it’s about all word’s

Potret kemiskinan di Cilangkap-Depok

Posted on: April 16, 2008

Di bawah pedar cahaya lampu kaleng

Embun pagi belum menguap. Ari Hidayat, putra pasangan Boin dan Anita bergegas menuju petak sawah garapan keluarganya. Bocah berusia sekitar 13 tahun yang tinggal di RT 03 RW 16 Cilangkap, Cimanggis punya jadwal membantu orang tuanya berkubang lumpur.

Ketika penat mulai tak tertahankan Ari segera pulang menuju rumah berdinding tripleknya yang hanya sepelemparan batu. Cepat Ari membasuh lumpur. Bergegas dibukanya tas sekolahnya. Beberapa buku kumal tak bersampul dikeluarkannya.

Setiap hari siswa SMP Darul Al-Mumjarah Cilangkap itu meluangkan waktu belajar di pagi hari. Maklum. Ketika pijar matahari menghilang di ufuk barat, rumahnya gelap gulita.

Seperti halnya puluhan rumah lain di wilayah itu tak dialiri listrik. Di depan rumah tak layak huni itu tak nampak untaian kabel listrik, hanya ada lilitan tali jemuran menggantung di halaman teras.

Jika Ari ingin belajar di malam hari dia harus menggunakan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah.

Malam itu ketika saya datang, Ari tengah serius mengaji. Temaram dian dari teplok bergoyang di samping kanan depan bocah itu. Asap minyak tanah mengusap langit-langit. Ari tak peduli. Jangkrik bernyanyi menemaninya.

Di sudut pojok rumahnya terlihat deretan kaleng bekas susu dilengkapi sumbu dari kain yang dibuat dengan tangan mereka sendiri.

Ari merupakan anak pertama dari pasangan Boin dan Anita. Seumur hidupnya tak pernah merasakan akan keindahan gemerlapnya cahaya pada malam hari, hanya pancaran sinar coklat dari lampu kaleng yang menemaninya.

Ayah Ari, Boin sebetulnya sudah menganjurkan kepada anak sulungnya itu untuk selalu belajar di siang hari. “Kalau malam hari dia tidak diperbolehkan [belajar] karena ruang yang gelap, dan bisa menggangu kesehatan mata.“

Ari patuh pada sang ayah. Untuk mengerjakan pekerjaan rumah dia selalu melakukannya pada siang hari di teras rumah berlantai tanah itu. Tak bisa di dalam karena ruang dalam rumah mereka pun gelap tak berjendela.

Nuriah bibi Ari mengaku tak mengetahui apa penyebab hingga saat ini rumah mereka tak kunjung disapa aliran listrik. Dia pernah melaporkan kasus ini mulai tingkat RT hingga RW namun pesannya hilang tertiup angin.

“Di depan rumahku ada tiang listrik namun belum beroperasi. Setiap harinya dia harus mempersiapkan 3 kaleng lampu buatan sendiri,” tutur Nuriah sembari menyorongkan segelas air putih pada saya.

Nuriah khawatir jika minyak tanah hilang dan dihapus oleh pemerintah pada bulan Mei mendatang. Ini akan jadi tantangan bagi keluarga mereka. Tiap bulan keluarga tanpa penghasilan tetap itu menghabiskan minyak tanah sedikitnya 2 liter hanya untuk lampu teplok mereka.

Setiap malam Nuriah dan keluarganya harus segera mempersiapkan tiga kaleng lampu untuk menyinari seluruh ruangan. Tiap ruangan satu lampu. Itu pun masih kurang terang.

”Boro-boro nonton tayangan televisi. Lampu saja tak punya, “ keluhnya.

Nuriah mengkhawatirkan bila nyala teplok meliar. Menyambar triplek rapuh rumah mereka. Kebakaran bisa sewatu-waktu terjadi.

Nuriah dan keluarga di petak tersebut berharap kepada instansi terkait untuk datang dan membantu mereka mengusakan aliran listrik masuk ke wilayah itu.

“Saya siap membayar rekening listrik setiap bulannya, namun masalahnya pemasangan aliran listrik kerumah kami siapa yang membiayai, “ tegasnya.

Ketua RW 03 Jubaidi mengatakan warga yang tidak mendapatkan aliran pasokan listrik umumnya tinggal di sekitar Ujung Setu Cilangkap. Listrik tak masuk karena mereka tak memiliki biaya untuk pemasangan listrik.

Untuk pemasangan listrik dibutuhkan tiang listrik berjumlah sekitar 11 buah dengan alokasi dana sekitar Rp50 juta termasuk instalasi kabel.

Lurah Cilangkap Zainal Kopli yang baru menjabat sekitar sebulan menegaskan akan segera turun kelapangan dan melihat langsung warganya yang hingga kini belum mendapatkan pasokan aliran listrik.

“Kita lihat apa yang menjadi kendala bagi mereka yang belum mendapatkan listrik dan semuanya akan ditindak lanjuti dengan berkomunikasi dengan pihak PLN,” katanya.

Ketika saya melangkah pulang masih jelas jelas terngiang kata-kata Ari yang polos. “Saya sekarang sudah menginjak bangku sekolah di MTS, sejak SD hingga sekarang selalu menggunakan lampu kaleng ketika belajar di rumah.“ Tak ada listrik tak menghalangi Ari untuk belajar di rumah. (m-10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: