it’s about all word’s

Paskah: Sudahkah kita memaknainya?

Posted on: March 26, 2008

Selamat Paskah! Ucapan ini sungguh tak tepat. Karena besok Jumat, (21/3) umat Kristiani memperingati wafat Yesus Kristus di kayu salib. Sebuah tragedi kematian yang jelas menyakitkan dari sosok yang diyakini sebagai Putra Allah.

Setelah dijual oleh salah satu muridNya, Yudas Iskariot, Yesus dicokok di Taman Getsemani ketika berdoa ditemani Petrus, Yohannes dan Yakobus, putra Yusuf si tukang kayu itu digelandang ke balaikota.

Di tempat itu, sang gubernur Pontius Pilatus yang tak menemukan kesalahan atas kriminal bernama Yesus, mengelak dari tanggung jawabnya. Desakan publik membuatnya mencari aman dan menyerahkan Yesus pada pengadilan massa.

Waktu berjalan, tiga kali murid kesayangan Yesus, Simon Petrus menyangkal gurunya. Penyangkalan. Ketakutan manusia karena luapan amarah massa. Penyangkalan diramalkan Yesus secara tepat sebelum peristiwa tersebut.

Penyaliban yang menjadi hukuman para kriminal ditimpakan. Bersama Yesus terdapat dua penjahat. Dalam teks Kitab Suci disebutkan dialog diantara ketiganya ketika di kayu salib.

Jumat pukul 12 menjadi saat ketika roh Yesus meninggalkan raganya. “Eli Eli lama sabathani,” teriaknya dengan sisa-sia tenaga terakhir. Kemudian raga manusia itu lunglai.

Namun kematian itu bukan akhir segala-galanya, seperti halnya Nabi Yunus yang ngacir dari panggilan Tuhan dan harus diperam di perut ikan besar, tiga hari sesudahnya jazad Yesus tak ditemukan dalam relung kuburnya. Kebangkitan yang merupakan penyangkalan dari kematian.

Juergen Moltmann, seorang teolog dari Tuebingen, Jerman, mengenang Paskah sebagai ujud kematian bukanlah hanya kenyataan pada akhir hidup kita.

Saat ini kematian berada dekat di tengah kita. Beban hidup semakin berat membuat kematian terasa dekat. Untuk urusan perut saja di Depok Raya saja, saat ini sudah 500-an balita yang siap meregang nyawa karena kekurangan asupan gizi.

Belum lagi kematian politis bagi rakyat yang dipinggirkan. Kematian sosial bagi rakyat miskin yang harus berkali-kali tersingkir karena alasan pembangunan.

Dalam tradisi Kristiani, Paskah dimaknai dengan melakukan masa pantang selama 40 hari. Mulai dari puasa hingga menjauhi berbagai hal yang sehari-hari bisa membuat kita keranjingan. Gelap mata. Selama 40 hari manusia diajak berkontemplasi.

Jumat ini, Yesus mati untuk manusia. Merelakan dirinya untuk dipermalukan. Sebuah pertanyaan klasik muncul. Sudah Anda kaum Kristiani meneladani sikap Yesus? Mampukah Anda berkorban demi sebuah kebenaran di tengah himpitan arus besar massa dan tidak memilih melakukan penyangkalan?

Jika Anda berkata YA! Meski lirih. Anda tak sendirian. Harian ini dengan tegas akan terus menjalankan tanggung jawab mengetuk-ngetuk pintu kebenaran.

*Tajuk Monitor Depok 19-3-08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: