it’s about all word’s

Harry A. Poeze: Si penguak misteri Tan Malak

Posted on: March 4, 2008

Tahun lalu ingatan sejarah masyarakat Indonesia dibangunkan tentang Tan Malaka. Lika liku perjuangan serta sepak terjangnya dan segala macam tentang dirinya berkat seorang sejarawan Belanda, Harry Albert Poeze.

Sejak tahun 1971, Poeze melanglang kesana-kemari, mulai dari Suliki, Sumatera Barat, Malaysia, Philipina, Cina, bahkan Moskwa, Rusia menelusuri rute kehidupan Tan Malaka selama tiga puluh tahun lebih.

Berkat penelusuran tiada lelah itu, akhirnya pria berusia 61 tahun tersebut berhasil mendapat titik cerah dari gelapnya kehidupan salah satu guru komunis dunia secara utuh. Dari lahir hingga ajal tragis.

Pengabdian Poeze disajikannya kepada dunia dalam bentuk buku. Satu babak penting tapi terlupa dalam sejarah pergulatan Republik karena ditutup rapat-rapat oleh rezim Orde Baru.

Perjalanan Poeze diawali ketika di tahun 1972 berhasil meraih gelar sarjana dari Amsterdam Universiteit. Skripisnya saat itu adalah riwayat Tan Malaka. Empat tahun berselang, gelar master di tangannya. Lagi-lagi berkat Tan Malaka. Keduanya kemudian didalaminya terus menerus dan kini menjadi senarai penelitian sejarah.

Penerbit Pustaka Umum Grafiti sempat merilis dua buku karya Poeze yaitu ‘Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925’ dan ‘Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1925-1945’ Tentu saja buku ini digudangkan Orba,

Tapi sejarah memang berpihak pada Poeze, sepuluh tahun lalu Orba tumbang dan keriuhan muncul ketika, Maret 2007 dikuak misteri terbunuhnya Malaka dalam buku Verguisd en Vergeten-Tan Malaka, de Linkse en de Indonesische Revolutie, 1945-1949.

Dalam buku yang sedang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ‘Tan Malaka: Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949’ itu Poeze berhasil mengungkapkan pelaku tragedi pembunuhan atas diri Ibrahim-nama asli Tan Malaka.

Tak itu saja, dengan yakin diungkapkan perkiraan lokasi jasadnya Malaka dikuburkan. Satu fakta yang selama ini gelap gulita dan hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut saja.

Ketertarikan pria kelahiran Loppersum 20 Oktober 1947 itu pada Tan Malaka, bermula dari rasa penasarannya pada sosok misterius tersebut.

“Saat itu saya sekolah di jurusan Sejarah Amsterdam Universiteit. Saya terpikat pada sejarah peralihan abad 19 ke-abad 20 yang penuh eksotisme dunia timur Hindia Belanda,” katanya dengan bahasa Indonesia terbata-bata dalam diskusi umum di kampus UI Depok, baru-baru ini.

Diawali dengan melahap buku The Rise of Indonesian Comunism karya Ruth T McVey, Poeze pun terpikat pada Tan Malaka. Nama yang berulangkali muncul dalam kelahiran gerakan komunis Indonesia justru sangat misterius.

Rasa penasaran itu membawanya mendatangi bekas sekolah dan rumah Tan Malaka di Haarlem tidak jauh dari Amsterdam.

Singkat kata, di tahun 1971 Poeze berjumpa dengan 12 orang teman sekolah Tan Malaka saat menempuh pendidikan guru [Kweek School] Haarlem.

Dari sana ditemukan dokumentasi surat-surat dua guru Tan Malaka dari Sekolah Fort De Kock di Bukit Tinggi yang memberi rekomendasi dan dukungan sekolah ke Belanda. Penelusuran yang mengantarkan Poeze bergelar doctorandus (setara master).

Menurut Poeze, Tan Malaka tak ubahnya Che Guevarra Asia. Perbandingan yang tak main-main setelah dia meruntut jejak Malaka ke Eropa, Asia, Australia dan Amerika.

Arsip mengenai Tan Malaka, kata dia, sebagai salah satu tokoh penting Indonesia tercatat baik di Amerika Serikat dan Australia karena pemerintah mereka menjadi mediator perundingan Kerajaan Belanda-Republik Indonesia.

Bermantu WNI

Gara-gara Tan Malaka, pria yang menyunting perempuan asal Friesland, Belanda Utara itu urung belajar sejarah Belanda. Menurutnya sejarah Indoensia lebih menarik dan masih punya hubungan sejarah bangsanya.

“Sejarah Indoensia penuh dinamika dan menarik untuk dikaji. Apalagi masa lalu Indonesia dengan Belanda terkait dengan simpul kolonialisme,” ujar suami dari Henny itu.

Beruntung Poeze sejak tahun 1980 aktif sebagai Direktur Penerbitan KITLV [Koninklijk Instituut voor Taal Land en Volkendkunde] Leiden atau Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia Dan Asia Tenggara.

Dalam institusi yang mencurahkan perhatiannya dalam bidang penelitian sejarah, budaya, dan bahasa negeri-negeri bekas koloni Belanda sejak 1851 itu dukungan semangat termasuk dana dari Akademi Kerajaan untuk Ilmu Pengetahuan mengalir ke Poeze.

Bersama asistennya, Asmun Ahmad Sju’eib, Poeze menelusuri Indonesia. Menelisik arsip, menyusuri perbukitan Gunung Wilis, Desa Selapangung, Kediri, Jawa Timur hingga bertemu Syarifah, pacar Tan Malaka

“Saat melakukan penelitian, jika kangen dengan keluarga saya selalu menelpon mereka. Meski hanya sebatas menanyakan bagaimana kabar?” kenangnya.

Poeze memiliki dua orang putra, Eelco Poeze (30) dan Wieger Poeze (26). Anak-anaknya juga punya minat yang tinggi terhadap Indonesia.

Eelco yang jebolan antropologi di Universiteit Van Amsterdam bahkan meraih gelar master dengan tema tukang becak “Kini dia bekerja di rumah sakit jiwa di Amsterdam”

Sedangkan Wieger menekuni kajian olah raga. “Dia menjadikan Bonek [Bondo nekat]-supporter Persebaya Surabaya sebagai obyek tesisnya. Lalu dia menikah dengan gadis Surabaya bernama Dian. Ini yang membuat saya selalu mampir ke Surabaya tiap ke Indonesia!”
* Bareng Wenri Wanhar Wartawan Monitor Depok

12 Responses to "Harry A. Poeze: Si penguak misteri Tan Malak"

interesting posting…

ditunggu posting tentang Tan Malaka.
sempat baca Madilog, tapi gak kelar

coba lo klik tan malaka di kotak search gw…pasti keluar

Udah aktif di Monde nih?

ho oh

mr x.klo dah kelar terjemahan “Verguisd en Vergeten-Tan Malaka, de Linkse en de Indonesische Revolutie, 1945-1949” jangan mahal x harganya. kasihan pelajar kita, hidup dah makin susah + lg harga buku melambung.

kkato roni indak lemgkap wen

pamaleh waang wen…..
serius lah saketek.. YO..yo

wen,,, Janlupo tarompa jengel tu’a..
di tunggu Info>>>…

tolong kabari saya klo buku “Verguisd en Vergeten-Tan Malaka, de Linkse en de Indonesische Revolutie, 1945-1949” sudah terbit. ini untuk melengkapi koleksi Tan Malaka diperpustakaan saya sekaligus untuk menguak lebih jauh tentang sepak terjang sang revolusioner yang terlupakan. jangan lupa juga klo ada buku “Tan Malaka: Pergulatan menuju Republik I dan II” kabari saya. karena hanya buku tersebut yang belum saya miliki. satu lagi, klo ada berita tentang “Partai Murba” hub saya di 085880224522 atau 08999014565. atau email ke saya di synthesizer_rock@yahoo.com

“suara saya akan lebih terdengar dari dalam bumi dibandingkan dari atas bumi” TAN MALAKA

jika ada yang tahu emailnya Harry Albert Poeze, tolong email ke saya di antiqueglobal@yahoo.co.id. Terima kasih.

bikin kelompok studi tentang Tan Malaka yuk..apa udah ada…kalo ada tolong hubungi saya di 0819 3197 7612

minta email bung Harry, dong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: