it’s about all word’s

‘Gosip Jalanan’ yang berujung penangkapan

Posted on: April 10, 2008

Bukan Slank kalau tak bikin sosok mapan kena sentil. Band lanjutan dari proyek anak-anak Gang Potlot dengan Cikini Stone Complex (CSC) itu lagi-lagi jadi berita setelah Badan Kehormatan (BK) DPR merasa terhina.

Gara-garanya Slank yang digandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kampanye pemberantasan korupsi mendendangkan beberapa tembang termasuk Gosip Jalanan di Lobi Utama Gedung KPK, 3 April lalu.

Ketua BK DPR, Irsyad Sudiro dan wakilnya, Gayus Lumbuun merasa terhina dengan lirik tembang dalam album Plur yang dirilis empat tahun lalu. Maklum dalam liriknya lugas disebut ‘mau tau gak mafia di senayan, Kerjanya tukang buat peraturan, Bikin UUD ujung-ujungnya duit.’

Karena tersinggung, Gayus bahkan berencana melaporkan Slank kepada aparat penegak hukum termasuk meminta pertimbangan hukum kepada komisi III DPR. Kita tentu harus memuji gerak cepat DPR dalam bertindak dan merespon hal yang disebut hinaan tersebut.

Media ini memahami ketersinggungan DPR. Kita tentu tahu DPR adalah represntasi sosok rakyat yang mulia. Bekerja keras demi kelancaran negeri ini. Dengan tanggung jawab yang sedemikian besar, bayaran mereka sangat tak seimbang.

Anggota DPR pun selalu rajin menghadiri sidang. Tak pernah mangkir apalagi sekedar titip absen. Jika sudah membahas suatu aturan pun mereka bekerja penuh perhatian. Tak pernah tidur atau pun sekadar manggut-manggut setuju.

Anggota DPR pun tak pernah pandang bulu dalam menerapkan aturan. Lihat saja calon-calon Gubernur Bank Indonesia yang diajukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditolak semuanya.

Para wakil rakyat itu pun tak kurang rajinnya beribadah dan bersedekah. Tak pernah jalan-jalan dengan uang saku meminta kiri dan kanan. Suap tentu saja adalah dosa tak terampunkan.

Alhasil tudingan Slank yang suka mendendangkan sesuatu dengan lirik tak sesuai kaidah Ejaan Yang Disempurnakan EYD) itu adalah ekspresi yang kebablasan. Penghinaan terhadap Hak Asasi Manusia anggota DPR yang mulia.

Hanya saja media milik warga Depok Raya ini juga punya banyak catatan yang bertolak belakang dengan citra ideal DPR tersebut. Tak hanya senang membolos dan tidur di ruang sidang, anggota DPR selain gemar tamasya ke luar negeri dengan alasan ajaib pun suka mengeluarkan keputusan, Peraturan Pemerintah atau Undang-Undang yang tak kalah ajaibnya.

Sebut saja kasus lumpur Lapindo Sidoarjo yang justru membuat kocek negara ini tergangsir, PP 2/2008 yang membuat hutan Indonesia semurah tempe goreng atau yang paling seru tentu saja tertangkap tangannya Komisi IV DPR RI, Al Amin Nur Nasution dicokok KPK karena tertangkap tangan menerima suap senilai Rp71 juta dari Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Azirwan.

Untung saja suami pedangdut Kristina itu tak harus digelandang bak maling ayam. Al Amin masih diperlakukan mulia laiknya anggota DPR yang lain ketika terkena kasus dan berharap publik perlahan lupa.

Agar penyakit mudah lupa itu tak timbul, media ini siap terus menjalankan fungsi sebagai kertas pengingat bagi Anda.

*Tajuk Monitor Depok 11/4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: