it’s about all word’s

Shanghai yang romantis

Posted on: February 23, 2008

China tidak hanya dikenal sebagai kekuatan ekonomi dunia, tapi juga memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi pecinta wisata. Selain objek yang tertata dengan baik, fasilitas pendukungnya pun tergolong lengkap dan nyaman.

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan dari PT Indomobil Sukses Internasional Tbk mengunjungi markas produsen otomotif asal China, Chery Automobile Co.Ltd di Kota Wuhu, Anhui.

Kesempatan tersebut sekaligus saya memanfaatkan untuk mengintip langsung negeri yang mengagumkan ini. Negeri asal kungfu ini kini menjadi pusat industri yang sudah siap membelit dunia.

Memang butuh ketahanan fisik dan kesabaran jika dari Indonesia menuju ke China. Mula-mula kami menggunakan pesawat Cathay Pasific ke Hong Kong. Selanjutnya harus bersabar selama empat jam di Bandara Kaitak untuk menanti Dragon Air yang akan membawa kami terbang selama tiga jam ke Nanjing.

Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 21.30 saat roda Airbus Dragon Air mendarat mulus di Bandara Nanjing. Kota ini dikenal sebagai pusat ekonomi di kawasan muara Sungai Yangtze sejak ratusan tahun silam.

Tak berapa lama barang rombongan sudah masuk mobil penjemput. Kami sempat saling pandang. Maklum penjemput kami mobil polisi lengkap dengan sirine dan lampu biru, merah, dan putihnya.

Hanya berjarak 10 meter, mobil nyaris menubruk sedan Buick hitam yang salah mengambil jalur. Sang supir pun mengeluarkan sapaan ‘ramah’nya pada supir ngawur itu sebelum kembali melarikan mobil dengan cepat ke arah Wuhu.

Perjalanan sangat lancar meski sedikit menegangkan. Sang supir berkali-kali menyalakan klakson, sementara kami hanya diam sembari mencoba menikmati musik instrumental China yang diperdengarkan.

Saya sendiri lebih asyik mengawang-awang, andai saja bisa diberi kesempatan menikmati Nanjing yang dikenal sebagai ibu kota ilmu pengetahuan, budaya, kesenian, dan pariwisata.

Kini Nanjing jadi kota industri yang mumpuni dan nyaman bagi pebisnis dan ilmuwan.

Lamunan saya terhenti. Mobil memasuki kawasan industri Wuhu. Jalanan tampak sepi. Sesekali truk dan motor melintas dan langsung menepi memberi jalan bagi mobil untuk mendahului.

Kereta api tingkat

Kota menarik dan sudah sangat terkenal, Shanghai tentu saja tidak terlewatkan dalam kunjungan kali ini. Untuk kesana kami menempuh jalur darat menggunakan kereta api. Menurut pemandu kami, Sales Manager Chery International Asian-Pasific Region, Li Feng, kereta di China selalu tepat waktu.

Meski sebagai kota industri, aroma udik di Wuhu masih terasa. Berdesak-desakan dan tak mau antri, membuat saya serasa di stasiun Gambir. Bedanya di stasiun di Wuhu tak ada calo atau penumpang liar masuk ke dalam stasiun.

Butuh perjuangan tersendiri untuk bisa naik ke kereta api bertingkat itu. Apalagi memotret, harus mencuri-curi karena beberapa petugas yang melihat kilat lampu kamera langsung menegur saya.

Rombongan kami mendapat tempat duduk saling memunggungi. Meski KA yang kami tumpangi kelas terbaik, bangku yang disediakan adalah tiga berbanjar adu dengkul ala KA ekonomi Tawang Jaya jurusan Jakarta-Semarang.

Yang membedakan, di KA dengan gerbong bercat biru, selain berpendingin ruangan juga bebas pedagang asongan atau penumpang menggelesot di lantai. Dari pengamatan saya, petugas KA pada umumnya adalah perempuan.

Saya memilih tidur sambil sesekali mata memincing dan kuping mendengarkan obrolan berisik para penumpang yang mirip para penjual sayur. Kebetulan sepanjang perjalanan itu hujan terus menderas.

Karena jalur menuju Wuhu-Shanghai berbentuk separuh oval maka rute perjalanan KA berjalan mundur dulu ke arah Hefei baru kemudian maju ke arah Nanjing.

Dari Nanjing ke Changzhou pemandangan lebih banyak dihiasi kawasan industri yang diselingi tanah pertanian. Tetapi sejak di jalur Changzhou-Wuxi, KA lebih banyak disuguhi pemandangan pertanian.

Sementara dari Wuxi, Sozhou, dan Shanghai pemandangan mulai berselang-seling antara kawasan pemukiman, industri, dan pertanian. Selebihnya tampak gelap dan hujan rintik-rintik. Untuk sampai Shanghai butuh waktu lima jam.

Memasuki Sozhou, saya mulai tak tahan duduk. Kamar kecil dan bordes (sambungan antar gerbong) jadi tujuan. Rupanya di sana sudah banyak penumpang yang merokok di tempat itu. Ada pula seorang pegawai necis yang menggelesot di lantai beralaskan koran.

Pada setiap ujung gerbong terdapat dua kamar kecil yang berhadapan dengan wastafel. Uniknya kloset di kamar kecil itu adalah kloset jongkok.

Sampai di stasiun, kami sudah ditunggu gadis cantik Sabrina. Nama aslinya Song Jia. Perempuan asal provinsi Hunan jebolan Qingdao Science and Technology University ini bekerja di Salim Grup. Sementara supirnya Antony Lim, tutur katanya halus mirip orang Solo, pikir saya.

Pemandangan malam

Shanghai memang kota romantis. Kota yang berkali-kali disebut Li Chiao dalam Trilogi Awakened Land dan Yang Mo dalam The Song of Youth ini sejak dulu jadi pusat ekonomi dan politik China.

Letaknya di tepi Laut China Timur membuatnya selalu terbuka pada pengaruh asing. Tak peduli meski revolusi budaya ditiupkan Mao Zedong atau tirai bambu disibakkan Deng Xiaoping.

Shanghai juga kota yang indah. Jalannya lebar dan bersih. Pada malam hari lampu warna-warni bak jutaan lilin yang menyambut wisatawan. Konon, pemerintah China mensubsidi lampu-lampu tersebut.

Subsidi itu diambil dari pendapatan wisata Sungai Huang Pu di malam hari. Wisatawan bisa menikmati Shanghai dengan lampu dan gedung di pinggiran sungai yang indah berkelap-kelip romantis.

Saya jadi teringat saat ikut paket Swan River Cruise Night di Perth, Australia Barat. Dugaan saya mendapat muara bahwa konsep tata kota dan wisata belanja Shanghai memang ditujukan untuk menyaingi Hong Kong. Pantas saja aroma Inggris-nya cukup kental.

Pagi-pagi sekali Sabrina dan Antony sudah menanti. Rencananya kami akan plesir keliling kota. Sayangnya saat itu cuaca mendung. Tujuan pertama kami adalah Oriental Pearl Tower. Menara TV dan radio setinggi 468 meter ini punya bentuk yang unik. Kalau Anda jeli, gedung ini muncul dalam film Mission Impossible III.

Atraksi yang ditawarkan adalah naik ke lantai 259 untuk menikmati panorama kota. Lift yang kami tumpangi jalannya cepat, sekitar tujuh meter per detik. Seputar lantai 259 di setiap kacanya diberi petunjuk dan jarak ke arah kota-kota besar di sekitar Shanghai.

Saya terpukau dengan gedung Jin Mao yang arti harafiahnya berbuah emas. Tingginya 420 m atau tertinggi di China dan nomor tiga di dunia. Pada masa datang, Shanghai bakal membangun menara kembar bernama Shanghai World Financial Trade.

Di pedesterian seberang Pearl Tower duduk bapak berpeci putih. Saya coba sapa dia dan menanyakan letak Masjid Huxi. Sayangnya dia hanya menggeleng.

Kemudian saya coba menanyakan masjid yang dibangun Su Jia Nuo, tapi lagi-lagi dia menggeleng.

Huxi adalah masjid tertua Shanghai, sementara Masjid Su Jia Nuo diambil dari nama Presiden RI Soekarno di China.

Kami juga menyempatkan berkunjung ke Nanjing Road yang saat itu cukup panas. Suhu termometer raksasa setinggi belasan tingkat di gedung Seven Heaven Hotel menunjukkan angka 31 derajat celcius.

Terus berjalan menyusuri Nanjing Road kami sampai ke People Park. Saya sempat iseng bertanya pada Sabrina, “Kok di negaramu tak ada pengemis?”

“Ada, tapi sudah ditangkapi petugas dan dibuang ke luar kota!” jawabnya enteng.

Menurut dia, umumnya pengemis yang berkeliaran di Shanghai dari Provinsi He Nan dan Xin Jiang. Mereka adalah petani dan kalau musim dingin susah menanam, sehingga mau tak mau jadi pengemis.

Kami memang tak berlama-lama di People Park dan memilih langsung naik ke Central Tibet Road. Pada ujung persimpangan ada gereja dengan salib merah, sementara di seberang jalannya tampak puluhan orang berkerumun.

Rupanya ada pertunjukkan musik. Musiknya oldies dan beberapa opa dan oma asyik berdansa. Para turis yang melintas banyak yang mengabadikan hal itu. Tapi kami tak bisa berlama-lama di sini, karena tempat menarik lainnya yakni The Bund sudah menunggu.

The Bund terletak di sepanjang Zhongshan Dong Road. Sepanjang jalan dipenuhi bangunan berarsitektur klasik modern. Pada tepi sungai itu berdiri gagah patung Gubernur Chen Yi.

Usai bersantap malam saya memilih memisahkan diri dari rombongan. Agar bisa melancong ke Yu Garden yang dibangun oleh Dinasti Ming. Meski letaknya di ujung Zhongshan Dong Road, tapi bus yang saya tumpangi salah jurusan.

Saya akhirnya memilih kembali ke pinggir Sungai Huangpu, menikmati kilau lampu warna-warni dengan minum teh dan menyantap sate ala Shanghai yang manis dan pedas itu.

Ah, rasanya hari terlalu cepat berlalu. Rasanya butuh waktu sepekan untuk bisa menyusuri seluruh titik wisata Shanghai yang romantis ini.

Jangan takut menawar, my friend

Belanja di Shanghai ini butuh satu seni, yakni seni nekad. Kalau menawar langsung separuh harga. Ini pesan Sabrina saat kami berburu suvenir di Fan Bang Road. Selain itu karena bahasa tak nyambung, maka kalkulator jadi perantara antara pembeli dan penjual.

Tips tersebut kami praktikkan. Hasilnya, meski adu urat, tapi baik pembeli maupun penjual sama-sama senang. Sayangnya banyak pula pedagang di pasar itu yang memaksa dan marah-marah. Karena tak satu pun dari kami yang melek Mandarin maka kami hanya mengerahkan jurus silat pengunci bibir ditambah langkah seribu.

Setelah Fan Bang Road, tujuan kami berikutnya adalah Nanjing Road. Di kanan dan kiri jalan ini terdapat mal dan toko, mirip kawasan Orchad, Singapura. Bagi Anda yang malas berjalan kaki, bisa naik kereta listrik yang disupiri perempuan cantik dengan membayar tiga yuan.

Barang ilegal

Bagi Anda yang ingin membeli jam, dompet, tas, ikat pinggang dengan harga miring bisa saja memburu barang-barang ilegal. Kebetulan kami sejak belanja sudah dikuntit beberapa orang pedagang barang ilegal itu.

“Come, come my friend, Indonesia? I have good price,” ujar pedagang yang mengaku bernama Lan.

Kami pun bagai kerbau dicocok hidung mengikuti tiga pria China itu menyusuri gang kecil di balik megahnya Nanjing Road. Saya ingat ada tiga persimpangan kecil tapi sibuk menuju gang Ning Bo itu, yakni Gung Xi North, Tianjin, dan Gung Xi. Bangunan tempat Lan berjualan lebih mirip ruko bekas.

Baru masuk bangunan bernomor 542 itu, jejeran meteran listrik berdebu terpampang di dinding. Untuk mencapai lantai tempat Lan berjualan kami harus melalui tiga pintu berlapis dengan kamera pengawas.

Saat kami tiba, seorang perempuan asal Australia sibuk menawar tas merek Gucci warna putih. Saya sendiri hanya melihat-lihat. Kata sahabat yang pernah sekolah di Shanghai, barang luks di depan saya itu biasa beredar di Sogo jongkok atau di Mangga Dua, Jakarta.

“No, no, no. Please, my friend. It’s final,” ujar Lan sambil menunjuk harga di kalkulatornya.

Barangkali gerah karena ruangan kecil itu sudah dipenuhi orang, akhirnya Lan menuruti penawaran rombongan kami.

“Ok my friend. Thank you Indonesia,” tutur Lan lalu mengangguk pada kawannya yang sejak awal memelototi kamera pengawas.

Bisnis Indonesia Edisi: 15/10/2006

2 Responses to "Shanghai yang romantis"

Apakah saya boleh mengutip tulisannya terutama perjalanan ke luar negeri untuk dimuat ulang di majalah internal perusahaan kami ??

Terima kasih

silahkan selama anda menyebutkan sumber dan nama penulis…salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: