it’s about all word’s

Good bye Adam Air

Posted on: March 16, 2008

3.000 Karyawan AdamAir menghitung hari

Bedak tipis di pipi halus Imay, pramugari maskapai penerbangan AdamAir, sedikit terkikis oleh air mata. Suara tangisnya mulai terdengar. “Bhakti tak bertanggung jawab,” ucap Imay lirih.

Kepalanya tertunduk, sedangkan tangan kanannya memegang tisu untuk mengusap air mata. Imay tak sendirian. Empat pramugari berbaju oranye lain juga tertunduk, menangis.

Di sudut lain, Capt. Daniel Aditya, pilot pesawat AdamAir, tak percaya dengan kondisi tempat di mana ia bekerja saat ini. “Sebelum Bhakti masuk, pesawat kami selalu bertambah, tapi setelah masuk malah kayak begini,” teriaknya frustasi.

Di Ruang Asean Hotel Sultan Jakarta, Jumat petang (14/3), pekan lalu, suasana haru itu terjadi. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh sejumlah fotografer dan juru kamera televisi untuk mengabadikan suasana itu.

Bhakti yang dimaksud para pramugari dan pilot AdamAir adalah PT Bhakti Investama Tbk, pemilik 50% saham AdamAir melalui PT Global Transport Services (GTS) dan PT Bright Star perkasa (BPS). Proses akuisisi Bhakti melalui kedua anak perusahaannya itu resmi dilakukan pada 12 April 2007.

Di atas kertas, pemegang saham AdamAir ada tiga perusahaan, tapi pada realitasnya hanya dua perusahaan. Keluarga Suherman menguasai sebesar 50%, sedangkan Bhakti memiliki 50%. Rinciannya, GTS memiliki 19% dan BPS menguasai 31%.

Di Ruang Asean itu, Adam Adhitya Suherman, Direktur Utama AdamAir, mengumumkan kondisi terakhir maskapai itu. Adam Adhitya selalu tampil ceria. Pria yang lahir di Cirebon, 29 Juli 1981, ini diberikan kepercayaan oleh keluarga untuk memegang kendali manajemen AdamAir.

Bungsu dari empat bersaudara ini membeberkan kondisi maskapai berwarna dominan orange itu yang tengah mengalami defisit keuangan. Ia telah merekomendasikan pemegang saham untuk menginjeksi dana segar guna menyelamatkan perusahaan.

Namun, selama pertemuan manajemen dan pemegang saham yang digelar selama sepekan, tak diperoleh keputusan pasti.

“Sampai saat ini, manajemen baru mendapatkan komitmen dari keluarga Suherman yang memiliki 50% saham perusahaan,” kata Adam Adhitya.

Bhakti mundur

Di tengah kondisi sulit itu, tiba-tiba muncul berita Bhakti akan keluar dari maskapai yang baru mengalami musibah pesawatnya tergelincir di Bandara Hang Nadim, Batam, pada 10 Maret lalu.

Direktur GTS yang juga mantan Wakil Direktur Utama dan Direktur Keuangan AdamAir Gustiono Kustianto mengatakan rencana Bhakti keluar dari AdamAir karena tak ada transparansi dan keselamatan.

“Pertimbangannya terutama tidak ada perbaikan keselamatan semenjak GTS masuk,” ujarnya.

Gustiono bahkan telah resmi menarik diri dari manajemen maskapai itu, termasuk Head of Corporate Communication AdamAir Danke Drajat yang kembali ke RCTI, salah satu televisi milik Bhakti.

Pengunduran diri Bhakti, tentu menyulitkan manajemen dalam menjawab pertanyaan 3.000 karyawan dan pihak ketiga seperti para lessor dan supplier pesawat.

Saat ini, sejumlah lessor pesawat telah menarik sejumlah pesawat yang dioperasikan AdamAir. Maskapai itu kini hanya mengoperasikan delapan pesawat Boeing 737 dari berbagai seri, dari sebelumnya 23 unit pesawat.

Jumlah penerbangan AdamAir juga terus menyusut. Hasil penelusuran terakhir jumlah penerbangan menjadi tinggal 30-40 penerbangan per hari, dari sebelumnya mencapai 68 penerbangan per hari.

Kasubdit Produksi Pesawat Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) Ditjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan M. Alwi mengungkapkan tujuh unit pesawat yang dioperasikan AdamAir terancam ditarik lessor.

Beberapa perusahaan leasing pesawat, ucap Alwi, tak ingin memperpanjang sewa kontrak pesawat kepada Adam Air karena permasalahan bisnis. Di antara perusahaan leasing itu yakni GE Commercial Aviation Services (GECAS) yang menyewakan dua pesawat Boeing 737.

Selain GECAS, data Acas Database yang dirilis Flight Global, menyebutkan Aergo Capital juga memiliki lima pesawat di AdamAir, Airplanes Group tiga pesawat, Jetscape tiga ,dan CIT dengan tiga pesawat.

Aviation Capital Group juga memiliki dua pesawat, Lease Flight Investment Trust dua pesawat, AWAS satu pesawat, dan Morgan Stanley Management Services satu pesawat. “Rencana penarikan pesawat itu karena ada masalah financial,” ungkap Alwi.

Perseteruan Bhakti dengan Keluarga Suherman terjadi jauh sebelum insiden serius tergelincirnya pesawat Boeing 737-400 AdamAir di Bandara Hang Nadim, Batam, awal pekan lalu.

Sulitkan kedua pihak

Perseteruan itu terjadi saat AdamAir mengalami kesulitan keuangan selama periode low season. Akuisisi saham AdamAir oleh Bhakti melalui GTS dan BPS pada 12 April 2007, membagi porsi kepemilikan saham sama antara Keluarga Suherman dan Bhakti, 50%:50%. Rumor yang berkembang kepemilikan saham yang berimbang inilah yang menyulitkan kedua belah pihak.

Akibatnya, setiap keputusan pemegang saham harus disetujui oleh Keluarga Suherman dan Bhakti. Saat para lessor pesawat AdamAir meminta kepastian perpanjangan masa sewa pesawat, kedua belah pihak tak mencapai kata sepakat, sampai akhirnya terjadi krisis keuangan.

Namun, Gustiono yang mewakili Bhakti di AdamAir menyebutkan dua alasan utama muncurnya Bhakti, yakni transparansi dan masalah keselamatan.

Kejadian serius tergelincirnya pesawat Boeing 737-400 yang disewa dari CIT di Bandara Hang Nadim, merupakan puncak dari sikap manajemen Bhakti untuk menarik investasinya. Dalam kejadian itu beberapa penumpang mengalami cedera sedangkan roda pendaratan dilaporkan patah.

Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Tengku Burhanuddin menyayangkan kemelut yang terjadi di AdamAir. “Kami menyarankan agar maskapai penerbangan nasional berhati-hati dengan investor baru,” kata Burhanuddin.

Lantas bagaimana nasib karyawan AdamAir? Adam Adhitya berharap Bhakti menanggung separuh dari pesangon karyawan, jika perusahaan yang mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan itu setop operasi.

Gustiono menyatakan pihaknya telah menyerahkan rencana pengunduran diri GTS dan BPS dari AdamAir termasuk akibat yang timbul kepada penasihat hukumnya. “Silahkan tanyakan ke penasehat hukum kami,” kata Gustiono.

Jadi, Imay, Daniel, dan sekitar 3.000 karyawan AdamAir lainnya harus bersabar menunggu kepastian nasib mereka. Seperti judul lagu Menghitung Hari yang dilantunkan Krisdayanti, Duta AdamAir.

*Hendra Wibawa

2 Responses to "Good bye Adam Air"

hhmm.. iya, niy.. gara2 si adam air, presty hampir kesulitan. soalnya dah booking tiket jauh2 hari buat penerbangan 21-22 YK-JKT PP, eh di hari terakhir malah harus nyari tiket lain lagi…😛
g prof bgt si adam..😦

soal ga prof sih emang iya…lha si jeruk ini ternyata bermasalah dengan pajak juga tuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: