it’s about all word’s

Piawai padukan statistik dan intuisi

Posted on: February 23, 2008

Judul : Alan Greenspan: The Age of Turbulence
Adventures In A New World
Penulis: Alan Greenspan
Penerbit: The Penguin Press, 2007
Tebal: 531 halaman

Tak berlebihan jika Alan Greenspan menjual memoarnya dengan judul yang bombastis. Pria keturunan Yahudi imigran Rumania ini berhasil mengawal masa-masa krusial AS selama menjadi bos Federal Reserves, bank sentral negara tersebut, periode 1987-2006.

Sepanjang masa pengabdiannya, Greenspan harus menjadi panglima di balik layar pertempuran finansial yang tak kalah pentingnya dengan tebaran mesiu dan skandal politik imbas Perang Dingin.

Pria kelahiran 6 Maret 1926 itu mengawal perekonomian AS di masa Perang Dingin yang dipimpin Presiden Ronald Reagan, keruntuhan Tembok Berlin, tercerai berainya imperium Uni Soviet, badai krisis moneter Asia dan peristiwa hancurnya saham dot-com yang disebut Black Monday.

Namun, dari sederet peristiwa besar itu, pria gundul berkaca mata itu justru membuka kisah dengan peristiwa 11 September 2001, saat sekelompok teroris membajak sejumlah pesawat dan menubrukkannya ke beberapa titik penting.

Namun sejak awal Greenspan tidak mencitrakan dirinya sebagai tokoh yang luar biasa. Disajikan dengan gaya naratif, buku ini justru menyajikan sosok dirinya yang juga bingung, resah, dan ketakutan terhadap tanggung jawab besar dalam genggamannya.

Humanis

Dia bahkan mengakui, satu hal yang terlintas di kepalanya usai mendapat laporan peristiwa WTC justru bukan soal ekonomi, tetapi belahan hatinya, Adrea Mitchell yang bekerja sebagai kepala koresponden media berita NBC di Washington.

Satu sajian jujur tentang tingkah polah manusiawi yang jarang disajikan buku-buku para tokoh penting Tanah Air.

Keunikan lain meski bisa dikatakan sebuah biografi, buku setebal 531 halaman ini justru dijubeli catatan Greenspan terhadap peristiwa ekonomi dunia selama karirnya sebagai bos The Fed termasuk beberapa analisa perekonomian dunia di masa datang.

Boleh dikata kisah pribadi pria kelahiran Washington Heights, New York ini hanya menyajikan satu bab masa kecilnya di bab ‘City Kid’. Itu pun dijejali perjalanan pendidikan dan kehidupan Greenspan di masa dewasa.

Bankir paling berkuasa di dunia ini mengalami empat presiden berbeda, tetapi di tangannya, AS mengalami masa-masa pertumbuhan ekonomi yang baik dan hanya mengenal dua kali masa resesi.

Dua bulan setelah dia diangkat pada 1987, AS diancam krisis ekonomi karena peristiwa Black Monday. Dia dengan tenang menyuntikan kredit kepada berbagai instansi keuangan AS sehingga krisis itu tidak merembet ke dunia lain.

Dalam bukunya tersirat, sebagai pemimpin institusi raksasa itu tak hanya terpaku pada angka statistik dan data. Dia juga memiliki intuisi yang tajam menyangkut masalah ekonomi. Satu metode yang mirip mata uang, kadang berhasil kadang gagal.

Meski demikian, Greenspan berani bertangggung jawab. Lihat saja saat dia mengaku salah tentang prediksi ekonomi AS di paruh kedua 1990-an.

Buku ini juga menarik karena sebagai sosok yang mengenal struktur dan sistem ekonomi AS, Greenspan juga mengkritik Bush yang mengeluarkan anggaran negara secara tidak bertanggung jawab dan membiarkan terjadi defisit anggaran yang sangat besar.

Bisnis Indonesia Edisi: 11/11/2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: