it’s about all word’s

Nafsiah Mboi: Mother of Ende

Posted on: March 14, 2008

‘Terpikir masalah perempuan saat tugas di Ende’

Ramah dan energik. Dua kata ini paling pas untuk menggambarkan sosok Nafsiah Ben Mboi Walinono. Gambaran ini saya temukan saat menemui perempuan kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940, ini pekan lalu.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2006, Nafsiah Mboi Walinono kini dipercaya untuk menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional. Posisi ini menggantikan pejabat sebelumnya, Sukawati Abubakar.

Penunjukannya pada jabatan ini memang sudah diduga banyak pihak, sebab dia sudah akrab dengan penyakit ini sejak kuliah di Royal Tropical Institute, Antwerpen, Belgia, untuk menggondol gelar master of public health pada 1990-1991.

Saat itu HIV/AIDS sudah menjadi pembicaraan umum di kalangan masyarakat Eropa. Meski Eropa sudah kenal HIV/AIDS tapi saat itu mata kuliah tentang AIDS malah belum diajarkan di sekolah kedokteran di Eropa.

Akibatnya, para dokter senior sekelas Nafsiah panggilan akrabnya, yang semuanya pria dan berasal dari banyak negara berkembang, seperti Afrika, Asia, dan Amerika Selatan belum begitu menaruh perhatian pada persoalan HIV/AIDS.

Ketertarikannya makin menjadi-jadi saat menjadi research fellow untuk Takemi Program pada bidang kesehatan internasional di Universitas Harvard, AS antara 1990-1991.

Dia beruntung sebab di tempat itu bertemu Jonathan Mann, mantan Direktur Global Program on AIDS Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang kemudian menjadi pengajar di Harvard School of Public Health.

“Jonathan Mann ini orang yang mempopulerkan bahaya AIDS. Tapi karena banyak pejabat WHO belum mengerti akhirnya justru dia kemudian dimusuhi,” ujar Nafsiah.

Saat itu Mann mengatakan pada dirinya jika HIV/AIDS sampai masuk Asia, maka seluruh Asia akan menyesal. Setelah mendengar itu Nafsiah lantas mengikuti kelas Mann dan dilanjutkan aktif dalam kegiatan pencegahan AIDS di jalur hotline dan support group.

Usai meraih gelar master, Nafsiah sangat aktif dalam berbagai kegiatan terutama yang terkait dalam bidang peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan. Selain itu, dia juga ikut menangani secara langsung isu-isu kesetaraan gender dan pembangunan.

Sepak terjangnya di bidang anak-anak membuat dia diangkat menjadi sekretaris, selain juga menjabat sebagai Ketua Komite Hak-hak Anak PBB. Kepercayaan itu mengantarkan Nafsiah sebagai orang Asia pertama yang terpilih untuk jabatan tersebut.

Sementara di sektor kesetaraan gender, Nafsiah dipercaya menjadi Direktur Departemen Gender dan Kesehatan Perempuan WHO di Geneva. Saat ini dia juga menjabat wakil ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan.

Masalah perempuan

Sedang kiprahnya di bidang advokasi HIV/AIDS, adalah saat menjadi ‘bidan’ lahirnya Komitmen Sentani pada 2004 yang menjadi tonggak komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk penanggulangan AIDS.

Tentu diperlukan kesetiaan untuk meniti sebuah perjalanan panjang, sehingga aktivitas Nafsiah di bidang kesehatan dan pemberdayaan kaum perempuan diakui oleh dunia internasional.

“Saya mulai terpikir persoalan perempuan setelah lulus dari FK UI pada 1964 dan ditempatkan di Ende, Flores yang mayoritas penduduknya Islam. Saat itu ibu-ibu yang mau bersalin tidak boleh diperiksa oleh mantri atau dokter laki-laki,” kenang Nafsiah.

Setelah dekat dengan kaum ibu di sana, ternyata keterbatasan akses kesehatan perempuan dihambat oleh hal-hal di luar diri mereka seperti agama, budaya, dan sebagainya.

Saat itu batin Nafsiah tersentil dengan ketidakadilan yang diterima kaumnya. Maklum dia berasal dari keluarga yang menganggap perempuan sederajad dengan laki-laki.

Nafsiah merupakan anak kedua dari enam bersaudara pasangan Andi Walinono dan Rahmatiah Sonda Daeng Badji. Ayah Nafsiah adalah hakim yang pernah bertugas di Ujungpandang, Surabaya, Jayapura, dan Jakarta.

Ibundanya adalah perempuan ningrat Bugis pertama yang melek pendidikan tingkat atas. Hal ini terjadi karena kakek Nafsiah, Sonda Daeng Matajang mengirim putrinya melanjutkan pendidikan di Bandung.

Kondisi ini menyebabkan mereka menjadi keluarga berpikiran modern. Beberapa anak pasangan Walinono dan Rahmatiah lantas menjadi public figur. Selain Nafsiah, Andi Hasan Walinono, mantan Dirjen dan Sekjen Pendidikan Depdiknas dan Erna Witoelar mantan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah dan Menteri Lingkungan Hidup.

Nafsiah sendiri besar di Jakarta. Saat itu ayahnya mengambil sekolah ahli hukum di FH UI saat Nafsiah masih duduk di bangku SMP kelas I. Nafsiah melanjutkan SMP-nya di Santa Theresia dan SMA di Santa Maria.

Ketika masuk FK UI di Salemba, Nafsiah bertemu Aloysius Benedictus Mboi, yang akrab dipanggil Ben Mboi. Kakak kelas sekaligus Ketua Masa Pra Mahasiswa (Mapram).

Ben sendiri lulus pada 1961 dan sempat terjun bersama Benny Moerdani saat operasi Trikora di belantara Papua Barat pada 1962. Persis setelah Nafsiah lulus pada 1964 mereka menikah. Keduanya kemudian bergabung sebagai dokter sukarelawan Dwikora.

Tugas mereka adalah melayani kesehatan masyarakat di wilayah terluar republik ini. Sebetulnya Nafsiah kebagian jatah di Timor, tetapi karena sudah menikah maka dia ditempatkan di Ende selama tiga tahun.

“Waktu itu untuk seluruh Pulau Flores hanya ada enam dokter yang ditempatkan di lima kabupaten. Kecuali di Ende ada kami berdua. Saat itu tak ada jalan maupun jembatan,” kenang Nafsiah.

Karena bekerja dengan segala keterbatasan, suami istri itupun membagi tugas. Nafsiah mengurus rumah sakit di Ende sementara Ben yang bertugas keliling ke seluruh daerah di pelosok pulau.

Usai menjalani masa tugas sukarelawan Dwikora, Nafsiah yang tak puas hanya menjadi dokter umum lalu mengambil spesialisasi anak dari FK-UI yang diselesaikan pada 1971.

Selama itu, keduanya menjalani kehidupan terpisah. Nafsiah kuliah dan membawa putri sulung mereka, Maria Josefina Tridia Mboi ke Jakarta tinggal di daerah Matraman, Jakarta Pusat, bersama orang tua Nafsiah sementara Ben menjadi kepala dinas.

“Bapak bolak balik Jakarta-Kupang karena dia juga anggota DPR Gotong Royong dari wakil Angkatan Darat. Tapi kami memang sudah terbiasa kerja keras. Saya sendiri pagi kuliah spesialis sore buka praktek. Bapak datangnya tak tentu tergantung jadwal sidang,” tuturnya.

Pada 1978, Ben diangkat menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk itu Nafsiah lantas pindah ke Kupang mendampingi suaminya hingga 1988.

Ketika menjadi istri gubernur itu Nafsiah kembali menjadi dokter masyarakat. Terjun mengabdikan diri di tanah NTT yang tandus, yang warganya terbelakang, dengan sarana dan prasarana yang minim.

“Sebetulnya saya sempat sebel harus menjalan tugas seperti itu. Tapi sebagai perempuan kita harus berperan bagi suami. Kebetulan bapak menjadi Gubernur. Tugas saya, ya mendukung dia dengan kemampuan saya.”

Karena masih terbelakang, lanjut Nafsiah, kalau sedang turun ke lapangan ya menggunakan transportasi apa adanya. Dibonceng motor sampai naik kuda pun pernah. Ya, semuanya bisa dikerjakan asal dengan hati senang.

Boleh dibilang, selama menjadi istri gubernur itu, 70% waktunya dihabiskan di lapangan. Setelah suaminya menduduki jabatan gubernur untuk kedua kalinya, kegiatannya di lapangan diturunkan menjadi 60%.

Aktivitas yang kelewat menyita waktu itulah yang membuat ketiga anaknya ditinggalkan bersama ibu Nafsiah di Jakarta. Telepon, jadwal sidang Ben sebagai gubernur atau jadwal sidang Nafsiah sebagai anggota MPR dan DPR menjadi kesempatan untuk menuntaskan kangen.

Kerja keras Nafsiah dan Ben diakui dunia nasional dan internasional. Terbukti mereka mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ramon Magsaysay Award dan Satyalancana Bhakti Sosial atas jasanya dalam melakukan operasi bibir sumbing di NTT.

“Sampai sekarang kalau ingat masa-masa tugas di NTT saya sering geleng-geleng kepala. Kalau melihat satu rumah sakit dokternya puluhan, tetapi tetap saja ada banyak persoalan,” ujar Nafsiah sembari terkekeh.

Bisnis Indonesia Edisi: 03/09/2006

6 Responses to "Nafsiah Mboi: Mother of Ende"

NTT perlu dipimpin manusia cerdas,lincah dan tegas seperti ibu Nafsiah. Kenapa ya, tidak ada partai politik yang mencalonkan beliau jadi gubernur NTT. Keberhasilan crash programnya tahun 80an tidak tertandingi. Kalau saja dicalonkan, tanpa bercuap-cuap kampanyepun pasti terpilih. Mutunya sudah teruji. Beliau bekerja dengan hati dan cinta.

wah bisa disampaikan itu ke parpol NTT…siapa tahu selama ini mereka tak tahu karena tak pernah baca buku

kalo ke jakarta aku titip sopi ya

Wah Putranto, jangankan Sopi, shampo bayi aja ngga bakalan lolos sensor di JFK New York.

weh…orang jauh tho???…ya udah titip salam buat kang obama aja…bilangin kalo nanti jadi presiden jangan lupa buka lagi beasiswa buat wartawan indonesia…dan kalo bikin visa AS jangan rumit-rumit…

Saya pengagum Pak Ben Mboi dan Ibu Naf. Ketika Pak Ben dan Ibu Naf bertugas di Ende, saya sedang belajar di SMPK Ndao. Mereka memang orang hebat. Salut karena mereka ikon NTT yang bisa diteladani oleh anak-anak NTT khususnya para dokter muda. Jangan hanya mau cari uang di Jakarta. Tetapi kembali ke NTT dan mengabdi disini

mantap……..tapi entah mengapa “orang NTT keluar menjadi emas, klo pulang menjadi batu”
plis kunjung baliknya yach…….

salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: