it’s about all word’s

Apresiasi untuk sastra picisan

Posted on: March 1, 2008

Bagi komunitas penggila buku dan karya sastra tentu tak asing dengan Khatulistiwa Literary Award, sebuah penghargaan bagi insan pengarang yang mampu mewujudkan novel atau prosa berkelas.

Dari jawaranya saja sudah bisa ditebak kualitas penghargaan ini mulai dari Seno Gumira Aji, Hamsad Rangkuti, hingga nama pengarang lain yang sudah terkenal di bidang sastra dalam negeri.

Dari ajang ini justru mencuatkan ide untuk mengapresiasi karya sastra picisan yang biasa mendapat cibiran, namun terus hidup dan tak pernah kekurangan penggemarnya di emper-emper toko, trotoar, atau stasiun kereta api dan terminal bis.

Menurut Ketua Panitia Juri KLA 2006 Apsanti Djokodamono dari Yayasan Obor, sastra picisan tidak boleh serta merta dianggap haram di dunia sastra, tapi justru sebaliknya sastra picisan merupakan kekuatan yang harus diakui.

“Boleh saja kita menganggap diri kita berkelas karena baca karya sastra yang bermutu baik. Tapi masih banyak saudara kita yang lebih nyaman dengan sastra picisan. Itulah kenyataannya,” ujar pengajar Sastra Prancis di FIB UI itu.

Sebuah karya sastra disebut picisan dari sejarah karya sastra ini yang hanya dihargai satu picis atau sepuluh sen pada pada 1930-an. Model fisik buku-buku semacam ini pun ternyata sejak dulu hingga kini tak pernah berubah.

Format penyajiannya adalah satu cerita dibagi atas sepuluh jilid kecil seukuran saku yang tiap buku tebalnya hanya sekitar 70-80 halaman dan dicetak dengan kertas buram. Untuk bagian sampul menggunakan kertas HVS berwarna dengan berat 70 gram dengan harga antara Rp3.000 dan Rp5.000 per buah, tapi ada beberapa buku bisa mencapai Rp10.000.

Anda bisa dengan mudah menemukan karya semacam ini di stasiun kereta api dan terminal bis antarkota. Judul dan sampulnya biasanya cukup atraktif dan membuat orang langsung tergoda.

Karya fenomenal

Namun, di balik segala keterbatasan intelektual tersebut pernah lahir karya-karya yang begitu fenomenal dalam arti menjadi perbincangan masyarakat banyak, meski dengan tersenyum simpul sembari berbisik-bisik.

“Setidaknya budaya baca masyarakat yang masih rendah khususnya di kelas bawah terpacu berkat karya sastra mereka yang menggunakan tata bahasa dan alur kisah sederhana,” ujar dia.

Kalau dari luar negeri kita mengenal James Bond, Nick Carter, dan Annie Arrow, maka di Indonesia kita punya Freddy S, yang terkenal dengan roman percintaan yang melankolis. Sementara untuk yang heroik pasti Anda pernah mendengar nama (almarhum) Bastian Tito yang menjulang berkat seri silat pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng.

Selain dua nama itu, jika kita menengok ke belakang akan ada nama-nama yang karya picisan mereka justru kemudian menjadi lagenda a.l. Asmaraman S Kho Ping Ho, S.D. Lion, Stevanus S.P., dan Batara.

Asmaraman S Kho Ping Ho terkenal dengan karya fenomenal bertajuk Asmara Si Pedang Tumpul, Stevanus SP dengan Sekte Teratai Putih, sementara Batara dengan Sepasang Cermin Naga dan SD Lion melalui Pendekar Delapan Penjuru.

Keempat penulis kungfu China tersebut diakui atau tidak berhasil menggucang imajinasi pembaca di era 1970-an hingga 1980-an terhadap sebuah petualangan seorang pendekar kungfu yang turun dari pegunungan, balas dendam atas kematian gurunya, atau mencari cinta.

Bisnis Indonesia Edisi: 09/07/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: