it’s about all word’s

Kembali ke susu dalam negeri

Posted on: March 26, 2008

Institut Pertanian Bogor memang luar biasa. Setelah mencetak presiden bergelar doktor, beberapa waktu lalu, dipicu pemberitaan media, berhasil menghebohkan dengan merilis temuan tentang susu dan makanan yang beredar mengandung bakteri enterobacter sakazakii.

Sontak temuan Peneliti Fakultas Kedokteran Hewan IPB menuai kehebohan dan beragam tanggapan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Departemen Pertanian (Deptan), dan Departemen Kesehatan (Depkes) sibuk berpendapat.

Beberapa memang menentramkan masyarakat sebagai konsumen, beberapa lagi terkesan asal bunyi memperkeruh suasana. Akibatnya masyarakat sebagai konsumen kebingungan. Mana yang benar dan mana yang harus didengar.

Padahal jika dilihat lebih teliti, sebetulnya tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam temuan tersebut. Apalagi tim IPB hanya menelisik 22 sampel susu formula dan 15 makanan bayi.

Tenangkah masyarakat? Belum. Karena justru muncul informasi simpang siur. Jika dsebelumnya disebutkan produk yang tercemar adalah susu dan makanan yang dipasarkan antara April – Juni 2006, belakang justru muncul kabar penelitian itu dilakukan lima tahun lalu. Mana yang benar?

Beberapa komponen masyarakat terutama kalangan ibu memilih bertindak cepat. Kalau susu formula yang harganya semakin melangit itu berisi bakteri, kenapa tidak memakai susu kedelai? Pikiran jenial ini sempat mengemuka.

Begitu pentingkah susu? Tentu saja. Mau bagaimana lagi, sejak jargon kuliner ‘empat sehat lima sempurna’ dipopulerkan Orde Baru. Melalui program tersebut masyarakat diarahkan agar tak asal kenyang.

Sayang kebiasaan minum susu justru tak diarahkan kepada konsumsi susu segar. Alias susu yang diperas dari sapi yang makan rumput dalam negeri. Kebiasaan minum susu justru bergulir ke arah konsumsi susu formula yang diproduksi dari susu impor.

Alasannya klasik. Produksi susu segar dalam negeri selalu tak memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, yang juga sebetulnya masih yang terendah di Asia. Akhirnya dibuka kran impor dengan aturan-aturan yang memudahkan.

Sejak 1998, pemerintah secara sadar membandrol tarif masuk bahan baku susu 0% dan produk susu hanya 5%. Bandingkan dengan Pajak Pertambahan Nilai produk susu dalam negeri yang mencapai 15%. Masuk akal jika peternak susu dalam negeri setengah-setengah berproduksi.

Lalu kalau sudah begini bagaimana? Kita bisa contoh Jepang. Pemerintah mereka menanamkan kesadaran untuk mencintai produk susu dalam negeri yang lebih cocok dengan perut masyarakat Matahari Terbit. Mari kembali ke susu dalam negeri.

*Tajuk harian Monitor Depok edisi 3-3-08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: