it’s about all word’s

Tak lagi sembarang naik pesawat

Posted on: February 25, 2008

Menjelang berlalunya tahun Anjing Api, dunia angkutan udara Tanah Air dikagetkan dengan raibnya pesawat 737-400 milik maskapai Adam Air dalam penerbangan dari Surabaya menuju Manado.

Belum lega bernapas, hanya sehari sesudahnya giliran pesawat MD 90 milik maskapai Lion Air jurusan Jakarta-Surabaya-Makassar-Ambon tergelincir di Bandara Pattimura, Ambon.

Dua kejadian pada awal tahun ini melengkapi 73 kasus kecelakaan penerbangan nasional 2001. Data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat 479 menjadi korban meliputi 201 orang tewas dan 278 cedera.

Secara statistik jumlah korban kecelakaan pesawat terbang tentu tak ada apa-apanya dibandingkan moda angkutan darat. Jasa Raharja mencatat pada 2005 saja ada 36.000 orang yang mati sia-sia di jalan.

Meski demikian moda pesawat udara yang sejatinya kini sudah sangat murah dibandingkan dengan dekade sebelumnya masih menjadi barang mewah yang begitu memikat perhatian bagi sebagian orang.

Namun, kejadian akhir-akhir ini tidak dapat dimungkiri membuat sebagian eksekutif yang sering bepergian memanfaatkan jasa penerbangan dengan tiket murah itu mulai berpikir dua kali.

Sebut saja Jerry Aurum Wirianta, Direktur Perusahaan Desain Grafis Jerry Aurum, yang mengaku kapok naik penerbangan murah setelah kejadian Adam Air tersebut.

“Saya pulang dari Manado 31 Desember tahun lalu naik Lion Air untuk menyelam di Bunaken. Di wilayah itu [Manado-Makassar] cuacanya memang buruk,” tutur pria yang sedang mempersiapkan pameran ini.

Setelah tragedi jatuhnya pesawat Adam Air, lanjut Jerry, dirinya jadi kecut menggunakan penerbangan murah dan kembali naik maskapai Garuda. Hingga sebelum kejadian, dia mengaku masih berani naik pesawat apa saja.

Pasalnya, pekerjaannya sering mengharuskannya ke daerah pedalaman yang membuatnya meringkuk di kabin pesawat bermesin propeler yang sering mengalami kebocoran tiap kali hujan mendera.

“Kalau ke daerah pedalaman Kalimantan dan Papua untuk melakukan pemotretan ya berangkat aja. Saya bisa cuek kalau harus naik pesawat yang apa adanya. Tapi kalau perjalanan jalur pendek mending Garuda aja deh,” tegasnya.

Trauma pascakecelakaan pesawat Adam Air juga memengaruhi Dina Simatupang, Environment Project Officer PT Unilever Indonesia Tbk, yang hobi menyelam di beberapa kawasan kepulauan di Indonesia.

Dia memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas ke luar Pulau Jawa yang mengharuskan dirinya menggunakan angkutan darat maupun laut.

“Apalagi ada kebijakan dari perusahaan untuk tidak melakukan perjalanan udara dan laut sampai dengan minggu ketiga bulan ini,” ujar Dina yang pernah menyambangi Sulawesi, Bali, dan Kepulauan Seribu hanya untuk menyalurkan hasrat petualangan menyelamnya.

Meski demikian Dina mengaku tidak memiliki pengalaman buruk seputar berkendara dengan pesawat terbang.

Namun, tidak demikian halnya dengan Ita S. Mucharam, spesialis di bidang komunikasi yang juga memiliki hobi sama. Ita yang akrab dengan kondisi alam di beberapa wilayah di Indonesia ini mengaku tidak terlalu terpengaruh dengan kabar jatuhnya pesawat.

Yang lebih memengaruhi aktivitas menyelam adalah kondisi alam yang menurut Ita kurang memungkinkan baginya menyalurkan hobi menyelam. Akibatnya, rencana mengarungi keindahan Kepulauan Raja Empat di Papua terpaksa diurungkan.

Dalam waktu dekat, jika cuaca sudah memungkinkan, tidak mustahil Ita tetap merealisasikan niatnya bersama sahabat-sahabatnya.

Maskapai berbeda

Hal yang sama diakui Andrew Lio pemilik Jakarta Ocean Dive (Jodi), setiap sebulan sekali, dia dan kliennya rutin terbang dengan pesawat untuk mencapai lokasi tujuan menyelam mereka.

Perusahaan penerbangan domestik yang menjadi langganan Jodi selama ini adalah Sriwijaya, Air Asia, dan Garuda. Namun, sesekali mereka juga menggunakan Lion Air.

Selama ini, menurut Andrew tidak pernah ada kendala berarti selama perjalanan. Bahkan, tragedi hilangnya pesawat Adam Air pekan lalu juga tidak mengurangi aktivitas menjalankan hobinya tersebut.

Kliennya pun tidak merasa khawatir akan mengalami hal yang sama, sehingga kabar soal Adam Air tidak mengurangi jumlah klien yang tertarik mengikuti kegiatan Jodi.

Dia secara selektif akan memilih maskapai penerbangan. Alasan keamanan menjadi salah satu masalah utama yang diperhatikan.

Penerbangan yang selama ini sering dipakai adalah Garuda, yang dianggapnya salah satu yang paling aman hingga saat ini. “Segi keamanan menjadi hal yang paling diutamakan oleh para klien kami, karena itu kami selalu menggunakan pesawat yang memang tidak punya riwayat kecelakaan.”

Sementara itu, maskapai penerbangan Sriwijaya, meskipun termasuk perusahaan penerbangan berskala kecil, hingga saat ini keamanannya masih terjamin. “Ya, meskipun perusahaan kecil, sampai saat ini saya rasa Sriwijaya belum pernah mengalami masalah yang besar dalam penerbangannya,” ujarnya.

Untuk mencoba maskapai penerbangan lain, menurut dia, masih belum terpikirkan hingga kini, meskipun pada dasarnya secara pribadi dia tidak merasa khawatir menyusul banyaknya kecelakaan pesawat yang terjadi.

Hal senada diungkapkan Helena Abidin, Direktur Corporate Communication PT BMW Indonesia, yang rutin berkunjung ke Bali. Umumnya pilihan utamanya adalah maskapai Garuda.

“Tapi kalau tidak ada, pilihan berikutnya adalah AirAsia. Untuk pilihan kedua saya sih lihat track record-nya. Biasanya kondisi tampilan fisiknya juga mendukung,” katanya.

Bisnis Indonesia Edisi: 14/01/2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: