it’s about all word’s

Sri Sultan Hamengku Buwono X: on interview

Posted on: April 18, 2008

Negara maritim, kebhinekaan dan capres

Indonesia satu negara yang mempunyai potensi untuk menjadi negara besar. Aspek jumlah penduduk, luas wilayah, kekayaan sumberdaya alam, kebhinekaan agama, etnis dan kultur memberi peluang untuk itu.

Tapi perjalanan bangsa ini, ibarat mendaki sebuah gunung yang terjal, bahaya selalu mengancam. Lalu pertanyaannya, apa yang bisa menyelamatkan dan mengantarkan bangsa Indonesia maju dalam kemajemukan tersebut.

Bertolak dari kondisi demikian, salah satu putra terbaik negeri ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X berbagi pandangan soal kebudayaan dan kebangsaan hingga politik dan sosial ekonomi, serta harapan-harapannya terhadap sebuah perubahan untuk menuju bangsa Indonesia besar dan bermartabat.

Berikut ini petikan wawancara bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X disela acara perbincangan kebudayaan di Bandung, belum lama ini.

Bagaimana Sultan melihat kondisi ekonomi Indonesia saat ini ?
Ketika kita bicara soal ekonomi, maka yang pertama harus dilihat adalah strategi ekonomi. Indonesia mengangali krisis ekonomi yang berkepanjangan ini banyak faktornya. Tapi yang jelas harus ada perubahan guna memperbaiki kondisi perekonomian nasional yang memprihatinkan seperti saat ini. Untuk itu saya kira yang perlu ada perubahan kebijakan ekonomi untuk menyikapi situasi sulit ini.

Kebijakan ekonomi selama ini bagaimana?
Selama ini kebijakan ekonomi terlalu pada pendekatan kontinental, bukan pada kebijakan sebagai negara maritim. Letak geografis Indonesia yang berupa kepulauan kaya akan keragaman dan mengandung potensi yang besar.

Namun hal ini masih luput dari perhatian. Hal inilah yang memunculkan banyak daerah berbicara ketidakadilan antara hubungan daerah dan pusat.

Persoalan ekonomi juga harus dilihat dari konsteks otonomi daerah. Apakah sekadar sentralistik itu digugat sehingga diubah menjadi otonomi, atau memang otomoni daerah dikedepanakan sebagai strategi untuk menghadapi pasar bebas dan tantangan zaman. Jika memang otomoni sebagai strategi, maka akan menjadi satu kekuatan baru yang memberikan sumbangsih pada pertumbuhan ekonomi regional.

Lalu letak masalahnya dimana?
Masalahnya adalah hal ini tak pernah jelas dan selesai terjawab. Kita masih berkutat pada tarik ulur terkait pemahaman otonomi daerah itu sendiri. Ini persolan internal yang dihadapi saat ini. Sementara itu kondisi eksternal, dimana dunia ini makin mengglobal ke pasar bebas.

Ini berarti Pasifik range, Laut Cina Selatan dan Lautan Pasifik menjadi kekuatan baru. Di kawasan ini antarnegara dan lintas benua saling berkompentisi. Di sini ada Indonesia, Malaysia, Cina, sebagian negara Rusia dan Amerika.

Berarti apa? Pendudukan paling banyak. Berarti apa? Konsumennya juga besar. Jadi artinya apa? Uangnya pasti besar, juga teknologinya unggul. Bagaimana Indonesia apa bisa kompetitif dalam hal itu?

Menurut saya tidak ada pilihan lain, jika tak bisa berkompetisi bangsa ini hanya akan menjadi konsumen saja.

Jadi apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi Indonesia saat ini?
Ya, harus beranjak dari persoalan internal dulu. Jadi di internalnya dulu yang harus dibehi. Kebijakannya apakah akan mengarah ke maritim atau bagaimana. Karenanya akan sulit bagi pemerintah jika bicara soal peningkatan pendidikan, kesejahteraan rakyat sudah memadai, dan sebagainya bila masih menyoal apakah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini masih utuh atau tidak, padahal sudah merdeka 62 tahun. Ini kan menyedihkan.

Soal kemandirian bagi bangsa Indonesia seperti apa?
Kebudayaan tujuannya memanusiakan manusia untuk menumbuhkan peradaban dan kemandirian. Kemandirian ini bisa kita lihat juga dari konteks ekonomi, politik dan sosial dan lainnya. Meski kondisi bangsa ini memprihatinkan, tapi tidak semua hal mengalami kemiskinan.

Mengenai kemandirian ini juga perlu dipertanyakan yang seperti apa. Rakyat juga tidak diposikan menjadi objek terus, tapi sudah saatnya menjadi subjek sebab tentunya Indonesia ingin maju seperti negera lainnya.

Tapi ada syaratnya juga, bisa maju asalkan pemerintah mampu membuat skema baru pembangunan ekomomi. Salah satunya memberikan kemudahan kepada rakyat mendapatkan akses pada kredit. Bukan pengertiannya investasi itu orang bule, tapi rakyatnya sendiri susah dapat kredit. Kalaupun bisa pinjam harus pake boreh, padahal dananya itu adalah uang rakyat.

Kita juga patut diwaspadai strategi negara maju yang menjadikan negara miskin dan berkembang selalu diposisikan sebagai konsumen. Penjajahan modern tidak lagi berupa penjajahan wilayah, tetapi penjajahan hukum dan ekonomi. Hanya ada dua pilihan yang dapat dilakukan seorang pemimpin terkait penjajahan semacam ini, yakni keberpihakan atau pengabaian kepada rakyat.

Indonesia kaya akan keberagaman, bagaimana Sultan melihat Bhineka Tunggal Ika itu?

Keragaman geografis negera kepulauan Indonesia telah menghadirkan variasi ekosistem dan keragaman sistem nilai dan realitas yang hidup di tengah masayarat. Latar belakang suku-suku, telah berkembang dengan sejarah lokal yang panjang, menyajikan khasanah keragaman yang kemudian menemukan momentum penting untuk bersatu membentuk negara Indonesia.

Para perintis dan pendiri bangsa merumuskan Bhineka Tunggal Ika sebagai kata kunci membangun bangsa yang menghargai keragaman dalam membentuk mosaik satu Indonesia, tapi perwujudan kehidupan berbangsa satu Indonesia mengalami pasang surut.

Bagaimanapun Bhineka Tunggal Ika adalah sumber semangat kearifan dan kekuatan bangsa yang dapat menyadarkan bangsa ini setiap menghadapi cobaan, kemelut dan krisis, sekaligus guna merajut kembali persatuan dan kesatuan yangb telah retak, menuju ke dream land Indonesia baru yang lebih baik.

Dengan demikian Bhineka Tunggal Ika pun dapat dijadikan sebagai paradigma gerakan kebudayaan yang melandasi hidup bermasyarakat dan bernegara.

Semestinya Bineka Tunggal Ika dimanefestasikan seperti apa?

Manifestasi Bineka Tunggal Ika seharusnya terlihat pada keseimbangan hubungan dialektik antar kekuasaan pemerintah pusat dan pemerintah lokal. Karena itu, kebangsaan Indonesia yang bercirikan Bhineka Tunggal Ika bersifat inkulusif serta egalitarian dalam bidang politik budaya dan ekonomi akan dapat diwujudkan dan dipelihara secara dinamis, bila terdapat distribusi kekuasaan yang relatif seimbang di antara semua unsur bangsa pendukungnya.

Tapi kenyataan kemajemukan ini sering kai diabaikan dalam wacana politik elit negeri ini. Walaupun diakui bahwa Indonesia adalah masyarakat yang berbeda beda. Tetapi siapa pun diri kita harus selalu diingat, bahwa sesungguhnya kita adalah satu.

Artinya Bhineka Tunggal Ika hendaknya tidak dikeramatkan sebagai simbol NKRI, tetapi diaktualisasikan sebagai lantasan hidup berbangsa dan bernegara serta menjadi strategi integrasi bangsa.

Bhineka Tunggal Ika menjadi strategi integrasi bangsa, bisakah?

Bertolak dengan pandangan ini, maka kebhineka yang potensial memjadi pemicu terjadinya nation bleeding, sebaiknya didayagunakan sebagai faktor perekat nation building. Namun hasrat untuk menghadirkan fenomena indahnya kebinekaan itu secara utuh kedalam realita kehidupan bermasyarakat tidaklah gampang.

Semakin tinggi tingkat keanekaragaman dan kemajemukan masyarakat maka ekuivalen dengan tingkat kualitas kesulitan yang bakal dihadapi. Ketika terjadi proses modernisasi yang dikuti oleh mobilitas seosial dan geografis lalu diiringi meningkatnya kualitas masalah etnik.

Di sini sebagai upaya menjadikan Bhineka Tunggal Ika sebuah strategi integrasi bangsa dapat dilakukan melalui pendekatan geokultural agar setiap kelompok budaya saling menyapa dan mengenal untuk saling memberi dan menerima.

Sekaranglah saatnya kita mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa yang tidak sebatas tawar menawar politik, tetapi dengan tawaran kehidupan budaya yang lebih hangat.

Sultan sendiri memandang seperti apa nasionalisme atau kebangsaan sekarang ini?

Faktanya nasionalisme atau rasa kebangsaan sebagai simbol tradisi bangsa kian menipis. Hal itu memang wajar ketika kita dihadapkan dengan kemajuan teknologi dan informasi sehingga tak perlu ada nationalism.

Tapi faktanya lagi kebijakan pemerintah Amerika Serikat mewajibkan anak sekolah setiap pagi menghadap bendera. Artinya itu bukankah memelihara nasionalisme, sementara mereka sendiri menyarankan ke negara lain tidak perlu. Rasa kebangsaan tergerus akibat kurang kesadaran di samping adanya pengaruh luar.

Anehnya yang muncul malah semangat pemekaran wilayah di mana-mana yang lebih mengedepankan keakuan bukannya kebersamaan. Terus terang saya tidak berharap anak-cucu kita nanti membaca sejarah Indonesia yang wilayahnya kecil-kecil.

Dalam kaitan pemilu kepala daerah maupun kepala negara yang dinilai sebagian pihak tak sesuai dengan semangat Pancasila yakni musyawarah mufakat, bagaimana pandangan Sultan ?

Ini memang memunculkan pro dan kontra di masyarakat. Mengapa ada musyawarah mufakat, sebabnya ada dalam konstitusi yang mejadikan proses pemilihan kepala negara melalui mekanisme ini semasa pemerintahan Orde Baru.

Berhubung dalam perjalanannya terjadi penekanan terhadap sistem musyawarah mufakat ini, maka atas desakan berbagai pihak pula jadi berubah 180 derajat dimana proses pemilihan kepala negara dilakukan secara langsung dengan harapan bisa tercipta demokratisasi.

Dengan kata lain berarti ada proses berbangsa dan bernegara diantara pemahaman musyawarah mufakat dengan pemilihan langsung yang memiliki konteks konotasi berbeda.

Mengenai mekanisme penjaringan calon oleh parpol?

Saya punya pemikiran selama parpol tidak berubah seperti saat ini maka yang dapat adalah menejer bukan pemimpin atau leader. Seorang manajer hanyalah pelaksana tugas, bukan pembuat strategi dan perubahan.

Yang harus dipilih itu adalah pemimpin yang mampu bikin sejarah buat bangsanya. Namun saat ini sepertinya masih sulit. Lihat saja dalam penjaringan calon yang dilakukan parpol.

Yang jadi strategi mereka saat nguji calon pastinya yang ditanya soal visi dan misi, bukannya ditanya bagaimana punya solusi untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran atau penanganan korupsi. Kemudian evaluasi dan proyeksi harusnya jadi dasar klasifikasi bagi parpol dalam dialog dengan calon.

Terhadap pencalonan Sultan jadi presiden mendapat tanggapan pro maupun kontra?

Ya, itu boleh boleh saja, itukan aspirasi. Tapi masalahnya apa aspirasinya itu tulus atau sekadar untuk mengurung saya. Lobi-lobi politik kan bisa seperti itu. Semuanya kepada aspirasi rakyat.

Bagi Sultan, kekuasaan merupakan amanah yang diabdikan semata untuk kepentingan rakyat. Kekuasaan bukan untuk diperebutkan. “Kalau rakyat Indonesia memang memerlukan saya, mereka pasti mencari. Prosedurnya ya lewat partai politik.

Saat ini belum waktunya, lha wong aturannya belum selesai. Jadi jika sekarang saya mendeklarasikan atau mendatangi partai politik bisa nggak jadi calon presiden lantaran aturannya apa. Lagian belum ada pendaftaran.

Malah nanti yang lain ngomongnya, Pa Sultan selamat yah, saya doakan semoga sukses. Kan begitu nanti. Kalau cuma itu, yah percuma saja. Pada waktunya nanti partai akan mencari figur yang bakal dijagokan. Jika memang saya diharapkan pasti demikian, soalnya mekanisme mengatur seperti itu. Pencalonan masih harus lewat partai politik.

Lalu sikap Sultan seperti apa?
Ya, kita lihat nanti saja. Lihat juga undang-undangnya seperti apa. Sikap saya tidak mau diintervensi politik, tapi saya mau bersikap sendiri. Jadi terserah mau masyarakat apa. Jika rakyat Indonesia memerlukan saya, maka partai politik akan mencari. Ini bagi saya adalah ajaran leluhur. Tapi bagaimanapun juga mekanisme masih lewat parpol dimana kekuasaan akhirnya diperebutkan.

Belum tuntasnya pembasan UU yang mengatur Daerah Istimewa Yogyakarta apa impilikasinya?
Dalam pasal 18 UUD 45 dijelaskan bahwa daerah yang berstatus khusus atau istimewa harus diatur dengan UU tesendiri. Hal itu sudah dilakukan untuk Aceh, DKI Jakarta dan Papua. Dengan demikian berarti Yogyakarta juga harus diselesaikan.

Jadi kewajiban pemerintah pusat saat ini adalah menyelesaikannya, yang harapannya bisa digunakan pada saat masa jabatan saya habis. Saya tahu tidak ada UU yang mengatur kalau Gubernur DIY terus menerus menjabat sebagai sultan. Saya sudah menjabat dua periode dan akan habis pada 2008. Inikan masalah juga.
*pewawancara Dadan M Ramdan

5 Responses to "Sri Sultan Hamengku Buwono X: on interview"

memangnya kalo Sultan jd presiden apa Sultan berani mengusut harta Pak Harto dan kasus HAM? setau saya Sultan dan keluarganya juga antek cendana. dulu2 apa tidak terima duit dr pak harto

jgn deh Sultan jd presiden hidup tenang aja di istana anda toh duit udah banyak, dipimpin Sultan dan leluhurnya toh jogja juga tetep saja begitu tidak maju2 malah rakyatnya hobi hal2 klenik. hal2 klenik kok dikatakan budaya spt orang ga beriman aja

satu lagi orang aneh mau jd presiden.

nampaknya mas iwan memang belum mengenal sosok pak Sultan… saya bukan orang Jawa, tapi saya sempat kuliah di Jawa… beda sekali auranya… di jogja, saya merasakan modernitas dan entitas budaya berjalan bergandengan… intinya bukan sekadar materi tapi realita hidup yang harus dijalani… sekadar pengetahuan sejarah saja, Soeharto tidak pernah memperhatikan jogja pasca mundurnya hamengkubuwono sebagai wakil presiden RI… jogja membangun dirinya sendiri tanpa bantuan cendana yang lebih mengutamakan leluhurnya di Solo, padahal semua aset milik pemerintah di jogja seperti istana negara sebenarnya milik kraton yang sampai sekarang tidak pernah dikembalikan,,, bayar uang sewa saja tidak… tapi apa orang jogja kesal? tidak… hamengkubuwono bahkan hanya berkata… saya cukup memimpin jogja, tapi jogja tetap mengabdikan dirinya kapada republik apapun yang terjadi…
bukannya saya mau membela pak Sultan, tapi dibanding politisi busuk lainnya? yang hanya menjadi banci kamera?… keistimewaan jogja yang terkatung-katung toh tetap tidak membuat sultan marah… beliau bilang tidak mau jadi gubernur lagi… jelas karena selama ini beliau hanya dimanfaatkan oleh pemerintah pusat yang diisi politisi busuk itu.

SULTAN JOGJA SANGAT BERBEDA DENGAN SEMUA POLITISI INDONESIA SAAT INI. KEMUNCULAN BELIAU MEMANG BANYAK YANG MENUNGGU. KINI SAAT NYA PERUBAHAN AKAN TERJADI ATAU RAKYAT LEBIH MEMILIH TEROMBANG-AMBING PADA KEPENTINGAN GOLONGAN PARA POLITISI LAMA YANG BUSUK? SAYA AKAN MULAI BERGERAK MENGGALANG DUKUNGAN UNTUK SULTAN DARI SELURUH NEGERI. MARI KITA BIKIN RIBUAN BLOG BUAT DUKUNG SULTAN DI INTERNET! BANGKITLAH INDONESIA!

ketika diundang ngupi dan nge-teh di rumah beliau, saya yg tak sabar mendengar pertanyaan basa-basi senior bertanya:

“Pak sultan trus kendaraan pulitik Sultan apa? trus soal dana kampanye gimana? maap ya pak sultan saya sudah kurang ajar”

sambil tersenyum dia menjawab: kalau memang saya ditunjuk rakyat pasti ada jalannya!

percaya atau tidak. saya berharap itu benar. Nderek Ngarso Dalem!!!

yah moga2 aja kali ini rakyat bisa dapat pemimpin yg baik. lah tapi bukankah di masa lalu Sultan juga ga berani protes ttg nasib rakyat pada pemerintah orba, dia diem aja, malah gus dur yg berani face 2 face………napa dulu bersikap takut? kalo emang peduli ya dari dulu2

http://justbedroom.com

http;//OnlyOption.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: