it’s about all word’s

Kiran Desai

Posted on: February 23, 2008

Perempuan termuda peraih Booker Prize

Kiran yang baru berusia 35 tahun mencatatkan diri dalam sejarah penghargaan yang disponsori perusahaan keuangan dan investasi Man Group Plc sebagai perempuan termuda peraih Booker Prize.

Bulan ini Asia mengejutkan dunia. Hanya berselang beberapa jam setelah pendiri Grameen Bank, Muhammad Yunus dari Bangladesh, meraih Nobel Perdamaian, bertempat di London, penulis muda asal India, Kiran Desai berhak atas The Man Booker Prize for Fiction.

Pasalnya Kiran dengan novel The Inhereitance of Loss menyingkirkan nominator lain yang lebih difavoritkan a.l Sarah Waters (The Night Watch ) Kate Grenville (The Secret River), MJ Hyland (Carry Me Down ), Hisham Matar (In The Country of Men) dan Edwards St Aubyn (Mothers Milk).

Booker Prize adalah penghargaan untuk novel terbaik sepanjang tahun yang ditulis oleh warga negara persemakmuran Inggris dan Irlandia. Novel harus diterbitkan dalam bahasa Inggris dan tidak dipublikasikan sendiri.

Soal penghargaan bagi perempuan Asia memang bukan yang pertama. Sebut saja Jhumpa Lahiri penulis buku Interpreter Of Maladies yang menang Hadiah Pulitzer, PEN/Hemingway Award hingga New Yorker Prize, namun Kiran yang termuda peraih Booker Prize.

Dengan penghargaan ini Kiran berhak atas hadiah uang senilai 52.500 poundsterling atau setara dengan Rp908 juta.

Saat diminta memberikan sambutan di ruang utama Guildhall, Kiran hanya berujar pendek “Saya menulis buku ini dengan dukungan ibu, sehingga saya merasa buku ini sebenarnya adalah buku beliau.”

Ibu Kiran, Anita Desai adalah seorang novelis yang telah tiga kali masuk nominasi Booker Prize, tetapi tak pernah sekalipun menang. Bisa dikatakan, Kiran menuntaskan dendam ibunya.

Muda berprestasi

Sebelumnya Kiran juga berhasil memenangi penghargaan bagi novelis yang berusia di bawah 35 tahun, The Betty Trask Awards lewat buku pertamanya Hullaballoo in the Guava Orhcards.

Untuk menggarap The Inhereitance of Loss, perempuan jebolan Creative Writing Course Columbia University ini harus pulang ke India untuk melakukan survei dan mengumpulkan bahan cerita.

“Selama hampir delapan tahun penulisan novel kedua ini saya merasakan sangat emosional dan menakutkan,” ujar Kiran seperti dikutip dari BBC.com

Menurut Ketua Dewan Juri Hermione Lee buku ini berhasil mengisahkan tentang percintaan, kebijaksanaan hingga kekuatan politik, globalisasi, keberagaman budaya dan latar belakang melalui kata-kata puitis.

The Inhereitance of Loss berkisah tentang sosok gadis yatim piatu India bernama Sai yang jatuh cinta pada guru matematikanya, Gyan yang merupakan keturunan tentara Gurkha, Nepal.

Sai tinggal bersama kakeknya yang pensiunan hakim di Kalimpong, India. Sebuah kota kecil di kaki gunung Kanchenjunga-Himalaya. Selain Sai, di rumah itu tinggal juru masak tua.

Terpisah jarak ribuan kilometer, di New York, hidup Biju, anak laki-laki juru masak Kakek Sai. Dia adalah imigran gelap, hidupnya bak tikus yang mencari remah-remah pekerjaan kasar dan menyelamatkan diri saat diburu petugas imigrasi.

Kisah pun berputar cepat dan menawarkan pada pembaca banyak hal yang terlupakan dalam sebuah hubungan manusia.

Bisnis Indonesia Edisi: 29/10/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: