it’s about all word’s

Tetap sibuk meski ‘nganggur’

Posted on: February 23, 2008

Bagi sebagian orang, masa purnatugas merupakan saat yang menggembirakan. Tapi bagi sebagian lagi tak jarang diisi dengan kegelisahan. Mereka resah karena harus kehilangan jabatan, kedudukan, rutinitas, dan tentu saja pemasukan.

Saat menjadi bos, para eksekutif ini terbiasa sangat sibuk, banyak teman, dihormati dan tentu diprioritaskan mendapatkan pelayanan kelas satu. Tapi, segala hal yang indah itu berakhir saat jabatan tak lagi ada di genggaman. Tentu tidak mudah menjalani peralihan kehidupan dari orang ‘berkuasa’ menjadi orang biasa.

Salah satu eksekutif yang siap dengan perubahan adalah mantan Direktur PT BNI Securities Umar T. Laksamana yang mengaku telah mempersiapkan mentalnya saat pemegang saham berniat menganti posisinya dengan orang lain.

Dia cukup beruntung karena keluarga sudah terbiasa dengan kondisinya yang kadang menjabat, kadang tidak (on off) dalam bekerja. Sebelum berkiprah di BNI Securities, dia pernah menjadi direktur di PT Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.

Usai tak lagi aktif di BEJ dan BES, Umar yang jebolan MBA De Lasalle University Manila, Filipina itu sempat mengisi waktunya menjadi dosen di Universitas Indonesia, hingga kemudian diangkat sebagai direktur BNI Securities.

Selepas dari BNI Securities, Umar tak sempat menganggur di rumah. Dia langsung disibukkan oleh aktivitas baru, yaitu mengurusi pesantren keluarga di Aceh yang selama ini tak sempat diurusnya.

Bermula dari kesibukannya mengurusi pesantren itu, Umar bersama rekan-rekannya justru mendapatkan kepercayaan dari investor asal Irlandia untuk mendirikan perusahaan patungan yang berkongsi dengan otorita Subang.

Berbeda dengan Umar, mantan Direktur PT Bank Muamalat Tbk Wahyu Dwi Agung yang mengundurkan diri dari bank tersebut sudah menyiapkan bisnis baru sebelum hengkang dari bank tersebut.

Berhenti dari pekerjaan ini sudah diperhitungkan sebelumnya dengan mempersiapkan usaha baru. Begitu berhenti dari pekerjaan, dia langsung sibuk mengurusi bisnisnya di bidang konsultan syariah dengan bendera MC Consulting dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Pengalamannya sebagai bankir juga memiliki andil memuluskan bidang usaha yang ditekuninya saat ini. Hasilnya, mantan Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) tak gamang kala harus melangkah sendirian.

Kenali diri

Salah satu penyebab stres di masa purnatugas adalah kehilangan peran, pengakuan dan kesibukan. Untuk mensikapi itu seseorang bisa mengisi hari-hari dengan kegiatan positif dan yang penting bisa menerima keadaan dengan rela. Sebab pada dasarnya setiap orang akan mengalami hal yang sama.

“Jika seseorang sudah memasuki masa pensiun ada baiknya menyelaraskan keseimbangan antara daya pikir dan ketahanan emosi dan mengelola stres secara sehat,” kata Andrini Fitriatul, psikolog dan rohaniawan, dalam sebuah seminar.

Salah satu cara yang bisa dilakukan, lanjut dia, untuk mengisi masa pensiun diawali dengan mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Selanjutnya memberdayakan kekuatan yang dimiliki dan menyelaraskan diri dengan kesehatan fisik di masa purnabakti.

“Yang tak kalah penting adalah bagaimana mengenal peluang usaha, kegiatan, dan hobi yang bisa dikembangkan. Hal lain adalah bagaimana merencanakan anggaran rumah tangga yang sesuai dengan penghasilan ketika pensiun,” kata Andrini.

Hal serupa diungkapkan Chief Executive Officer PT Direct Vision Nelia Molato Sutrisno. Menurut dia, pada umumnya para eksekutif yang purnabakti dengan keinginan sendiri lebih siap menghadapi stres.

“Saya melihat beberapa kawan yang mengundurkan diri pada umumnya sudah siap menekuni beberapa hal yang mereka lewatkan selama disibukkan oleh pekerjaan,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Salah satu eksekutif yang kemudian melarikan stresnya pascapensiun ke hobi adalah mantan direktur PLN Tunggono Soemedi yang kini direktur operasional PT Cahaya Sakti.

Dengan semangat pria berambut putih ini menghabiskan tiga bulan pertama usai purnabakti dengan mengunjungi dive site di seluruh penjuru Indonesia.

“Tiga bulan saya keliling Indonesia. Pokoknya diving [menyelam] terus. Setelah itu baru memikirkan mau apa saya,” tutur pria yang getol olahraga selam sejak menjabat Kepala Cabang PLN Jawa Timur pada 1986.

Dia memutuskan untuk menggunakan kemampuan dan jaringannya di industri kelistrikan bersama kawan-kawannya sesama pensiunan PLN.

“Yah, akhirnya saya bersama kawan-kawan yang lain kembali ke dunia kelistrikan. Kemampuan kami kan di industri listrik. Kalau disuruh ngurus kebun, ya nggak bisa,” tutur dia.

Tunggono memulai bisnis listriknya. Lobinya yang kuat membuat dia mampu mendapat order pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di beberapa tempat.

“Anak istri malah ganti bertanya. Kok saya malah lebih sibuk dibanding saat masih aktif di PLN,” tutur ayah dari Yuni Kirana dan Desi Mustika itu.

Tak jauh berbeda dengan Tunggono, Dirut Bank Niaga Tbk Peter B Stok memilih untuk tetap menggunakan ilmu dan pengalamannya di bidang perbankan dalam membantu orang. Namun hal tersebut tidak akan dilakukan sebagai aktivitas harian.

Lepas dari jabatan, dia ingin menikmati hidup dan berbuat sesuatu yang terlewatkan selama bekerja. “Lebih banyak perhatian ke aspek sosial. Lebih dekat ke keluarga lah. Golf, joging, jalan-jalan dan minum kopi di mal. Santai lah.”

Persoalan post power syndrom pun siap dihadapinya karena dia pernah menganggur selama tiga bulan saat krisis moneter. Dia mundur dari jabatannya sebagai Wakil Dirut Bank Pelita.

Beruntung istrinya, Arita, dan ketiga anaknya Senoadji, Karina Indahwati, dan Teresa Adrianti selalu mendukung langkahnya termasuk mundur dari jabatannya sekarang.

Hal serupa juga dialami Paul L. Coutier yang sudah 31 tahun bekerja di Pertamina. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Perwakilan Pertamina untuk Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara yang berkedudukan di London, sekaligus Deputi Kepala Bapedal yang diminta langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup saat itu Emil Salim.

Setiap tahun tak kurang dari lima kali, pria berumur 67 tahun itu ditanggap sebagai pembicara persoalan lingkungan oleh negara-negara Asia Tenggara dan Jepang.

“Selain sibuk jadi pembicara. Pendidikan, kursus dan pelayanan kerohanian. Titik temu kerohanian itu ada dalam lingkungan hidup dan sosial. Jadi tak ada kata untuk post power syndrome.”

Bisnis Indonesia Edisi: 29/10/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: