it’s about all word’s

Someday with Bambang Ismawan

Posted on: February 25, 2008

Tugas saya menyebarkan virus

Tahun lalu menjadi saat bersejarah karena untuk pertama kalinya Ernst & Young Entrepreneur of The Year menganugerahkan penghargaan kategori Social Entrepreneur yang jatuh ke tangan Bambang Ismawan.

Pendiri Yayasan Bina Swadaya ini berhak mewakili Indonesia untuk hadir dalam pertemuan Sixth Social Entrepreneurs Summit di Zurich, Swiss, bersama empat pengusaha lain.

Dia berhak atas penghargaan di bidang sosial karena salah satu kegiatan yayasan yang didirikannya itu ialah membantu mengembangkan kemandirian masyarakat miskin.

Bambang ikut merintis pengembangan keuangan mikro di Indonesia. Dari kekuatan hatinya selama 40 tahun, dia juga berperan menghubungkan bank dengan kelompok swadaya masyarakat di pedesaan.

Meski hidup di jalur yang membutuhkan konsistensi, sikap pria kelahiran Babad-Lamongan ini jauh dari kesan yang saya bayangkan sebelumnya. Sosok Bambang jauh dari sosok aktivis yang meledak-ledak.

Pria yang sebentar lagi mencapai umur 70 tahun ini masih segar bugar dan murah senyum tiap kali saya memaksanya mengenang perjalanan hidupnya yang selalu disebutnya serba kebetulan.

Bagaimana tidak, putra pasangan Seman Tirtohardjono dan Isnaningsih yang menamatkan sarjana muda ekonomi pertanian Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1961 ini bercita-cita jadi petani kaya pemilik ranch berhektare-hektare usai perjalannya ke Australia. Namun hidupnya tiba-tiba harus berubah arah gara-gara seorang pastor tua bernama Dijkstra.

Kisahnya sekitar 1962, Bambang diajak kawannya, Teguh Subanjar, menghadiri pertemuan pembuatan buku pedoman mahasiswa Katolik. Di tempat itu dia bertemu pastor asal Belanda itu.

Dijkstra saat itu sedang merintis gerakan Pancasila, yaitu suatu gerakan yang pelaksanaannya mewujud dalam organisasi buruh, tani, nelayan, paramedis dan usahawan lintas agama.

Dia yang kemudian mengajak Bambang dan Teguh berangkat ke Bangkok, meski saat itu Bambang tinggal menunggu waktu ujian akhir sarjana.

Sepulang dari Negeri Gajah Putih, Dijkstra kembali datang dan memintanya menjadi sekretaris eksekutif Ikatan Usahawan Pancasila.

“Saat itu saya langsung bertanya. Bagaimana studi saya. eh beliau [Dijkstra] hanya menjawab singkat. Disambi dari Semarang. Sejak itu saya setiap pekan mengendarai scooter bolak balik Semarang-Yogyakarta,” tutur suami dari Sylvia Maria Kwee.

Gelar sarjana berhasil digenggamnya. Namun, dengan gelar itu berarti dia harus mengabdi pada pemerintah sebagai pegawai negeri selama tiga tahun.

Bambang kemudian ditunjuk sebagai ketua komite Operasi Bersama Siaga (Obsi), sehingga harus bolak-balik Jakarta-Semarang. Lagi-lagi serba kebetulan Ketua Umum DPP Ikatan Petani Pancasila (IPP)-organisasi yang disarankan Dijkstra untuk dimasuki Bambang saat tengah menyelesaikan gelar sarjana -mundur dari jabatannya. Alhasil, Bambang yang ketiban jabatan itu.

Tetap prihatin

Uniknya meski bergelar ketua umum hidup Bambang termasuk prihatin. Selain harus tinggal di rumah sederhana di Blok A, istrinya sampai harus berjualan ke pasar.

ahkan, menurut penuturan kawan dekatnya, ketika anak pertama, Irvo Ismawan lahir pada 1967, dia terpaksa meminjam uang untuk ‘menebus’ anaknya dari rumah bersalin. Begitu pula kejadiannya dengan anak kedua, Irsa Maria Ismawan yang lahir pada 1971.

Pria yang gemar olahraga pernapasan ini bahkan sempat dianggap gila oleh kawannya sesama pegawai negeri kala memutuskan untuk mengakhiri kariernya sebagai PNS.

Padahal saat itu dia sudah siap diberangkatkan ke Belanda untuk menimba ilmu tentang pengairan.

Tapi, kekerasan hati Bambang atas pilihannya melangkah di jalur itu akhirnya memang terbukti benar. Yayasan Bina Swadaya perlahan-lahan mulai dipercaya banyak donatur untuk menjadi mitra program sosial di Indonesia.

Perlahan tapi pasti yayasan kecil ini membiak menjadi banyak badan usaha dan pusat pelatihan. Salah satunya majalah pertanian Trubus yang selain menghasilkan keuntungan juga berhasil menancapkan merek sebagai referensi pertanian.

“Tahun depan saya berumur 70 tahun. Saya akan mundur dari jabatan ketua pengurus Yayasan Bina Swadaya. Tapi, tugas saya tetap yakni menyebarkan virus agar gerakan sosial yang sudah dirintis ini semakin membesar,” ujarnya optimistis.

Nampaknya tekad dan cita-cita Bambang ditanggapi secara positif oleh gerakan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) yang sedang melanda korporasi asing maupun lokal di Indonesia.

Bisnis Indonesia Edisi: 21/01/2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: