it’s about all word’s

10 tahun reformasi: sampai dimana kita

Posted on: March 27, 2008

Peringatan 10 tahun reformasi Indonesia masih dua bulan lagi. Pengunduran diri Soeharto secara resmi pada 21 Mei 1998 dianggap sebagai tonggak kemenangan gerakan reformasi.

Meski banyak kekurangan di sana, sini dan situ. Supremasi sipil makin menguat. Keterbukaan menjadi hal lumrah setelah dikekang rezim militeristik Orde Baru selama 32 tahun.

Yang mengagetkan, jiran kita Myanmar, menurut utusan khusus PBB, Ibrahim Gambari dalam wawancara dengan surat kabar terbitan Singapura, Straits Times menjadikan Republik ini sebagai contoh supremasi sipil tersebut.

Menurut pria berkulit legam itu junta Myanmar mencari model peralihan dari militer ke kekuasaan sipil dan demokrasi di Asia Tenggara. Dan itu adalah Indonesia.

Uniknya, pengalaman politik Indonesia yang jadi contoh model itu justru peralihan ke kekuasaan sipil rancangan Jenderal Soeharto di tahun 1968 alias masa dimulainya rezim Orde Baru.

Ketika itu Soeharto sebagai mandataris MPRS mengejawantahkan model dwi fungsi militer yang digagas Jenderal Nasution. Konsep yang sebetulnya justru dihujat karena militer selama Orba represif dan eksesif.

Bagaimana tidak galak melindungi Orba jika para purnawirawan, ketika di bawah kekuasaan Soeharto, dipastikan mendapat kursi di parlemen sedangkan para perwira mendapat jabatan di pemerintahan.

Secara jelas Gambari mengatakan Myanmar yang diperintah militer sedang meniru langkah rezim Orba. Satu babakan kelam sejarah bangsa ini yang ternyata dimaknai menginspirasi oleh jiran kita itu dan akan diterapkan pada tahun 2010.

Bisa jadi Myanmar atau juga jiran-jiran Indonesia yang lain seperti Singapura dan Malaysia jeri melihat terjalnya langkah reformasi di Nusantara yang multi etnik, agama, budaya dan berpulau-pulau ini.

Enam tuntutan reformasi Indonesia memang berat a.l. penegakan supremasi hukum, pemberantasan KKN, pengadilan mantan Presiden Soeharto dan kroninya, amandemen konstitusi, pencabutan dwifungsi TNI/Polri serta pemberian otonomi daerah seluas- luasnya.

Beberapa memang telah terealisasi. Beberapa sayup terdengar dan jadi drama komedi, beberapa lagi malah menelan korban jiwa karena konflik kepentingan raja-raja kecil sipil.

Harian ini dengan tegas mengajak Anda bersama terus mengawasi reformasi Indonesia. Dalam waktu dekat Depok Raya akan menjadi bagian dari perebutan politik lokal sebelum melangkah pada Pemilu Nasional 2009.

Mari mengawasi reformasi negeri ini. Agar hari esok lebih baik dari hari ini.

*Tajuk Monitor Depok 28-3-08

7 Responses to "10 tahun reformasi: sampai dimana kita"

Putranto, untuk menelaah keberhasilan reformasi, perlu dibuat paralel komperative masa sebelum dan setelah reformasi terhadap kesejahteraan, keamanan dan pelayanan umum untuk rakyat jelata. Siapa saja kaptennya, kesejahteraan rakyat tetap menjadi tolok ukur. Demokrasi kita di Indonesia masih memerlukan tangan besi untuk mengatur, kalau tidak kita akan kehilangan arah dan tenggelam dibawah penguasaan China secara ekonomi. Menyedihkan, negara agraris, tetapi bahan pangan seperti beras, Kedelai dan buah2an import. Kalau mau survive tidak usah muluk-muluk cari dukungan partai, subsidikan pupuk (free) untuk petani cukup 1 musim tanam; intensive ini akan menggairahkan petani, ketimbang gelembungkan kantong korupsi bulog melalui import. Salam!!

sebetulnya ya ga bisa gitu juga kakak…etnis tionghoa juga tak kalah nasionalisnya kok…

soal subsidi ini sebetulnya juga kesalahan kita…membiasakan masyarakat dengan harga murah…akibatnya margin yg diterima petani sangat-sangat tipis…ya hasilnya petani enggan bertanam…

tambah lagi…pemimpin kita yg nangkring itu kok menurut saya bukan pemimpin yang menginspirasi…ngomong hidup sederhana…nyatanya penampilannya mewah…lalu dimana letak moralnya

yah reformasi memang masih panjang

Algooth, yang saya maksudkan produk Cina bukan etnis Cina.Jarum sampai pesawat diimport dari Cina. Subsidi pupuk lebih konstruktif dibanding BTL. Harga pupuk ditingkat petani mahal karena beban distribusi yang berbelit ditimpakan ke end user.Urea dkk itu by product petroleum. Kalau sarinya sudah menambah pundi2 pemerintah, ya mbo ampasnya jangan dijual mahal. Salam!!

wah sori…ga nyambung saya…oh ya bener tuh…

maaf ni mas aku newbe banget dalam hal politik n demokrasi tp aku mo nyumbang pemikiran aja..itung amal..hehe..
mungkin kalo kita buat paralel komparatif antara kehidupan sebelum reformasi n setelah reformasi tedapat ketimpangan derajat kesejahteraan tapi berbeda halnya dahulu sekarang meskipun orang hanya makan sekali sehari tetapi rasa haus dan dahaga akan sebuah pemikiran tercukupi karena iklim demokrasi yang tidak membelenggu daya fikir dan kreatifitas dan saya rasa itu cukup membuat hidup bahagia,dan ketika berbicara mengenai kesejahteraan,mari kita tarik benang merahnya dimana stiap orang harus berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sehingga dia akan bekerja,dan kerjaan yang dilandasi daya fikir kreatif akan menghasilkan nilai lebih yang akan menguntungkan perusahaan side efeknya perusaan akan memberikan insentif lebih sehingga pekerja memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya,jd meskipun keadaan setelah 10 tahun reformasi terasa lbih sulit setidaknya kebebasan untuk berfikir dan menjadi lbih cerdas terbuka selebar2nya,kita mesti ingat bahwa setiap perubahan ada konsekwensinya,,ini adalah sebuah pilihan,ini adalah jalan kita sebagai bangsa indonesia dan para kaum muda untuk bangkit dan mulai berfikir kemana arah bangsa ini akan dibawa,masa lalu hanya menimbulkan keraguraguan dalam derap langkah sang pejuang…
salam pergerakan…
salam revolusi…

hehehehe…ludwig feuerbach berkata ‘tuhan’ hanyalah proyeksi buatan manusia. lalu dikaji Marx dan timbul pertanyaan ‘kenapa pula manusia mesti bikin proyeksi?

setelah lama berpikir hingga tumbuh jenggot…Marx berkesimpulan bahwa manusia melakukan proyeksi karena ada keterasingan dalam dirinya.

manusia merasakan keterasingan, kekosongan, kebutuhan aktualisasi diri tak terpenuhi. Mungkin dia tidak menyukai pekerjaannya. mungkin juga dia tidak sanggup menghadapi realitas.

di masa orla dan orba…sukarno dan suharto mampu menciptakan tuhan dan setan bagi masyarakat.

kalo Sukarno dengan revolusi vs bahaya nekolim sementara suharto pembangunan vs bahaya komunis…

nah sekarang apa? kita bingung dan gamang….generasi muda pun tak kalah bingungnya…yg mantan aktivis pun kelabakan…setelah melawan tiran dituntut urusan perut…

siapa yang harus mengembalikan semua itu ke jalan yg benar? lagi-lagi anak muda.

salam

Ya. 10 tahun mestinya bisa dilihat lebih jernih, termasuk apa yang tak pernah terbayangkan dulu.

Kurang dari tiga tahun setelah Mei 1998, ada September 11, 2001 attacks diikuti kampanye global perang anti-terirorisme, bahkan setahun kemudian, terjadi Bali bombings pada 12 October 2002, dan terrorist suicide bomb attacks October 1, 2005.

Meski dampaknya terhadap proses reformasi di Indonesia sangat merusak, sejauh ini tampaknya belum muncul kesadaran di kalangan mahasiswa mengenai bahaya dari fenomen global dari kekerasan berkedok agama.

Malam ini ada debat di TV mengenai 100 Tahun Kebangkitan Nasional, yang akan bicara Amin Rais, Habibie, Kwik Kian Gie, dan Yusuf Kala.

Ok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: