it’s about all word’s

Made G. Putrawan

Posted on: February 23, 2008

Mengasah intan baru di ujung selatan Bali

Bali memang memesona. Letaknya yang terpisah dari Jawa membuat pulau yang dulu disebut gugus Sunda Kecil itu relatif terisolasi dari pengaruh Islam yang mendesak Hindu sejak runtuhnya Majapahit.

Hasilnya jejak Hindu yang dibawa secara bergelombang mulai dari Rsi Markandiya, Empu Kuturan, dan Dang Hyang Nirartha lalu berasimilasi dengan budaya asli Bali dengan mudah ditemukan di tempat itu.

Tak mengherankan jika kemudian Lovis Conperus pun terpukau sehingga mendorong Cornellis de Houtman melakukan ekspedisi ke pulau ini. Maka berbondong-bondonglah wisatawan Eropa yang memburu mimpi eksotika ‘the Island of God’.

Setelah itu menjadi tugas penulis dan seniman macam Dr Gregor Krause, Roelof Goris, Walter Spies, hingga Bonnet menanam indahnya Nusa Dewata ini ke benak orang di luar Nusantara.

Kesemarakan pariwisata Bali hampir tiada pernah terhenti karena meletusnya perang dunia dan revolusi dalam negeri. Bahkan bom Bali 2002 dan 2005 pun tak kuasa menghentikan sinar pesona Bali.

Meski lesu, sejak Januari 2003, Bali gencar menggoda dunia. Berbagai event pariwisata internasional digelar. Mulai dari eksibisi seni, olahraga, hingga forum politik dan budaya. Pada sisi lain, di tengah kondisi lesu tersebut justru geliat properti yang menggeliat.

Salah satunya adalah Pecatu Indah Resort (PIR) yang dikelola PT Bali Pecatu Graha (BPG). Wilayah yang sempat dijuluki tempat jin buang anak selama 1998 hingga 2002 karena tak terurus selama krisis moneter itu kini bergegas memoles diri.

Wilayah yang didesain oleh THG International dari Australia bak intan yang menyatukan permukiman di wilayah perbukitan kapur, resor golf, dan resor pantai dengan memerhatikan nilai-nilai lokal Tri Hita Karana.

Dari desain tapaknya yang bergelombang dan menghadap pantai selatan Bali, PIR memberikan tawaran menggoda bagi ekspatriat dan eksekutif penyuka olahraga golf sekaligus para peselancar profesional untuk berdiam di wilayah tersebut.

Bahkan sejak sebelum PIR menggeliat pun, Pantai New Kuta atau Dreamland yang selarik dengan Pantai Balangan, Pantai Bingin, Padang-Padang, hingga Uluwatu sudah sejak lama menjadi rujukan para peselancar dari mulut ke mulut yang muak dengan kondisi Kuta yang terlalu metropolis.

Setidaknya hingga kini para pengunjung New Kuta tak diganggu pedagang acung, tukang pijat, atau wisatawan domestik. Namun yang terpenting selain pantainya bersih, ombak di wilayah ini terkenal tinggi dan stabil.

“Menurut rencana, di sepanjang dinding pantai bakal dibangun bangunan-bangunan bagi para pengunjung pantai. Pengelolanya tetap para pebisnis lokal yang sudah mengelola tempat ini sejak 1996,” ujar Made G. Putrawan, Dirut PT BPG.

Sejak awal pembangunan kembali PIR, pihaknya memang tidak memiliki rencana untuk mematikan masyarakat sekitar yang mengais rejeki di wilayah resor eksklusif tersebut.

“Thailand bisa membuat resor eksklusif yang tetap ramah pada masyarakat sekitar. Kenapa kita tidak? Justru kalau masyarakat diberdayakan yang diuntungkan adalah PIR juga,” lanjut Made.

Kelas dunia

Namun, euforia reformasi membuat, mereka harus kehilangan sekitar 250 ha dari 650 ha karena dicaplok warga yang mengkaveling secara bebas dan dijauhi pengusaha lantaran PIR adalah proyek milik BPG yang ‘berbau’ Cendana.

Apalagi PIR kemudian masuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) karena terlilit utang mencapai Rp240 miliar dengan imbas kepemilikan Hutomo Mandala Putra terdilusi hingga hanya tersisa 40%. Belum lagi Tommy terjerat kasus yang mengantarnya ke penjara.

Kondisi kian suram seiring dengan anjloknya rupiah membuat investasi proyek PIR membengkak menjadi Rp13 triliun padahal siapa pun tahu bisnis resor adalah bisnis jangka panjang yang minimal 15 tahun baru untung.

Untung saja Made G. Putrawan sebagai dirut BPG-sebelumnya direktur eksekutif-membuat PIR berwarna lain. Dengan jitu dirangkulnya salah satu raksasa properti PT Asia Pasifik Properti, anak usaha Grup Rekso, produsen Teh Botol Sosro.

Setelah melakukan pendekatan intensif selama dua tahun, akhirnya Made menuai hasil. Dia berhasil memikat Grup Rekso untuk berkomitmen menginvestasikan dananya untuk mengembangkan lahan seluas 11 hektare guna membangun vila dan hotel bintang lima.

Setelah Grup Rekso bergabung, investor lain pun berdatangan a.l. Grup Westin, Panorama Development Utama, PT Cupumanik Griya Permai, Intra Golflink Resorts yang jika ditotal bakal menggarap proyek di atas lahan seluas 275 hektare.

Menurut rencana, PIR memastikan diri untuk mencuri mata dunia lewat lapangan golf 18 hole. Dijadwalkan, golf course New Kuta Golf seluas 80 hektare berstandar internasional rancangan Ronald Fearm itu ditargetkan tuntas akhir 2007.

Hal ini untuk mengejar gelaran turnamen golf junior dan amatir nasional. Jika lancar bisa diharapkan di tempat itu pada 2008 digelar turnamen golf Indonesia Championship.

Siapa pun tahu penggila golf umumnya rela membuang uangnya di lapangan golf terbaik di mana pun tempatnya berada. Apalagi salah satu pengembang lapangan golf yaitu Intra Golflink Resorts sudah mendesain hunian resor eksklusif bagi para penggila golf.

Made bahkan menjamin lapangan golf ini akan tetap hijau meski dibangun di wilayah tandus. Hal ini berkat penggunaan rumput kultivar tahan air asin yang didatangkan dari Thailand.

Selain itu, PIR juga membangun sistem pengolahan air laut menjadi air tawar yang disebut Sea Water Reserve Osmosis (SWRO) berkemampuan 3.000 meter kubik per detik. Kapasitas ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan PIR.

“Ini masih bisa ditingkatkan menjadi dua kalinya. Teknologi ini diterapkan untuk melindungi kondisi air tanah di Badung Selatan yang dibutuhkan pemukim di sekitar wilayah ini,” ujar pria asal Klungkung itu.

Selain menerapkan teknologi SWRO, PIR juga membangun empat kelompok danau buatan penampung air hujan dan limpahan permukaan dengan teknologi geotekstil yang bisa menampung debit air hingga 250.000 meter kubik.

Bisnis Indonesia Edisi: 04/11/2006

4 Responses to "Made G. Putrawan"

Om Swastiastu Pak Made, saya I Wayan Sudita dari Klungkung, minta tolong agar bisa dikirimkan brosur perumahan yang dibangun oleh PT Cupumanik Griya Indah yang type sahadewa dan type Arjuna, kalau ada brosur yang lain juga ga apa-apa, Suksema sebelumnya, Om Shanti, Shanti, Shanti Om

pak made, gimana kabar mr.puisinya..salam damai

Dear Mr. Made G. Putrawan,

Herewith, may I introduce my self, my name is Frans Soekotjo. I have a workshop called Sanggar Taruna Sakti. Our workshop is about 11 KM from Borobudur temple, Indonesia.

Our workshop deals with handmade stone products (carved) and resin products. Our products usually use for garden decoration, landscape, construction, water parks decoration, and exterior-interior. Those who use our products are: real estate, hotels, architects, landscaper, Interior-Exterior designer, Buddhist or Catholic’s monasteries, developer, contractors, and personal.

The products are: Relief/Wall Panel, Loster/Wall Plaque, Water Features/Fountains, Sculpture, Figurine, Wall cladding/tiles, Flooring tiles, Paving, Wash Basin/Sink, Bath Ub, Pottery, Lamp-Lantern, Statues, Figures, etc.

We use some stone materials, such as: Lava (black) stone, Lime (white) stone, Granite (green) stone, Onyx, and or Resin.

Would you like to allow us to assist you in any of your projects in the future, please.

Please feel free to contact us for further information.

Thank you for your attention.

Best regards,

Frans Soekotjo

Sanggar Taruna Sakti

Jl Pemuda Barat No. 28 Muntilan-Magelang
Jawa Tengah-Indonesia 56413

Email: tarunasakti78@yahoo.com
Phone: +62 293 587 569
Mobile: +62 856 286 2664

PS: Please feel free to contact us and we will send you some of our products photos for your references

Pak Made, apa khabar?

Pak gede, saya baru saja pindah dari bali ke lombok, kebetulan istri saya asli lombok tengah, dilombok ini posona alam begitu menakjubkan, cuma kurang sentuhan investor, kebetulan keluarga istri saya punya begitu banyak lahan hingga ratusan hektar, yang saat ini diserahkan kepada saya untuk mengelola ( di jual atau dikerjasamakan). Untuk itu saya saya mohon dibantu untuk solusinya.
di lombok utara ada 500 hektar (2 jt/are), di lombok tengah pantai mawun bagian timur kurang lebih 40 ha ( 10 jt/are) , di bukit prabu 25 ha (25 jt/are), harga tersebut bukan harga broker, itu harga langsung dari pemilik ( keluarga besar istri saya) . masih banyak lahan lain di lombok ini, yang harus saya kelola.

Semoga Pak Made bisa memberi solusi kepada saya.

salam

Suryawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: