it’s about all word’s

Di bawah ancaman resesi ekonomi nasional

Posted on: April 10, 2008

Tahun ini sungguh bersejarah. 100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi. Namun cita-cita menuju bangsa yang makmur sejahtera nampaknya masih harus dipertanyakan lagi.

Libasan badai krisis moneter yang telah memporak porandakan bangsa ini 10 tahun silam kini mulai kembali mengancam dengan gaya yang masih sama. Pangkalnya masih Amerika Serikat yang jadi biang kerok.

Kali ini gara-gara kredit perumahan yang mengguncang bursa dunia. Tak hanya menyebabkan pemecatan ribuan tenaga kerja di AS, ancaman resesi pun mengancam dunia.

Kontribusi perekonomian AS terhadap perekonomian dunia yang mencapai 28% tentu saja terasa bagi dunia. Akibatnya perlambatan perekonomian AS mulai menyeret perekonomian dunia.

China sebagai kekuatan ekonomi baru ternyata belum cukup kokoh karena pangsa produk domestik bruto (PDB) mereka baru mencapai 5% dari perekonomian dunia. Kondisi ini diperparah oleh peningkatan harga minyak dunia.

Seretnya ekonomi dunia tentu saja berimbas pada laju ekonomi Indonesia. Penurunan gairah ekonomi dunia membuat nilai ekspor Indonesia jelas anjlok karena pembeli berkurang.

Padahal di Indonesia cukup banyak industri padat karya berorientasi ekspor. Bisa dibayangkan bagaimana beban modal dan moral industriawan kita. Serba sulit untuk bertahan.

Sementara harga BBM dunia yang tak kunjung turun jelas tak bisa serta merta diimbangi dengan peningkatan harga. Akibatnya subsidi harus ditambah. Program konversi yang dicanangkan pun kurang lancar.

Masih segar dalam ingatan kita program pembatasan BBM di Bali ternyata justru membuat Pulau Dewata itu dipenuhi kendaraan mogok karena kehabisan BBM. Bukan tidak mungkin itu terjadi di Depok Raya.

Masyarakat tentu saja hanya bisa berharap ada tambahan subsidi pada pemerintah. Pemerintah pun pusing karena melihat beban fiskal yang semakin menggelembung karena subsidi.

Diperkirakan beban subsidi harga minyak, listrik, dan pangan jika terus ditambah bisa mencapai Rp250 triliun. Angka fantastis yang bisa membahayakan stabilitas makroekonomi dan kesinambungan pembangunan ekonomi.

Kondisi ini akan semakin repot karena saat ini di beberapa daerah, termasuk di Jawa Barat, sedang menggelar pesta demokrasi lokal. Jika tidak hati-hati akan banyak obral janji politik yang populis.

Akibatnya akan banyak alokasi anggaran ke hal-hal yang tidak produktif. Dalam tataran Depok Raya pun terlihat besarnya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) yang mencapai Rp187 miliar dalam neraca tahunan Kota Depok

Media ini berharap dana itu tidak menjadi dana talangan program populis menjelang Pemilu 2009 untuk memenangkan partai politik tertentu tapi bisa menjadi dana siaga ketika resesi ekonomi menyambar Depok Raya dan membangkrutkan ekonomi masyarakat.

*Tajuk Monitor Depok 10/4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: