it’s about all word’s

Veronica Risariyana: Love Jazz

Posted on: February 22, 2008

Komitmen total

Berbicara tentang industri pertunjukan di Indonesia, ada dua permasalahan klasik yang menyertainya, yaitu pendanaan dan upaya mendatangkan penonton sebanyak mungkin.

Masalah ini makin penting jika menyangkut musik jazz yang memiliki segmen sangat terbatas, terkonsentrasi di kelas menengah atas.

Sampai-sampai ada istilah ‘tiket jazz kalau murah justru tidak laku’, betul-betul merupakan tantangan terhadap kelangsungan penyelenggaraan festival itu sendiri.

Karena itu, tak mengherankan jika kemudian pertunjukan jazz relatif sulit dijual kepada sponsor yang tentu selalu menghitung keuntungan apa yang bisa didapatkan dari keterlibatan mereka dengan jenis musik ini.

Sebetulnya daya beli komunitas musik jazz yang tidak pernah terpengaruh oleh gejolak ekonomi merupakan peluang yang menggiurkan untuk menjual merek yang diposisikan premium atau luxury.

Salah satu merek yang dipastikan bakal terus konsisten menggarap pangsa jazz adalah Dji Sam Soe yang serius bermain di jalur jazz sejak merilis Dji Sam Soe Super Premium dan Dji Sam Soe Super Premium Magnum Filter.

Karena target pasarnya masyarakat perokok kelas atas maka tampilan komunikasi produk ini pun menjadi berbeda. Tak sekadar menggarap musik yang punya ciri khas sinkopasi, tetapi juga harus mengemas tampilan promosi itu secara prima.

“Tahun ini tetap sama. Jika saat ini kami mendukung Jak Jazz, bisa dipastikan ke depan kami juga masih tetap akan mendukung Java Jazz 2007. Kedua ajang ini punya keunikan dan keunggulan masing-masing,” ujar Brand Manager Dji Sam Soe Veronica Risariyana.

Menurut penggemar Level42, Cool and The Gang, Earth Wind and Fire, Le Retenoir dan Casiopea ini, selain Jak Jazz dan Java Jazz, Dji Sam Soe juga mendukung gelaran jazz di daerah-daerah.

Soal kemasan, jazz pun sangat fleksibel, bisa ditampilkan di tempat terbuka, ruang serba guna hingga gedung olahraga.

Tahun ini kegiatan festival berskala internasional yang sempat vakum hampir satu dekade ini bakal mengusung nuansa khas Betawi. Sambil menikmati jazz, pengunjung ditemani cemilan asli Jakarta tempo dulu, seperti kue putu, kue rangi, dan masih banyak lainnya.

Meski menikmati makanan ‘pinggiran’ sembari menonton jagoan jazz beraksi, penonton kebanyakan wajib merogoh kantong agak dalam.Untuk harian Rp225.000, untuk tiga harian (multipass) Rp525.000, sementara untuk pertunjukan khusus Rp100.000.

“Yang penting dan wajib dipenuhi dari pertunjukan jazz di tempat-tempat itu adalah tampilan dan kemasan yang sempurna. Sekali lagi brand image itu penting,” tegas penggemar musik yang sarat unsur sinkopasi ini.

Edisi: 19/11/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: