it’s about all word’s

Nyonya Meneer Story

Posted on: February 23, 2008

Perselisihan ala perusahaan keluarga

Judul : Family Business A Case Study of Nyonya Meneer, One of Indonesia’s Most Successful Traditional Medicine Companies
Penulis : Asih Sumardono dan Mark Hanusz
Penerbit : Equinox Publishing
Tebal : 189 halaman

Dari perwajahan kulit luarnya saja, buku yang diluncurkan untuk memperingati 88 tahun korporasi obat tradisional ini sudah antik karena memajang bungkus Jamu Galian Parem yang ditujukan bagi ibu usai melahirkan. Lengkap dengan ciri khas foto diri Nyonya Meneer dan etiketnya.

Buku ini dibagi menjadi lima bagian yang memudahkan bagi pembaca awam untuk segera mengerti sejarah panjang kerajaan bisnis Nyonya Meneer. Awal berdirinya usaha milik nyonya Lauw Ping Nio yang bersahaja, manisnya pertumbuhan bisnis hingga perseteruan keluarga yang nyaris menghancurkan bisnis ini.

Dalam perjalanan waktu, perempuan perkasa itu kembali kepada Yang Maha Kuasa pada 23 april 1978, beralihlah tongkat estafet kepemimpinan PT. Nyonya Meneer ke generasi kedua sekaligus babak baru bisnis jamu tersebut dalam konflik keluarga berkepanjangan.

Konflik pertama dalam organisasi dimulai pada 1985, dipicu perebutan kekuasaan antar anak dan mantu untuk meningkatkan peranan masing-masing individu itu dalam mesin organisasi yang terus membesar.

Konflik itu berjalan selama kurang lebih setahun, sampai-sampai Sudomo, Menteri tenaga kerja saat itu, ikut terlibat sebagai penengah. Sengketa tersebut melibatkan proses pengadilan dan agenda saling balas menuntut yang akhirnya diselesaikan dengan cara pelepasan saham oleh dua anak Nyonya Meneer Lucy Saerang dan Marie Kalalo.

Prahara kedua berlangsung antara Desember 1989-1994 antara keluarga Hans Pengemanan di satu sisi dengan keluarga Nonie Saerang bergabung dengan Charles Saerang (cucu nyonya Meneer dari anak laki lakinya yang bernama Hans) di sisi yang berbeda.

Bahkan saat konflik ini berlangsung demi keamanan, Charles sampai harus tinggal di Amerika. Saat itu santer terdengar adanya upaya pembunuhan, salah satunya tembakan senjata api yang menghancurkan kaca belakang mobilnya

Beruntung konflik ini akhirnya selesai secara damai dengan disepakatinya pelepasan saham oleh keluarga Hans Pangemanan terhadap keluarga Nonie Saerang dan Charles Saerang.

Pada situasi di mana komposisi saham bernilai seimbang yaitu 50% bagi keluarga Nonie Saerang dan 50% keluarga Charles Saerang, ternyata konflik belum berhenti sampai di titik itu.

Sejarah mencatat ‘gencatan senjata’ hanya berlangsung setahun. Pada 1995 pecah perang antara keluarga Nonie Saerang dengan keponakannya sendiri yaitu keluarga Charles Saerang. Perang akhirnya berakhir tahun 2000.

Perselisihan yang sempat diwarnai oleh perusakan nama baik masing-masing pihak dengan menggunakan kekuatan media massa, kedua keluarga yang berseteru ini akhirnya melibatkan juga pihak pengacara dan pengadilan dalam agenda saling menuntut dan menjatuhkan.

Setelah pertarungan yang melelahkan, akhirnya pihak keluarga besar Nonie Saerang memutuskan untuk mengalah dan memilih untuk melepaskan saham yang dimilikinya kepada keluarga Charles Saerang yang merupakan keponakan pada 27 Oktober 2000.

Kini kepemilikan saham PT Nyonya Meneer dimiliki secara penuh oleh Charles Saerang dan keluarganya. Dominasi ini memudahkan kiprah korporasi ini bergerak tanpa gangguan.

Bisnis Indonesia Edisi: 26/08/2007

Lihat juga

PT Nyonya Meneer
Konsisten pada racikan jamu

Sebanyakan bisnis yang tumbuh di Indonesia berawal usaha keluarga. Sebut saja industri rokok, tekstil hingga industi jamu.

Kendati bisa tumbuh menjadi perusahaan besar dan bebas dari intervensi pihak luar, bisnis keluarga kerap menghadapi persoalan yang justru timbul dari internal mereka sendiri. Hal ini terkait dengan tidak sejalannya keinginan anggota keluarga dengan prinsip-prinsip bisnis yang harus dijalankan. Bahkan pada tahap yang akut, kondisi tersebut justru membuat perusahaan yang sudah susah payah dibangun, berubah menjadi berantakan.

Adalah perusahaan jamu PT Nyonya Meneer yang pernah merasakan repotnya mempertemukan kepentingan keluarga dan kepentingan bisnis. Bahkan, beberapa waktu lalu sengketa internal keluarga itu juga memaksa sejumlah petinggi pemerintah ikut turun tangan. Ribuan karyawan menggantungkan nasib di perusahaan yang didirikan pada1919 ini.

Walau sempat diwarnai masalah internal, tetapi perusahaan ini tetap bisa eksis serta mampu menjaga kekuatan brand. Perusahaan ini juga terlihat semakin ekspansif merambah pasar produk kesehatan- di manca negara.

Lalu apa kekuatannya?

Saat menerima Bisnis di kantornya yang terletak di pusat bisnis kawasan Sudirman, Jakarta, Presdir PT Nyonya Meneer, Charles Saerang bercerita panjang lebar soal perjalanan bisnis jamu keluarganya. Tak lupa, dalam perbincangan itu disuguhkan minuman yang menjadi salah satu produk andalannya, Serbat Meneer Manis.

Dia mengakui betapa repotnya menjalankan bisnis keluarga lantaran beragam pendapat dan pandangan di lingkungan dalam.

Di perusahaan jamu tersebut, hal itu mulai terasa saat sang pendiri meninggal pada 1978. “Saat itulah mulai timbul kericuhan. Dan mulai saat itu saya memahami bagaimana membagi antara keluarga dan bisnis,” kata Charles.

Konflik muncul sejak awal dekade 1980-an dan berakhir pada 2000. Bisa dibilang semua konflik itu menyebabkan perusahaan sulit berkembang.

Hal ini, misalnya, terlihat saat konflik pertama pada pertengahan 1985. Masalah yang berlatar belakang pembagian saham itu menyebabkan produksi sempat terhenti dan sebanyak 1.300 karyawan tidak bisa bekerja.

Kondisi yang hampir sama juga terjadi pada kisruh selanjutnya awal 1990-an yang dipicu persengketaan posisi direktur utama. Pada konflik ketiga yang mulai terjadi pada 1997, PT Nyonya Meneer juga menghadapi kondisi yang tidak lebih baik. Bahkan salah satu anggota keluarga Nyonya Meneer harus berurusan dengan aparat penegak hukum.

Konflik keluarga mulai berangsur reda saat saham perusahaan akhirnya hanya dimiliki oleh tiga orang, termasuk Charles Saerang. “Meskipun ada konflik internal, tetapi kami tetap memastikan bahwa produk tidak kolaps. Produksi, distribusi, dan penjualan jamu tetap kami jaga agar tidak terpengaruh oleh konflik yang terjadi,” paparnya.

Menurut Charles, produk adalah satu hal yang vital bagi perusahaan. Jika produk hancur, hancur pula perusahaan. “Kita berkonflik pada dasarnya berusaha untuk menjaga agar tetap ada power di perusahaan, dan mutu [produk] harus tetap terjaga dengan baik. Maka itu dalam perpecahan Nyonya Meneer, distribusi dan pemasarannya tidak rusak,” ujarnya mengenang.

Lebih ekspansif

Saat ini perusahaan yang telah berusia 88 tahun tersebut tercatat memiliki 254 jenis jamu. Selain jamu-jamu klasik, PT Nyonya Meneer juga memproduksi produk lain yang masuk dalam kategori herbal standar dan jamu untuk pengobatan.

Penetrasi ke pasar global juga dilakukan, seperti ke Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Dubai, dan Taiwan. “Kami menjajaki pula untuk masuk di Inggris melalui produk ramuan temulawak yang dikombinasikan dengan vitamin.”

Satu hal yang tetap menjadi pegangan perusahaan adalah menjaga konsistensi racikan jamu yang diproduksi. Hal itu karena sesuai dengan warisan resep dari Nyonya Meneer. “Ibu Meneer selalu membuat racikan obat dengan berat tujuh gram. Selama ini komposisi ini tidak pernah berubah dan terbukti lebih manjur,” kata Charles.

Selain komposisi, Nyonya Meneer juga menghadirkan produk jamu dengan aroma dan rasa yang khas. Identitas inilah yang membedakan dengan produk jamu lain yang banyak diproduksi dari China.

Sebenarnya, menurut dia, itu adalah ciri jamu Indonesia. Walaupun pahit, tetapi masih ada sedapnya, yaitu di aroma. Berbeda dengan jamu-jamu China yang memang pahit.

Pada akhir tahun ini, perusahaan tersebut mencatat total penjualan seluruh produknya sebesar 7,7% dari tahun sebelumnya. “Kalau dihitung berdasarkan jumlah penjualan per bungkus, akhir tahun ini kami mencatat peningkatan sebesar 40%,” kata Charles.

Untuk tahun depan PT Nyonya Meneer memproyeksikan peningkatan penjualan sebesar 15%. Hal itu didasarkan pada perkiraan semakin membaiknya perekonomian nasional.

Bisnis Indonesia Edisi: 30/12/2007

1 Response to "Nyonya Meneer Story"

Trimksh ats info pnjualany.. Cm saya ingn tahu z, modal pt nyonya meneer tu brp? Trus total aktivany brp? & trakhir, jumlah 7,7% trsbut kira2 kalau d nominalkan brp? Sblum ‘n sesudahny terimaksh.. Mhon d balas,buat data akademis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: