it’s about all word’s

Sampai Kapan Bali Sanggup Berdiri di Atas Satu Kaki?

Posted on: March 11, 2008

Apakah kata “tradisional” berarti “tetap di tempat”, dengan alasan jika nilai itu ditinggalkan, maka nilai primitif dan eksotis pada kata “tradisional” tersebut akan luntur. Akibatnya seniman Bali meski sudah wangi dan berbusana rapi tetap saja di atas truk sapi. Siapa yang pernah menghitung secara cermat, jujur dan terbuka mengenai sumbangan Bali dan orang Bali kepada pariwisata? Apa ada perbandingan rasional antara sumbangan pariwisata kepada Bali dan orang Bali di satu sisi, serta sumbangan Bali dan orang Bali kepada pariwisata di sisi lain?

JOHN NAISBITT pernah mengatakan pariwisata adalah globalisasi dari industri dunia terbesar yang mempekerjakan 240 juta orang. Berarti 1 dari 10 orang bekerja di industri pariwisata setara dengan 10,6 dari seluruh angkatan kerja dunia. Output-nya 10,2% dari GNP (Gross National Product) dunia setara 3,4 trilyun dolar AS dan menghasilkan 655 milyar dolar pajak, hampir 11% dari belanja konsumen, dan merupakan 10,7% dari total penanaman modal. Menurut Organisasi Pariwisata Dunia (WTO), kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2020 akan mencapai 1.561.000.000 orang dengan penerimaan 2.000 milyar dolar AS dari wisman.

Seringkali sisi pariwisata Bali diukur dan disuarakan dari sisi positifnya dari aspek ekonomi — sebagai penyedia lapangan usaha, pembuka kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, pencetak dolar untuk devisa negara — dan semacamnya.

Lalu siapa yang pernah menghitung secara cermat, jujur dan terbuka mengenai sumbangan Bali dan orang Bali kepada pariwisata? Apa ada perbandingan rasional antara sumbangan pariwisata kepada Bali dan orang Bali di satu sisi, serta sumbangan Bali dan orang Bali kepada pariwisata di sisi lain?

Pariwisata dan Ekonomi Bali

Bom Bali, wabah isu disentri, wabah sindrom pernapasan sangat akut (SARS), invasi AS ke Timur Tengah, flu burung hingga Visa on Arrival — diakui oleh pihak regulator dan penyelenggara pariwisata Bali — sangat mempengaruhi industri pariwisata. Ini bukti betapa rentannya industri pariwisata. Meskipun di sisi lain pihak Biro Pusat Statistik dalam setiap laporan bulanannya selalu menyatakan tidak ada dampak dari penerapan VoA ini.

Sumbangan sektor pariwisata memang menggiurkan, misalnya Peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 1996-2000 dari Rp 8,6 trilyun menjadi Rp 16,5 trilyun, mampu membiayai 51,5% pengeluaran daerah, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari 70 dolar AS (1969) menjadi 500 dolar AS (2001), namun peningkatan PAD itu diikuti oleh meningkatnya jumlah kemiskinan dari 19.000 kepala keluarga (KK) menjadi 11.881 KK dalam kurun 1998-2001.

Nyoman Sutawan, guru besar sosial ekonomi dan mantan Rektor Universitas Udayana, khawatir melihat tergusurnya subak. Hingga saat ini luas sawah di Bali sekitar 83.561 hektar dengan rata-rata pengurangan 700 hektar/tahun. Sedangkan jumlah subak yang masih aktif sekitar 1.612.

Dari seluruh luas sawah yang ada, tahun 2002 produksinya mencapai 808.970 ton gabah kering giling (GKG) meningkat dari tahun 2001 yang berjumlah 789.232 ton GKG.

Alih fungsi sawah yang sedemikian pesat untuk peruntukan pariwisata dan sarana pendukungnya dan kebijakan pemerintah yang tidak memperhatikan kearifan lokal, dapat dilihat dari kasus pembangunan sistem irigasi di Bali.

Dalam sistem subak pembagian air tidak diatur melalui pintu-pintu air, namun selalu saja pembangunan teknis lebih berdasar pada sistem bendungan yang mengakibatkan terganggunya peran sistem subak.

Dalam buku “Bali Living in Two Worlds” disebutkan, produksi air di Bali sebetulnya hanya cukup untuk mendukung kehidupan tiga juta penduduk. Kini pariwisata dengan 35.000 lebih kamar hotel, ribuan kolam renang, lapangan golf dan taman menghabiskan tiga juta liter/hari.

Sejak tahun 2000 Bali terancam krisis air. Kondisi terparah dialami Badung. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kabupaten ini pada 2001 hanya mampu menghasilkan air minum bersih 1.210 liter/detik, sedangkan permintaan tahun 2003 saja 1.700 liter/detik dan diperkirakan terus meningkat.

Akibatnya, pada 2003 Badung sudah kekurangan air 490 liter/detik, yang sementara ditutupi dengan membeli air ke Gianyar dan Tabanan. Konflik sosial-budaya pun kerap muncul dipicu kebijakan pemerintah pusat di bidang pariwisata Bali. Contoh, pada November 1992-penetapan Pura Besakih sebagai cagar budaya dan bangunan bersejarah warisan dunia; Juni 1993-megaproyek Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bukit Pecatu, Badung Selatan; November 1993-Bali Nirwana Resort (BNR) Tanah Lot, Tabanan; Oktober 1997-Pantai Padanggalak, Denpasar Timur; November 1997-Wisata Golf Selasih, Kecamatan Payangan, Gianyar; April 1998-Pulau Serangan, Denpasar Selatan.

Sekalipun kebijakan di bidang pariwisata tersebut mengundang pro-kontra dan demonstrasi berkepanjangan, pemerintah (saat itu) tetap pada sikapnya. Wisata golf Selasih dan wisata penyu Serangan mangkrak hingga kini.

Hanya rencana Pura Besakih dan proyek hotel Padanggalak yang dibatalkan 100%. GWK dan BNR jalan terus. Pada acara press conference 8 April lalu, PT Perusahaan Pengelola Aset — pengganti BPPN — sudah memastikan kelanjutan proyek BNR.

Padahal, proyek tersebut jelas-jelas ditentang masyarakat karena melanggar konsep Tri Hita Karana (Perda No. 3/1991; 4/1996; 16/2002) yang seharusnya menciptakan kehidupan yang seimbang dan harmoni antara Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan) dan alam (palemahan). Ajaran yang semestinya dijalankan secara konsisten untuk menciptakan ajeg Bali.

Nasib Insan Seni Bali

Bali memang eksotik indah memikat, tak sedikit seniman besar memilih menetap di Bali seperti Walter Spies (1927), Rudolf Bonnet (1929) ataupun pasangan legendaris “Penemu Kuta” Robert A Koke dan Louise Gignoux Garret Koke dengan Kuta Beach Hotel-nya di pertengahan 1936.

Penggambaran kondisi seniman Bali yang tak beda dengan sapi; sama-sama diangkut truk terbuka dari desa mereka menuju panggung pertunjukan, sudah seringkali muncul. Sering tak sadar, mereka telah memarginalisasi diri dengan diam menerima perlakuan tersebut, tanpa ada keinginan untuk mengemas diri tampil secara lebih terhormat.

Apakah kata “tradisional” berarti “tetap di tempat”, dengan alasan jika nilai itu ditinggalkan, maka nilai primitif dan eksotis pada kata “tradisional” tersebut akan luntur. Akibatnya seniman Bali meski sudah wangi dan berbusana rapi tetap saja di atas truk sapi.

Sampai kapan seniman Bali dan pengambil kebijaksanaan pengelola wisata tetap diam? Apakah pihak pengambil kebijaksanaan akan terus gamang saat berhadapan dengan rumusan keinginan menjual “keaslian”, “kemurnian”, “kesederhanaan” atas nama “tradisional” yang selalu “jelata”? Akankah “keluguan” itu terus dieksploitasi dan diasumsikan “wajar”?

Tidakkah seniman Bali ingin dihargai layaknya wisatawan yang mereka hibur? Sanggupkah mereka keluar dari tradisi koh ngomong atau ngemigmig untuk menaikkan derajat manusia mereka, sehingga semangat Tjokorda Gde Agung Sukawati melalui Pita Maha; yang hadir sebagai lambang budaya Bali yang sangat asimilatif, toleran dan adaptatif, dapat mulia kembali. Penghormatan kepada wisatawan asing, bukan berarti harus mengorbankan kehormatan kita sebagai manusia Bali.

Setelah anjloknya kunjungan wisatawan asing, pariwisata Bali sudah mulai melirik potensi wisatawan domestik, namun tingkat penghormatan terhadap seniman Bali harus terus direformasi, sehingga perlakuan semena-mena para pengelola pariwisata Bali tidak terus berlangsung (kali ini bukan tak mungkin demi alasan ”ajeg Bali”).

Sebab, seniman Bali merupakan ujung tombak pendukung budaya Bali, sehingga jangan terus dimarginalkan dari pentas industri pariwisata. Kita tahu Bali tetaplah magnet bagi wisatawan dari seluruh dunia, tetapi jika industri pariwisata Bali masih terus berkembang secara egois tanpa memperhatikan sektor pendukung lain; maka Bali tak ubahnya penari yang berdiri di atas satu kaki. Indah artistik tetapi tak kokoh, dalam artian rentan ambruk tersungkur. Lagi-lagi kita hanya berharap pada kearifan regulator pariwisata dan pemerintah dalam hal ini.

*Dimuat Balipost Kamis Paing, 15 April 2004

2 Responses to "Sampai Kapan Bali Sanggup Berdiri di Atas Satu Kaki?"

sampai nanti kalo q udah jadi gubernur Bali, Bali akan menjadi negara dan bukan lagi bagian dari NKRI, BALI United…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: