it’s about all word’s

70 years old Kris Biantoro

Posted on: April 4, 2008

“Artis punya tanggung jawab pada masyarakat”

Salah satu acara yang digelar pembawa acara dan penyanyi senior Kris Biantoro untuk merayakan hari ulang tahunnya yang ke-70 tahun ini adalah menyelenggarakan kirab sepeda onthel dari Tugu Monas menuju Gedung Perumusan Naskah Proklamasi, Jl. Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat pada 29 Maret lalu.

Dengan menumpang mobil kuno bak terbuka, pria kelahiran 17 Maret 1938 ini “dikawal” 200 orang pengendara sepeda onthel. Dalam balutan seragam tentara PETA warna hijau lengkap dengan samurai, Christoporus Soebiantoro tampak segar dan ceria.

Namun karena pertimbangan usia hari itu, Kris tidak mengendarai sepeda siang itu. Meski urusan bersepeda bukan pengalaman baru atau aneh baginya.

Justru pengalamannya dalam genjot-menggenjot sepeda terbilang luar biasa. Dulu kris harus melahap 90 kilometer setiap hari dengan sepeda selama tiga tahun?

Suami dari Maria Nguyem Kim Dung ini asli Magelang. Lahir di kaki Gunung Merbabu, Karesidenan Kedu, Jateng. Usai SMP dia sekolah di SMA de Britto, Yogyakarta yang jaraknya sekitar 45 kilometer dari rumahnya.

Sebenarnya, jika ingin bersekolah di Yogyakarta, maka yang paling ideal bagi Kris adalah ngekos di kota pelajar itu. Tapi itu mustahil. Ekonomi keluarganya tak memungkinkan.

Maklum Kris adalah anak urutan kedelapan dari sebelas bersaudara pasangan Warsidi Sastrowiardjo dan Soekarsih. Saudaranya tentu juga butuh biaya, ditambah lagi saat itu perekonomian negara morat-marit. Jalan satu-satunya ya pergi-pulang Magelang-Jogja.

Uniknya, perjalanan sepanjang 90 kilometer nan melelahkan itu sukses ditundukkan selama tiga tahun hanya dengan sebuah “sepeda perempuan.” Hujan dan panas bukan halangan.

Tiap pagi Kris harus berangkat dari rumah tepat pukul 04.00 sehingga bisa tiba di sekolah tepat pada waktunya.

“Telat sedikit saja berangkatnya saya pasti lambat masuk kelas sebab jalur kereta api di Jl. Malioboro tertutup selama 15 menit karena ada kereta yang lewat.” Itu artinya dia harus siap dihukum. Jika sering telat bisa tinggal kelas.

Lihat setan ingat guru

Suatu pagi ketika hendak melewati jalan di depan Seminari Mertoyudan, Magelang, dari kejauhan secara samar-samar dia melihat “sosok” hitam tinggi-besar mirip genderuwo.

Sosok itu bikin dia merinding. Dia pun berhenti dan berencana menunggu hari agak terang baru meneruskan perjalanan. Tapi itu berarti dia akan terlambat sampai di sekolah.

Tapi dia kemudian ingat. Jika telat Kris bakal berhadapan dengan sosok bruder, guru bahasa Prancis di sekolahnya. Sang bruder bule itu terkenal galak.

Ajaib. Ketakutannya pada sang guru mengalahkan ketakutan Kris pada genderuwo.
Dia pun segera mengayuh cepat dengan sepedanya. Sorenya ketika pulang, dia baru sadar sosok yang dia kira genderuwo itu hanya “kepang”, yang dibuat dari anyaman bambu untuk menjemur tembakau.

KPK tak datang

Kirab sepeda tersebut hanya merupakan salah satu mata acara pada pagi hingga sore itu . Acara lain yang disuguhkan adalah sarasehan kebangsaan bertajuk ‘Napak Tilas Perjalanan Musik Indonesia’ dan peluncuran “Album Emas Kris Biantoro.” Album itu penghormatannya kepada para pencipta lagu Indonesia.

“Saya ingin penyanyi saat ini juga mengerti sejarah musik Indonesia dan sekaligus upaya memperkenalkan sejarah musik Indonesia pada generasi muda saat ini,” ujar pria dengan prinsip O Kuni No Tame Ni – Semangat, Demi Tanah Air itu.

Filosofi ini membakarnya untuk terus berjuang pantang menyerah menembus segala tantangan hidup:

“Kerasnya zaman penjajahan, kekejaman perang, kesulitan ekonomi dalam melanjutkan pendidikan dan bertahan hidup di negeri orang hingga penghinaan, prasangka, dan perlakuan tidak adil yang silih berganti dialaminya. Semua ini tidak menyurutkan pengabdiannya kepada Tanah Air,” prinsipnya

Kris mengaku sangat prihatin melihat para pencipta lagu seperti Ismail Marzuki, Bing Slamet, dan Soetedjo yang pernah menghasilkan lagu dan lirik yang sangat indah ternyata dilupakan.

Untuk itu, Kris lantas menyanyikan kembali lagu mereka sebagai bentuk perhatian dan penghormatan.

“Bangsa ini tercipta karena ada mata rantai sejarah yang tidak boleh putus, segala sesuatunya pasti ada sejarahnya. Demikian pula saya tidak mau melupakan jasa besar dari para pencipta lagu yang mulai dilupakan itu. Saya bisa seperti sekarang karena mereka,” ujar pemilik album Mungkinkah dan Juwita Malam ini.

Berkat bernyanyi pula nama Kris dikenal dan populer. Semasa bersekolah di SMA de Britto, dia mulai menancapkan cita-cita sebagai penyanyi.

Kris pun pernah membintangi beberapa film, diantaranya Laki-laki pilihan (1973), Jagoan tengik (1974), Akulah Vivian (1977), dan Kuda-kuda binal (1978).

Kini setelah 40 tahun menjadi macan panggung, ada kegelisahan. Menjadi artis tidak hanya sekadar menyanyi atau mahir tampil di atas panggung. Artis juga memiliki tanggung jawab untuk memberi contoh positif pada masyarakat dan tidak terjebak dalam kehidupan hedonis seperti yang sering muncul di televisi.

“Celakanya banyak artis yang tidak peduli lagi pada sejarah, terutama sejarah musik Indonesia. Kalau menyanyi ya menyanyi saja, tidak mengerti bagaimana lagu itu diciptakan, tidak menghayati dan tidak tahu siapa yang menciptakan lagunya,” kata Kris.

Sebagai bentuk perhatiannya kepada para pencipta lagu tersebut, Kris yang kini tinggal di di rumah yang asri di pinggir danau di kawasan Cibubur juga mengundang keluarga para pencipta lagu untuk merayakan ulang tahunnya.

Apakah Kris lantas menyalahkan kaum muda? “Saya tidak menyalahkan kaum muda. Kalau saya muda pada zaman ini, saya akan begitu juga. Itu artinya ada salah urus terhadap bangsa dan generasinya,” ungkapnya.

Pria dengan “motto professional” I need money but I am not for sale” ini menghadiahi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Dephan dengan CD “Kris Biantoro 70th”.

Terutama melalui lagu berjudul “I.I.I” Kris ingin ikut berkampanye anti korupsi. “Mari Bung, kembali ke jalan yang suci. Jangan korupsi!” begitu antara lain syair lagu “I.I.I” ciptaan Soetedjo itu.

Sayang pejabat KPK yang menyatakan ingin hadir justru mangkir. “Saya tidak tahu alasan ketidakhadiran orang KPK, padahal dua hari sebelumnya sambil peluk-peluk saya di KPK mereka katakan mau hadir…..,” ungkap Kris kecewa. (Algooth Putranto/Dodi Esvandi)

Nama lengkap : Christophorus Soebiantoro
Profesi : Aktor; Penyanyi; Pencipta Lagu
Tempat /Tgl Lahir : Kedu, Jawa Tengah / 17 Maret 1938
Pendidikan ((semuanya tak selesai) :
– ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia)
– Fak. Sospol Universitas Jayabaya
– The Sydney Conservatory of Music, Australia
Istri : Maria Nguyen Kim Dung
Anak : Invianto dan Ceasefiarto
Menantu : Henny dan Adelina
Cucu : Iyo dan Rafa
Karya :
– Laki-laki pilihan (1973)
– Jagoan tengik (1974)
– Akulah Vivian (1977)
– Kuda-kuda binal (1978)
Diskografi :
– Mungkinkah
– Jangan Ditanya kemana kau pergi
– Angela
– Juwita Malam
– Answer me oh My love
– The Impossible dream
Filmografi :
– Si manis jembatan Ancol (1973)
– Kuda kuda binal (1978)
– Paul Sontoloyo (1974)
– Akulah Vivian (1977)
– Atheis (1974)
– Pilih Menantu (1974)
– Kuntianak (1974)
– Bulan diatas kuburan (1973)
– Bajingan tengik (1974)
– Bawang putih (1974)
– Last Tanggo in Jakarta (1973)
– Tiga sekawan (1975)
Buku : Manisnya Ditolak (cetak pertama November 2004)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: