it’s about all word’s

Lembaga ‘pasang badan’ bagi UKM

Posted on: March 1, 2008

Judul: Penjaminan Kredit Mengantar UKMK Mengakses Pembiayaan
Penulis: Nasroen Yasabari dan Nina Kurnia Dewi
Penerbit: Penerbit PT Alumni, November 2007
Tebal: 374 halaman

Harus diakui buku yang penulisan akhirnya mendapat sentuhan ekonom Bank Negara Indonesia Ryan Kiryanto merupakan referensi pertama dan paling lengkap berbicara tentang penjaminan kredit.

Penjaminan kredit semakin menarik sejak pemerintah pada November 2007, menganggarkan dana Rp1,45 triliun untuk UKMK dengan gearing ratio 10 kali penyaluran kredit yang mencapai Rp14,5 triliun.

Untuk tahap awal program penjaminan ini diikuti beberapa bank milik pemerintah a.l. BRI, BNI, Mandiri, Bukopin, BTN dan Syariah Mandiri. Kredit yang diikuti pola penjaminan ini akan disalurkan dengan suku kredit maksimum 16% dan jumlah plafon kredit maksimum Rp500 juta per debitor.

Dengan keputusan ini, jelas dibutuhkan pengetahuan yang cukup tentang penjaminan kredit yang sudah terbukti di banyak negara.

Di negara yang tergabung dalam Asian Credit Supplementation Institution Confederation (ACSIC) saja ada sekitar 11 negara dengan 16 institusi, mereka memercayai bahwa penjaminan kredit bisa membantu UMKM yang tidak bankable, punya kelayakan usaha tapi tidak cukup agunan.

Dilihat dari paparan dalam buku setebal 374 halaman ini pemerintah terlihat bergerak cukup lamban, sehingga penjaminan kredit tidak berkembang baik. Baru saat ini saja pemerintah mulai melihat akses pada pembiayaan atau kredit memang diperlukan.

Yang menarik dalam buku ini dijelaskan hal yang selama ini membingungkan masyarakat. Umumnya khalayak belum cukup mengerti dan mampu membedakan antara asuransi dan penjaminan kredit.

Dalam buku ini dijelaskan secara lengkap mekanisme termasuk banyak aturan tentang penjaminan yang melibatkan tiga pihak. Lembaga penjaminan kredit sebagai penjamin, UMKM sebagai terjamin dan bank yang mau memberikan kredit sebagai penerima jaminan.

Jika terjadi sesuatu, lembaga penjamin lah yang menalangi UMKM ke bank, sehingga kredit macet yang sering menjadi persoalan keengganan perbankan mengucurkan dana ke UMKM bisa berkurang.

Butuh pendalaman

Meski lengkap tentu saja masih ada kekurangan yang bisa dengan mudah ditemukan. Lihat saja penggunaan terminologi UKMK yang dipakai Meneg BUMN Sofyan Djalil untuk usaha kecil, menengah dan koperasi yang pada halaman kata pengantar Rhenald Kasali memakai terminologi KUKM.

Selain itu, dalam buku ini tak dijelaskan tentang program penjaminan kredit yang pernah dilakukan pada 1975, melalui program Kredit Investasi Kecil dan Kredit Modal Kerja Permanen (KIK/KMKP).

Skema KIK/KMKP yang merupakan subsidi Bank Indonesia ketika itu dijamin PT Askrindo, sayang program ini gagal terutama karena tingginya klaim dari bank-bank pelaksana.

Fakta ini penting dimasukkan mengingat masyarakat tentu bertanya-tanya mengenai pola penjaminan kredit oleh kedua penulis disebut sebagai bisnis subsidi. Bayangkan dengan fee hanya 1,5-2% harus menjamin 70%-80% kredit yang dikucurkan.

Tidak dijelaskan pula tentang kesulitan yang akan muncul jika cabang dan kantor perwakilan Perum Sarana Pengembangan Usaha masih sangat terbatas hanya di kota-kota besar. Itu pun tidak semua kota besar memiliki kantor perwakilan.

Secara kasat mata akan sulit melayani 48 juta UKMK yang tersebar di seluruh Indonesia terutama yang masih berada di kelas mikro, yang umumnya berada di daerah yang tak mudah dijangkau.

Bisnis Indonesia Edisi: 20/01/2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: