it’s about all word’s

Off road, tantangan yang mengakrabkan

Posted on: February 25, 2008

Homo Ludens. Manusia bermain. Konsepsi psikologi ini sangat tepat untuk menggambarkan kecerdasan manusia merumuskan starategi transaksional dengan lingkungannya.

Dalam tekanan dunia kerja yang mengikis relasi sosial, sebagian eksekutif melarikan diri pada deru mesin, bau bensin-solar, derit decit ban, pekatnya lumpur, terjalnya bebatuan dengan menunggang jip berpenggerak empat roda menjelajahi pedalaman tak terjamah.

Dengan cara itu, relasi sosial yang renggang akan kembali terjalin sekaligus memenuhi hasrat kejantanan. Diakui atau tidak kegiatan off road dan olahraga alam terbuka lekat dengan kelelakian.

Butuh nyali untuk melakukan kegiatan yang bikin pinggang pegal dan pantat terasa tebal. Kebugaran fisik dituntut prima. Perhitungan pun harus tepat agar tunggangan tak terperosok. Namun, tak kalah penting, kekompakan dan kerja sama sesama off roader.

Menurut Hendar Subakti, Ketua Umum Suzuki Jip Indonesia (SJI), yang sehari-harinya bekerja sebagai programer IT di PT Bank Negara Indonesia Tbk, kerja sama mutlak dibutuhkan karena perjalanan off road selalu dihadapkan pada kondisi serba ekstrem.

“Jalan yang tidak tertata, hingga masalah kerusakan mesin, itu membutuhkan penanganan bersama. Kita tidak bisa melakukannya sendiri,” kata pria yang biasa disapa Aconk itu.

Pernah suatu ketika mobil yang dia kendarai rusak di tengah hutan. Tanpa banyak omong, off roader dari klub lain yang ada di situ serta merta membantu tanpa diminta. Tak itu saja, rekan-rekannya yang ada di Jakarta pun langsung bergerak ketika mendengar hal itu.

Selain keberanian ekstra, menekuni hobi ini juga butuh dana tak sedikit. Untuk mendandani Suzuki Jimny, Aconk mengeluarkan dana hingga Rp10 juta per bulan atau mencapai Rp120 juta per tahun.

“Itu untuk satu mobil saja yang digunakan untuk off road. Nilai itu relatif lebih murah jika dibandingkan dengan uang untuk perawatan jenis mobil yang lebih besar,” ujarnya.

Ya, nilai itu relatif lebih murah jika dibanding dengan dana yang dikeluarkan untuk merawat jenis jip off road yang lain. Selain itu, kendaraan jenis ini juga mengkonsumsi bahan bakar lebih sedikit.

Bandingkan dengan jip jenis CJ 7 yang dikeluarkan pabrikan Chrysler tahun 1980-an. Mesinnya yang berkapasitas besar dan bodinya yang berat membutuhkan banyak dana terutama perbaikan kaki-kaki dan ban.

“Paling besar untuk modifikasi kaki-kaki dan ban. Kalau mesin paling enak tetap standar sajalah. Soalnya pernah dimodifikasi pakai mesin Cherokee kurang oke,” ujar Bagus Adi Tjahjanto, pengacara di Guardian & Guardian Law Firm.

Mengeluarkan biaya besar untuk mempersiapkan kendaraan biasa dilakukan para off roader agar tunggangan mereka selalu siap dibawa berpetualang kala kejenuhan di kantor sudah tak tertahankan.

Sebut saja Ryco Arnaldo, off roader komunitas 4Wheeler Jakarta ini pasti kabur melumpur di akhir pekan jika sudah mulai jenuh dengan pekerjaannya sebagai bos PT Digmatama, pemasok pipa untuk perusahaan minyak.

Uniknya pria berkaca mata penunggang jip legendaris Land Rover jebolan Fakultas Ekonomi Univesitas Pancasila sering pula mengajak istri dan dua putranya.

Digeluti perempuan

Namun, siapa bilang off road melulu dunia laki-laki. Dunia otomotif Indonesia tetap akan mengingat diantara 14 pendiri IOF ((Indonesian Offroad Federation) terselip sosok perempuan bernama Rahmi Yola.

Perempuan berjilbab kelahiran Palembang dan ibu tiga putri itu adalah istri Daniel Zebedeus, off roader sekaligus modifikator mobil off road rangka tubular 4xFADworks, Bandung.

Salah satu contoh eksekutif perempuan yang tetap mencintai dunia off road meski kini dirinya sudah berkeluarga adalah Fitriani Hamzah, Direktur PT Radinas Eka Saputra.

Dalam usianya yang tidak lagi muda, ibu dua anak ini masih menyimpan obsesi untuk terus menguji nyalinya dalam ajang off road. Selain menantang, Fitri ingin mengenang kejayaan masa mudanya yang banyak dihiasi dengan kegiatan menantang bahaya lainnya.

“Waktu masih awal karier saya gila-gilaan. Bisa off road sampai ke Bali bersama teman-teman sekomunitas yang biasa nongkrong di Senayan kala itu,” ujar perempuan yang tergabung dalam organisasi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) ini.

Dia mengakui kala masih usia belia Fitri juga akrab dengan dunia motorcross yang lambat laun mulai ditinggalkan seiring bertambahnya usia.

Kelak, perempuan yang masih terlihat cantik menjelang setengah abad itu akan kembali mengulang hobinya. Namun berbeda dengan masa sebelumnya, Fitri ingin off road bersama keluarga.

“Inginnya off road sekalian jalan-jalan. Selain menantang, tetapi juga merasa nyaman dan aman karena bersama suami dan anak-anak saya,” ujarnya sembari tersenyum.

Sependapatan dengan Fitri, off road sambil jalan-jalan juga digemari Nita Yudi yang mengaku sejak belia suka kebut-kebutan di jalan raya.

Konsep off road sambil jalan-jalan menurutnya lebih nyaman dan aman mengingat Dirut PT Dita Dini Neo Swara ini ingin selalu bersama suami dan kedua putri kecilnya saat liburan.

“Jadi kalaupun saya ingin luapkan hobi uji nyali berkendara, harus yang aman dan nyaman, pakai konsep off road sambil jalan-jalan,” ujar perempuan yang tergabung dalam komunitas Lady Cruiser ini.

Satu pria yang sukses ‘meracuni’ keluarga agar suka dengan off road adalah Victor Zega, arsitek monumen Pahlawan Tak Dikenal dan Sport Centre Competition, IAI – Kota Bumi ini sukses membuat istrinya, Kartika Yuniastuti ketagihan off road.

Awalnya membawa sang istri berpetualang dengan Sierra 1.000 cc selanjutnya entah ketagihan atau bagaiman, Kartika nurut saja ketika diajak Victor merambah jalur-jalur berlumpur.

Belakangan, selain merestui putra semata wayang mereka Alexander A. Zega, Kartika menurut Victor malah suka berpetualangan bersama Victor menunggang Nissan Terrano Spirit keluaran 2004.

“Istri gue [Kartika] suka dengan petualangan yang tak terlalu ekstrem. Jadinya lebih bersifat touring lalu berkemah. Yah yang penting sukses membuat keluarga suka naik jip lah,” ujar jebolan Universitas Parahyangan itu.

Bagaimana dengan yang tua-tua? Contoh bisa berderet. Mulai dari Yuma Wiranatakusumah yang beberapa waktu lalu melumpur bersama Bisnis ke Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi hingga Harry Sanusi.

Harry yang akrab disapa Babe malah berjanji tak akan naik sedan selama Toyota Land Cruiser merahnya masih belum bisa terkalahkan di jalan tol. “Nanti aja deh kalo gue udah tua!”

Bisnis Indonesia Edisi: 02/12/2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: