnya jika digarap dengan serius disertai perbaikan sarana dan prasarana sekaligus memperkental unsur entertainment, maka wisata religi Semarang memiliki nilai jual tinggi.

Dari kelenteng sampai pura

Kalau sudah ke wilayah Pecinan, ada baiknya Anda menuju ke Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Tempat pemujaan bagi Yang Mulia Dewi Welas Asih, Kwan Sie Im Po Sat ini didirikan pada 1746. Dalam kompleks ini juga ada Kelenteng Kong Tik Soe yang dibangun pada 1845.

Jika pada awalnya Tay Kak Sie atau Kuil Kesadaran Agung hanya untuk memuja Kwan Sie Im Po Sat, seiring perjalanan akhirnya menjadi kelenteng besar untuk memuja berbagai Dewa-Dewi Tao.

Hanya dari tempat itu, Anda juga bisa menemukan Kelenteng See Ho Kiong, Tan Sing Ong, dan Wie Wie Kong yang ketiganya berada di Jl. Sebandaran dan dibangun sekitar tahun 1870-an.

Selain itu Anda bisa mengunjungi kelenteng yang lain seperti Kwan Im Ting di Gang Belakang (di bangun pada 1746), Sioe Hok Bio (1753) di Gang Baru, Tek Hay Bio (1756) di Gang Gambiran, Tong Pek Bio (1782) di Gang Pinggir, Hoo Hok Bio (1792) di Gang Mangkok, dan Liong Hok Bio (1866) di Gang Besen.

Kelenteng lainnya yang menarik dikunjungi adalah Sam Po Kong. Untuk menuju ke kelenteng ini, setelah dari Gereja Gereformeerd, Anda bisa langsung meluncur ke arah Simongan. Di tepi Sungai Kali Garang itulah terdapat Kelenteng Sam Po Kong atau biasa disebut gedung batu Sam Po Kong.

Tempat bekas persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok bernama Zheng He atau Cheng Ho (lebih dikenal sebagai Sam Po Tay Djien). Uniknya, siapa pun tahu, Cheng Ho adalah penyebar agama Islam.

Tempat ini disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu Simongan. Sekarang tempat tersebut telah dipugar dan dilengkapi patung Sam Po Tay Djien.

Bangunan megah

Satu tempat yang juga pantas dikunjungi meski masih relatif muda adalah tempat ibadah umat Buddha a.l. Vihara Tanah Putih dan Vihara Chandra Kinnara di Pedurungan.

Namun, ada dua tempat yang pantas jadi unggulan yaitu Vihara Buddhagaya Watugong dan Vihara Mahavira di Jl. Marina yang begitu megah.

Sejak 2001, vihara seluas 2,5 hektare di seberang Markas Besar Kodam Diponegoro ini telah berkembang pesat. Puncaknya adalah pembangunan patung Buddha setinggi 36 meter dan Pagoda Avalokitesvara.

Pagoda pertama di Indonesia ini juga disebut Pagoda Metakaruna atau Pagoda Cinta dan Kasih Sayang. Pagoda ini dibangun untuk menghormati figur cinta kasih dan kasih sayang Kwan She Im Poo atau Dewi Kwan Im.

Tempat lain yang bisa dikunjungi untuk memuji kebesaran Tuhan adalah Pura Giri Natha yang berada di puncak bukit Jl. Sumbing. Jika Anda kesulitan mencarinya, letaknya tidak jauh dari Hotel Candi Baru.

Tempat ini biasanya ramai saat hari raya dan hari besar umat Hindu seperti Nyepi, Galungan, Kuningan, dan Saraswati. Tentu saja masih kalah semarak jika dibandingkan perayaan di Bali

Bisnis Indonesia Edisi: 19/11/2006

3 Responses to "Semarang:Kekunoan yang religius"

hai…yup emang banyak sekali kekaguman yang aku temukan di kota semarang meskipun gak sepenuhnya aku jalan2 di kota itu, aku ke semarang tanggal 17 samapi 20 mei 2008 kemaren, dalam rangka kuliah lapangan, so aku ngunjungin museum Ronggowarsito, lawang sewu, semarang lama yakni pasar johar dan daerah kampung pecinan coz data yang aku ambil dalam kelompok kuliah lapangan ada di daerah semarang lama. kemaren aku ma teman2 nginepnya di mes pengairan. meskipun semarang panas tapi banyak kemegahan budaya yang ada di daerah tersebut.

Kami ingin tahu dimana bisa kita dapatkan sejarah Tong pek Bio gang pinggir? Dewa apa yang dipuja, mengapa dan arti Tong Pek Bio.

Hai…semarang…udah lama ga liat dirimu!
Apa yang berubah di semarang ya??
Pengen ke Pura Giri Natha neh…Kumpul ma anak2 Ngudi dan KMHS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: