it’s about all word’s

Mengintip dapur para raksasa

Posted on: February 23, 2008

Judul : Kompas: Menulis dari Dalam
Editor: St Sularto
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, November 2007
Tebal: 320 halaman

Judul : Meniti Tali Generasi 30 tahun Kijang
Menyatukan Setiap Keluarga
Editor: –
Penerbit: PT Dunia Otomotifindo Mediatama, November 2007
Tebal: 247 halaman

Awal November dua buku sampai di meja saya. Pertama Kompas: Menulis dari Dalam tentang 40 tahun perjalanan koran umum terbesar di Indonesia dan yang kedua, Meniti Tali Generasi yang diterbitkan Toyota sebagai peringatan 30 tahun Kijang.

Keduanya tampil dengan bungkus yang sangat berbeda, Kompas tampil dengan format standar textbook bersampul depan bergambar editorial cartoon Om Pasikom, sementara Toyota tampil mewah, tebal, dan berformat ukuran A3.

Kompas setia berformat sebuah penerbitan buku dengan memajang St Sularto sebagai editor, sementara Toyota berformat proposal yang artinya buku setebal 247 halaman tak disertai identitas editor.

Jika diandaikan kendaraan, buku 30 tahun Kijang ini mirip mobil bodong. Melenggang di jalanan tanpa diketahui pemiliknya. Bandingkan dengan Toyota Way karya Jeffrey K. Liker. Mewah, lengkap tetapi tetap mencantumkan penanggung jawab isi buku.

Namun, lepas dari terpelesetnya buku ini, Meniti Tali Generasi pantas untuk dibedah bersandingan dengan Kompas. Diakui atau tidak keduanya adalah entitas yang sudah menjadi top of mind konsumen Indonesia.

Harian yang didirikan oleh duet P.K Ojong dan Jakob Oetama sudah menjadi makanan sehari-hari. Sementara melalui Gramedia, pembaca di Indonesia akrab dengan beragam penerbitan yang juga digilai berbagai segmen pembaca. Sebut saja Bobo, Nova, Bola, Intisari, Kawanku, Hai, Angkasa dan lain-lain.

Kaya data

Kenikmatan membaca kedua buku ini adalah kaya akan data. Satu hal yang memanjakan pembaca awam sekalipun. Hanya saja untuk statastik, buku tentang Kijang masih lebih unggul dibandingkan Kompas.

Alasannya, sejak awal Kijang tanpa malu-malu menampilkan komparasi statistik dengan pesaingnya. Tidak saja soal statistik penjualan, mereka juga menampilkan perbandingan harga. Transparansi yang tak membutuhkan banyak pertanyaan.

Sementara itu, Kompas yang secara tersirat mencitrakan diri terbesar justru lupa atau sengaja tidak menampilkan data pasar media yang ada. Jika menyatakan diri besar tentu di sisi lain terdapat pihak yang disebut kecil.

Dari segi penulisan pun, jika dilihat dari kacamata awam, Kompas lebih berat dibandingkan dengan Kijang. Sejak awal Kijang bermain dengan ragam bahasa lebih umum, tak banyak unsur filosofis atau istilah yang bikin kening berkerut.

Bisnis Indonesia Edisi: 09/12/2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: