it’s about all word’s

Referensi bagi penguasa baru Jakarta

Posted on: February 23, 2008

Judul :Sejarah para Pembesar Mengatur Batavia
Penulis :Mona Lohanda
Penerbit :Masup Jakarta, Juni 2007
Tebal :304 Halaman

Buku karya Mona Lohanda ini terbit Juni lalu dan dianggap sebagai momen yang tepat, karena kemenangan Fatahillah mengusir sepasukan tentara Portugis pada 22 Juni 1527 diperingati sebagai hari jadi kota yang dulu bernama Sunda Kelapa atau Jayakarta ini.

Selain itu, buku ini menarik karena bisa menjadi referensi kedua calon penguasa kota pusat pemerintahan Kamar Dagang Hindia Barat (VOC) dan pemerintah Hindia Belanda selama 350 tahun.

Mona Lohanda, ahli sejarah dan arsipatoris tentang Batavia atau Jakarta pada masa silam, berhasil menyajikan secara menarik perjalanan Jakarta yang kemudian menghasilkan sebuah etnik campuran bernama Betawi.

Selain itu, dia piawai menyampaikan sebuah fakta budaya bahwa Betawi sebagai etnik dan suku bangsa Jakarta secara historis dan tradisi sudah terbiasa dan mudah menerima pendatang sekaligus budaya, adat istiadat hingga bahasa.

Hal ini tak lepada dari perjalanan Sunda Kelapa hingga menjadi Batavia di bawah pimpinan sang legenda, Jan Pieterzoon Coen sudah dijubeli segala bangsa untuk bermukim di kawasan rawa-rawa itu.

Untuk wilayah dalam kota terdapat etnik Moor dari India yang beragama Islam, ada Jepang, lalu China yang sebagian tetap ekslusif dan sebagain lagi membaur termasuk memeluk agama Islam, dan berabagai bangsa Eropa seperti Belanda, Prancis, Jerman hingga Polandia.

Selain itu, di luar tembok kota Batavia terdapat komunitas yang lebih besar, jumlahnya lebih dari 100.000 jiwa dan kebanyakan adalah kaum pribumi dari berbagai etnis yaitu Jawa, Sunda, Sumatera, Bali, Buton, Makassar dan suku-suku lain yang datang ke kota untuk mengadu nasib.

Secara tak langsung, buku ini memberi pesan etnik Betawi sejati tak akan mempersoalkan siapapun atau etnis apapun yang kelak menjadi gubernur asal mampu memimpin Jakarta.

Mona secara lengkap memaparkan para pemimpin Batavia lengkap dengan sistem dan pranata yang mereka terapkan. Uniknya beberapa tuntutan dari pihak-pihak saat ini yang mengagungkan ekslusivitas kesukuan dan agama justru sudah pernah berhasil diterapkan para Meneer penguasa tempo doeloe.

Mudah dicerna

Bagi penggila buku-buku sejarah atau pencinta kekinian, karya Mona sangat mudah dicerna karena menggunakan bahasa yang ringan, namun bernas untuk menguraikan aturan-aturan ekonomi, hukum dan sosial di Batavia saat itu.

Sayang penulis tidak terlalu dalam menyajikan sejarah mengapa VOC justru lebih memilih memindahkan kekuasaan mereka ke Batavia meskipun telah memiliki basis sumber rempah-rempah di Ambon.

Tapi di buku ini disertakan pula kisah-kisah unik seputar para pembesar Batavia yang tak jauh beda ternyata diwarisi para pembesar Jakarta. Mulai dari kondisi kota yang tak sehat, nepotisme, korupsi hingga tragedi.

Selain itu dikisahkan peran sebuah penguasaan bangunan pusat pemerintahan sebagai simbol persaingan antara VOC dan pemerintah Kerajaan Belanda. Termasuk di dalamnya kegagalan sistem kota untuk menanggung melonjaknya penghuni kota yang terus membengkak luar biasa.

Dengan ukuran buku yang mudah digenggam dan mudah dibawa seharusnya Mona meneruskan kisah Jakarta ini di bawah pemerintah bangsa Indonesia. Jika langkah ini dilakukan, lengkap sudah kisah wilayah pelabuhan yang dulu ada di bawah pemerintahan Pakuan Pajajaran ini.

Bisnis Indonesia Edisi: 12/08/2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: