it’s about all word’s

Gaya offroad eksekutif muda

Posted on: February 23, 2008

Siang itu bayang-bayang Matahari di balik awan mendung mengiringi arak-arakan 15 kendaraan yang dikemudikan para eksekutif muda. Dari tempat persinggahan Sentul rombongan itu pun mulai menapaki jalanan yang menantang keberanian. Offroad ramai-ramai, begitulah mereka menyebut hobinya ini.

Jangan dibayangkan offroad yang kini tren di kalangan eksekutif muda Jakarta ini adalah sebuah kompetisi dengan kendaraan sport khusus. Mereka hanya menggunakan kendaraan jenis empat kali empat yang sehari-hari juga mereka bawa ngantor.

Tidak jarang kendaraan semacam ini merupakan hasil modifikasi sendiri. Begitu juga dengan pelek dan bannya yang sedikit besar dari komponen aslinya.

Kendati begitu, mobil yang rata-rata tampak mulus ini tak mengurangi acara jalan-jalan yang mereka ciptakan. Konon, jalan-jalan bareng dengan kendaraan hampir seragam ini lebih berat dari sekadar jalan-jalan wisata tetapi masih tergolong ringan untuk sebuah kegiatan orffroad.

Tapi bicara medan, mereka memilih medan yang tak kalah menantangnya dibandingkan medan offroad umumnya, meski lebih banyak menapaki jalanan yang sudah terbentuk dan amat jarang membuka jalan sendiri. Namun jalanan yang penuh batu terjal, lumpur licin, tanjakan dan pinggir tebing serta derasnya sungai adalah tempat-tempat yang mereka sukai.

“Tidak ada kompetisi, yang ada hanya senang-senang, rileks dan kebersamaan meski tiga persyaratan pokok seperti nyali, keahlian, dan kendaraan empat kali empat jenis,” kata Franklin Richard, Corporate Communication Head Perusahaan Pengelola Aset (PPA).

Meski begitu perjalanan seperti itu bukanya tak mengandung risiko. Mantan corporate communication officer Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) ini menuturkan tidak jarang terjadi saling dorong atau tandem (derek) jika di tengah perjalanan ada kendaraan yang mengalami masalah.

Bahkan ketika Bisnis mengikuti jalan-jalan ini satu kendaraan yang ditumpangi fotografer sempat terjerembab ke jurang. “Pendeknya offroad yang kami ciptakan ini juga memberikan pengalaman yang menantang,” katanya.

Satu hal yang menarik lagi para eksekutif yang tergabung dalam acara ini sebagian besar mantan pecinta alam. “Kalau dulu kami menjelajahi alam dengan berjalan kaki, sekarang karena sudah tua jelajahnya pakai mobil,” tutur Sigit Erawadi, bos PD Rejeki Fena Abadi.

Bagi kalangan eksekutif, hobi jalan-jalan seperti ini bukan hanya memberikan keasyikan tersendiri tapi juga mampu menjalin persahabatan meski agenda acaranya sendiri bersifat spontanitas.

“Tidak ada klub resmi dengan berbagai persyaratan dan aturan, pokoknya mau jalan ya sudah jalan,” imbuh Sigit.

Berpetualang di alam memang menantang dan sangat menyenangkan bagi sebagian orang. Termasuk pula dengan orang-orang yang pada hari biasa berkutat di kantor.

Kepenatan pikiran dan sumpeknya suasana Jakarta, konon menurut para penggila offroad bisa lenyap setelah melahap gundukan tanah liat, menyeberangi derasnya sungai, hingga merayap di jalan tepi bibir tebing yang curam.

Tentu saja kegiatan ini bukan tanpa risiko, mulai dari mobil penyok karena terguling hingga resiko kehilangan nyawa karena kecelakaan. Namun cukup mengagetkan ternyata hal ini juga digilai oleh mereka yang sehari-harinya dikungkung aktivitas kantor.

Pekan lalu Bisnis berkesempatan mengikuti undangan Suzuki Jip Indonesia (SJI) untuk mencoba nikmatnya menyusuri jalur offroad di Desa Babakan Madang hingga Cisadane, Bogor yang cukup menantang.

Kebetulan cuaca hari itu sangat mendukung dan sangat disukai oleh seluruh peserta karena turun hujan sehingga membuat jalanan lumpur makin licin.

Menurut Indra Riyana yang sehari-harinya bekerja di perusahaan konsultan komunikasi multinasional APCO, biasanya acara offroad ini secara teratur dilakukan setiap akhir pekan.

“Sedangkan bila ada libur panjang maka ekspedisi dengan jalur yang lebih panjang dan menantang. Misalnya ke daerah pegunungan Halimun di Jawa Barat yang untuk menembusnya membutuhkan waktu lima hingga tujuh hari,” ujar anggota Juara III West Java Adventure tahun lalu.

Tentu saja untuk menghindari hal-hal yang membahayakan jiwa peserta maka SJI menerapkan seleksi dengan ketat. Meliputi kendaraan, alat komunikasi hingga perlengkapan pribadi masing-masing peserta.

Menurut Handito, anggota kehormatan SJI, pihaknya menerapkan tiga kali pengujian kendaraan. Jika hingga tiga kali tidak lolos maka kendaraan itu tidak diperbolehkan mengikuti ekspedisi.

Tentu saja untuk membuat kendaraan yang mereka kendarai bisa tangguh, diperlukan biaya yang tidak sedikit. Menurut Arie Noegroho yang mengendarai Suzuki Escudo 1.600 cc, perlu dana hingga Rp10 juta hingga Rp20 juta agar kendaraan itu cukup tangguh.

Cukup tangguh

Hitung saja misalnya menggunakan piston turbo Escudo 2.0 harganya sekitar Rp7 juta per set, pelek Beadlock R15 harga per buahnya Rp2 juta hingga winch T-Max buatan China seharga Rp5 juta.

“Tapi ada untungnya kalau kita ber-offroad dengan kendaraan seperti Vitara, Escudo dan Sidekick selain mesinnya cukup tangguh, dimensinya kecil juga nyaman,” ujar lelaki yang sehari-harinya bekerja di Petrochina itu.

Untuk Escudo miliknya karena versi aslinya berpenggerak 4×2 (two wheel drive) maka harus diubah terlebih dahulu menjadi 4×4 (four wheel drive), sedangkan Vitara sudah berbasis 4×4 sehingga tinggal membutuhkan tambahan perlengkapan semacam ban hingga suspensi.

Alasan tangguh itulah yang mendasari konsultan hukum Karim Sani, Emmanuelle yang biasa disapa Ema ini untuk membeli Escudo milik dosennya di Yogyakarta.

Meski begitu ada saja anggota yang cukup nekad membawa mobil dari jenis Grand Vitara 2.500 V6 cc build up seperti Franklin Richard, Corporate Communication Head PT PPA. Padahal mobil jenis ini hanya ada tiga buah di Indonesia.

“Pekan lalu, bemper saya jebol sewaktu ekspedisi di Pantai Selatan. Mungkin buat orang kebanyakan sayang jika membawa kendaraan semacam ini. Tapi yang namanya hobi, semua jadi tetap menyenangkan,” ujarnya.

Tak jauh beda dengan mahasiswa pencinta alam jelajah alam eksekutif ini juga terhitung amat murah. Apalagi didukung logistik yang dibawa sendiri oleh istri. Menunya tak kalah dengan acara pesta kebun.

Makanan pun disiapkan istri yang menemani suami offroad. Dengan begitu hobi ini tidak terlalu makan biaya. Beda jauh dengan golf yang peralatan dan seragam klubnya saja sudah mahal.

Menurut Franklin, dengan mengeluarkan sedikit kocek Rp10 juta-Rp15 juta untuk investasi awal khususnya perlengkapan standar kendaraan seperti modifikasi ban, pelek dan sebagainya sudah bisa ikut kegiatan ini.

Dia mangatakan biaya bisa agak besar kalau offroad-nya itu sampai keluar daerah seperti ke Yogyakarta, Jawa Tengah atau menyisir pantai selatan Jawa Barat. “Kalau yang jauh-jauh itu kami kan harus menginap jadi ongkosnya tambah mahal.”

Dia sendiri mengaku dalam satu bulan bisa dua kali melakukan hobinya ini. Beda dengan Hendar Subakti dari devisi teknologi Bank BNI yang sesekali masih setia dengan kegiatan pendakian.

Namun bagi Hendar jelajah alam dengan mobil itu memberikan keasyikan tersendiri karena tidak hanya menghadapi persoalan keberanian tetapi juga soal mekanik.

Di sinilah, kata dia, kebersamaan sesama rombongan akan sangat menentukan. Mereka berjanji tidak sampai meninggalkan satu pun dari anggota rombongan plus mobilnya, kecuali masalahnya sudah sangat mentok.

Perasaan deg-degan sudah pasti dialami para eksekutif yang saban harinya lebih akrab dengan jalanan tol Jabotabek. Apalagi di saat harus menapaki tanjakan licin diantara tebing dan jurang.

Bisnis Indonesia Edisi: 23/01/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: